IPB CH3, Cabai Merah Besar Nan Pedas, Mampu Hasilkan 15 Ton Per Hektar

1172
Cabai hibrida IPB CH3 diprediksi dapat menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia, yakni cabai merah besar tapi pedas | Foto : Agritani

PROGRES.ID, BOGOR – Sebagai salah satu komoditas yang sangat populer di masyarakat Indonesia, fluktuasi harga cabai seringkali menjadi permasalahan yang berulang setiap tahun. Masyarakat hanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu cabai kecil yang pedas atau cabai besar tapi kurang pedas.

Bagaimana jika ada pilihan ketiga yang menggabungkan sifat unggul dari keduanya, yaitu cabai merah besar dengan rasa yang sangat pedas? Mantap bukan ?

Saat ini telah dirilis, cabai merah besar dengan nama IPB CH3 atau Capsicum Annuum. Cabai merah besar ini merupakan jenis cabai hibrida varietas unggul yang diharapkan akan membantu menstabilkan ketersediaan pasokan cabai, yang selanjutnya berimbas pada kestabilan harga.

“Jadi, cabai ini menggabungkan sifat-sifat dari cabai kecil yang rasanya pedas dan cabai besar yang rasanya kurang pedas,” Ujar Dr M Syukur, dosen dari Departemen Agronomi dan Holtikutura IPB,

Dikutip dari Kontan (20/1/2017), cabai hibrida IPB CH3 ini diprediksi dapat menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia, yakni cabai merah besar tapi pedas. Dengan kadar capsaicin sebesar 377,66 ppm, cabai ini dinilai memiliki tingkat kepedasan yang tinggi. Rasa pedasnya dua kali lipat dari cabai besar merah biasa. Berdasarkan standar SNI, cabai ini memiliki bobot, panjang, dan diameter Kelas Mutu I.

Bersama empat koleganya, Prof Dr Sriani Sujiprihati, Dr Rahmi, Dr Widodo dan Dr Hendrastuti, Dr. M. Syukur telah melakukan penelitian tumbuhan cabai sejak tahun 2003. Sebenarnya, ada 11 jenis cabai ungulan temuan tim tersebut, tapi baru empat jenis dalam proses izin rilis ke publik dari pemerintah. Sementara yang sudah mendapat izin resmi dirilis baru satu jenis, yakni IPB CH 3,

Menurut Syukur, keunggulan lainnya cabai hibrida IPB CH3 ini memiliki umur panen lebih cepat yakni kurang dari tiga bulan. Selain itu, produktivitas IPB CH3 juga tergolong tinggi, panjang buahnya sekitar 14 cm sampai 17 cm, serta mampu menghasilkan 1,11 kg per tanaman atau sekitar 15 ton per hektar.

“Biasanya cabai ini akan panen umur 70 hari setelah tanam,” Imbuhnya.

Lebih lanjut, menurut dosen yang pernah meraih Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2012 ini, cabai IPB CH3 sangat adaptif dengan lingkungan optimum dan cocok dibudidayakan di Indonesia. Ini karena IPB CH3 merupakan hasil persilangan dari genotipe lokal cabai Indonesia.

Selain berpotensi digunakan pada industri makanan yang menggunakan bahan baku cabai, cabai ini juga dapat diaplikasikan pada perusahaan penyedia bibit unggul. Dan tentu, petani lokal yang ingin meningkatkan hasil panennya juga dapat menggunakan cabai ini.

Prof. Dr. Muhamad Syukur dari Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH) IPB bersama koleganya mengembangkan IPB CH3 | Foto : ipbmag

Cara Menanam Seperti Budidaya Cabai Biasa

Dari pertanianku.com, budidaya cabai hibrida IPB CH3 sama seperti budidaya cabai pada umumnya. Benih cabai harus disemai dalam tray atau wadah plastik. Media semai nya menggunakan kompos arang dan dibiarkan selama dua minggu hingga tinggi bibit mencapai 10 cm.

Selama proses penyemaian siapkan lahan penanaman dengan membuat bedengan sekitar 1 meter dan panjang 10 meter. Bedengan ini bertujuan untuk mempermudah saluran drainase, sehingga berfungsi secara maksimal.

Selanjutnya bedengan ditutup menggunakan aluminium foil atau mulsa plastik hitam perak (mphp). Bedengan yang telah terpasang aluminium foil kemudian diberikan lubang tanam dengan menggunakan alat pembolong.

“Alat pembolong mulsa bisa dari kaleng dan biasanya berbentuk bulat,” ungkap Unang Ridwan, salah satu staf pengembangan bisnis di PT Bogor Life Science and Technology.

Sebelumnya, kaleng harus dipanaskan dengan menggunakan bara api agar aluminium atau mulsa dapat dilubangi. Jarak tanam dalam satu bedeng dibuat dengan ukuran 30 cm. Hal ini bertujuan agar tanaman dapat tumbuh optimal dan memudahkan dalam pemeliharaan.

“Benih cabai ditutup dengan aluminium foil untuk menghindari pertumbuhan gulma,” jelas Unang.

IPB CH3, Cabai Merah Besar Nan Pedas, Mampu Hasilkan 15 Ton Per Hektar | Foto : pkht.ipb.ac.id

Selanjutnya lakukan pemupukan sebagai penambah unsur hara bagi tanaman. Tidak lupa saluran harus dibersihkan seminggu sekali agar airnya mengalir. Kemudian lakukan perawatan dan penyiraman.

“Varietas cabai ini memerlukan air yang banyak. Cabai hibrida CH3 bisa ditanam di semua jenis tanah. Hanya saja tanahnya harus subur. Bagusnya sih di dataran yang sedang, jangan ditanam di tanah yang kering soalnya cabai butuh air yang banyak,” Ucap Unang.

Kekurangannya Cuma Satu

Dilansir oleh Kompas.com, Prof Dr Sriani Sujiprihati, salah satu tim dari Departemen Agronomi dan Holtikutura IPB, menjelaskan bahwa kekurangan IPB CH 3 cuma satu. Karena IPB CH 3 adalah jenis cabai hibrida, biji cabai yang dihasilkannya dari jenis ini, tidak dapat atau kurang bagus untuk dijadikan benih lagi. Untuk mendapat biji untuk benih, harus dilakukan pengawinan dari dua jenis cabai yang menghasilkan cabai dengan jenis IPB CH 3.

“Sampai saat ini kami terus memperbanyak benih cabai-cabai ungulan temuan kami ini. Sebab, tugas kami sebagai peneliti adalah memperbanyak benih untuk keperluan akademik. Kami juga sebagai peneliti siap melatih untuk mereka yang berminat membuat benih IPB CH 3 sendiri. Apakah untuk itu masyarakat harus membeli atau membayar, bukan urusan kami. Itu pihak perguruan yang menentukan,” kata Sriani.

Itu sebabnya, lanjut Sriani, IPB tengah mengembangkan penelitian cabai non hibrida juga. Ia berharap tahun ini juga, dapat ditemukan cabai unggulan non-hibrida. Sehingga, ketika petani cukup sekali membeli bibit atau benih cabai itu, untuk seterusnya petani yang bersangkutan dapat membuat sendiri bibit dari buah cabai dari pohon miliknya.

“Kalau cabai hibrida, memang harus ada perusahaan khusus yang memproduksi bibitnya. Dan, kemungkinan harganya dapat mahal, bergantung pada produsernya. Petani dalam hal ini mungkin menjadi plasma dari perusahaan yang membutuhkan komoditi cabai dalam jumlah besar,” Imbuh Sriani

Salah satu perusahaan yang bekerjasama dengan IPB dalam memproduksi dan menjual benih CH3 adalah PT Bogor Life Science and Technology.

Unang Ridwan, salah satu staf pengembangan bisnis PT Bogor Life, menjelaskan sampai saat ini masih jarang petani menanam IPB CH3.

“Yang jual benih CH3 kalau bukan IPB langsung, dari perusahaan saya,” tuturnya.

Sampai saat ini, penjualan benih CH3 masih sedikit karena bergantung pada produksi benih dari IPB.

“Tapi ke depan kami akan produksi benih sendiri karena sudah dapat lisensi dari IPB,” tutupnya. (dsy).

Facebook Comments

LEAVE A REPLY