Peneliti LIPI Temukan Rongga di Bawah Tahura Djuanda

Oktober 10, 2016

PROGRES.ID, BANDUNG – Berdasarkan hasil citra bawah tanah dari peralatan geolistrik “Multichannel Resistivity Supersting R8” dari American Geophisical Instrument yang digunakan peneliti dari Lab Earth-Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan indikasi adanya empat gua di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Pada penelitian yang dipimpin Dannny Hilman Natawidjaja ini, satu dari empat gua diantaranya menjadi kejutan. Tiga gua yang ada, memang dapat dilihat langsung. Namun ditemukan ada satu gua yang terekam hasil pencitraan dan posisinya sejajar dengan tiga gua yang sudah terbuka. Gua itu tertutup dengan tanah dan juga lembap.

Sebenarnya, menurut tulisan Pikiran Rakyat, penemuan indikasi adanya tubuh gua atau ruang bawah tanah yang besar itu terungkap saat peneliti melakukan eksperimen uji alat geo-listrik di atas tiga Gua Jepang pada 2012 sebagai perbandingan respons alat dengan eksperimen serupa di Gunung Padang Cianjur.

Gua baru yang ditemukan itu diduga terkoneksi dengan Gua Jepang yang saat ini sudah terbuka. Dugaan yang muncul saat ini gua itu merupakan tempat penyimpanan logistik penjajah Jepang atau bahkan sudah digunakan saat peradaban sebelum Tahura dijadikan tempat persembunyian penjajah.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada Rabu, (18/5/2016) peneliti kembali melakukan peninjauan ulang ke lokasi Gua Jepang Tahura bersama unsur Balai Pengelolaan Tahura, warga, dan LSM lingkungan.

Selain mencocokkan hasil pencitraan di permukaan Gua Jepang tersebut, terdapat fakta menarik yakni ada dua gua anonim yang sudah terbuka tetapi kondisinya sebagian besar sudah tertimbun. Hanya bagian pintu guanya yang masih terbuka dan bisa dilihat dari luar.

Masih mengutip Pikiran Rakyat, Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, dugaan gua yang tertangkap dalam pencitraan alat geolistrik tersebut merupakan anomali. Di luar itu, pihaknya menemukan anomali yang mengindikasikan kemungkinan ada ruang bawah tanah lain yang belum diketahui.

Terkait luas timbunan atau barang-barang berharga yang diduga juga tertimbun, lanjutnya, belum dipetakan lebih detail.

“Dua gua yang tertimbun tersebut berdekatan dengan anomali di ruang bawah tanah yang kemungkinan besar berada di tengah perbukitan ini. Ini menarik untuk diteliti lebih lanjut,” ujar Hilman yang ditemui di Tahura, seusai meninjau gua.

Menurutnya, kemungkinan terdapat gua lain yang bisa ditemukan di luar hasil pencitraan alat geolistrik tersebut. Namun, berdasarkan cerita penduduk lokal yang memiliki kakek yang mengalami langsung penjajahan Jepang menyebutkan bahwa ada gua lain yang sudah tertimbun. Namun, hal itu harus dibuktikan lebih lanjut.(*)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.