Air PDAM Tak Kunjung Mengalir, Warga Dua Kecamatan Di Kepahiang Krisis Air Bersih

265
Tampak warga tengah mengambil air dari areal persawahan/progres.id/dunan

PROGRES.ID,KEPAHIANG,– Belum rampungnya perbaikan pipa milik PDAM yang hancur tertimpa alat berat milik PT Tropisindo Sumber Energi di desa Sukasari pada 16 juni lalu, membuat sekitar 3720 pelanggan PDAM di dua kecamatan yakni Tebat Karai dan Bermani Ilir mengalami krisis air bersih. Akibatnya sebagian warga terpaksa membeli air dengan harga 60 hingga 70 ribu rupiah per galon besarnya atau per 1000 liter. Bahkan sebagian warga yang tak terjangkau kendaraan terpaksa mengkonsumsi air irigasi dari persawahan.

Baca :Sepekan Usai Lebaran, Pelanggan PDAM di Tebat Karai dan BI Ditargetkan Bisa Kembali Nikmati Air Bersih

Kondisi ini telah dialami warga sejak hancurnya 3 pipa milik PDAM yang tertimpa alat berat milik PT Tropisindo Sumber Energi. Sebelumnya pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) dan PDAM pernah membantu menyuplai air ke warga dua kecamatan ini. Namun itu dilakukan hanya sebelum lebaran, saat ini tidak ada lagi bantuan air baik dari PDAM ataupun pemerintah setempat.

Saipul Anhar Warga Desa Talang Karet mengaku terpaksa membeli air bersih dari penjual air dengan harga 70 ribu rupiah per 1000 liter guna mencukupi kebutuhan air bersihnya.

” Harga satu galon besar( tedmon-red) kami beli dengan harga 70 ribu rupiah. Meski itu memberatkan namun kami terpaksa membeli guna mencukupi kebutuhan air bersih. Kami harap Pemerintah daerah dapat mendesak pihak kontraktor maupun PDAM agar cepat menanggulangi keadaan ini”, Kata Saipul Anhar(30/6/2017).

Warga tengah mengangkut air dengan jerigen dari areal persawahan/progres.id/dunan

Sementara itu warga Desa Peraduan Binjai dan Tebing Penyamun amat merasakan krisis air bersih, karena di dua desa ini warga tidak dapat membuat sumur lantaran tekstur tanahnya yang penuh bebatuan sehingga warga sangat menggantung air bersih dari suplay PDAM setempat. Saat ini untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga terpaksa mengambil air dari areal persawahan.

” Terpaksa saya menggunakan air sawah untuk kebutuhan sehari-sehari karena kalau untuk membeli terlalu sulit bagi kami apa lagi disuasana lebaran saat ini,” ujar Soleh warga Desa Tebing Penyamun sambil mengisi air dari areal persawahan.

Hal senada juga di rasakan Wantok, yang terpaksa harus bolak balik setiap hari kesawah guna mengambil air dengan menggunakan jerigen yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya. Sedangkan untuk kebutuhan minum warga terpaksa menyaring air yang mereka ambil dari areal persawahan.

” Untuk minum terpaksa kami harus saring dulu,agar lumpur dan kotoran lain tidak tercampur, meski terasa berbau lumpur,” ujar Wantok warga Desa Peraduan Binjai.

Warga berharap kondisi ini tidaklah berlangsung lama. Dan meminta agar Pemerintah Daerah Kabupaten Kepahiang dapat bertindak tegas agar pipa yang rusak dapat segera diperbaiki oleh pihak PT Tropinsindo Sumber Energi maupun pihak PDAM.(Hdn)

Facebook Comments
BAGIKAN

LEAVE A REPLY