Ulang Tahun yang Ke-40, Teater Koma Pentaskan Opera Ikan Asin

Maret 2, 2017
Seni dan Budaya 0   55 views 0

Natasasmita Picum, juragan pengemis se-Batavia, panik. Anak kesayangannya, Poli Picum, kawin lari dengan Mekhit alias Mat Piso, si Raja Bandit Batavia.

Tak rela memiliki menantu penjahat paling dicari, Natasasmita mengancam Kartamarma, Asisten Kepala Polisi Batavia. Bila Mekhit tak ditangkap dan anaknya tak kembali, ia berjanji akan menggerakkan para pengemisnya untuk mengacaukan upacara penobatan gubernur jenderal yang baru.

Sudah tentu Kartamarma tak ingin nama baiknya tercoreng. Meski berteman baik dengan Mekhit, ia terpaksa memerintahkan penangkapan Mekhit.

Saat akan dihukum gantung, mendadak surat keputusan dari gubernur jenderal datang. Isinya membungkam tangisan dan ratapan kolega yang tak rela Mekhit digantung.

Apa isinya?

PROGRES.ID, JAKARTA – Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-40, Teater Koma mementaskan kembali lakon Opera Ikan Asin yang diadaptasi dari naskah The Threepenny Opera karya dramawan Jerman, Bertolt Brecht.

Opera Ikan Asin ini dapat disaksikan di Ciputra Artpreneur Jakarta mulai hari ini (2/3/2017) hingga 5 Maret 2017, pukul 19.30 WIB kecuali hari Minggu, pukul 13.30 WIB.

Lakon ini sebenarnya pernah dipentaskan sebanyak tiga kali, yaitu dua kali di tahun 1983 dan tahun 1999. Namun Naskah ‘Opera Ikan Asin’ seolah tak lekang oleh zaman. Pada garapan tahun ini, N. Riantiarno yang bertugas sebagai sutradara sangat berambisius menyuguhkan tontonan teater yang sempurna.

“Yang berbeda paling para pemainnya. Sekarang hampir semuanya pemain baru. Kalau dulu, saya sendiri yang jadi pemeran utama,” seloroh pria yang akrab disapa Nano ini, sambil tertawa.

Opera Ikan Asin sendiri bercerita tentang Mekhit alias Mat Piso, Raja Bandit Batavia yang dijadikan pahlawan oleh keadaan hukum yang tidak jelas. Oleh, Nano latar dipindahkan ke Batavia abad ke-20.

Dikutip dari liputan6.com (2/3), N. Riantiarno berpendapat lakon Opera Ikan Asin cocok dengan masa sekarang: era yang penuh ketidakjelasan.

“Ini era yang penuh ketidakjelasan. Raja Bandit dijadikan pahlawan oleh masyarakat, penegak hukum berteman dengan penjahat, dan sogok-menyogok adalah sebuah kewajaran,” ujar Nano usai pementasan.

Salah satu adegan dalam pementasan Opera Ikan Asin | Foto : The Jakarta Post

Lebih lanjut, Nano mengatakan bahwa dalam naskah ini Brecht ingin membicarakan ketimpangan sosial, yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia saat ini, termasuk Indonesia. Sebagai garapan naskah adaptasi, Nano mengakui tidak banyak mengubah struktur naskah.

“Lakon Brecht tetap jalan, naskah tidak ada perubahan apa-apa, tapi saya terjemahkan. Tapi paling tidak kalau menyangkut Batavia, Kalijodo saya sebut, Pasar Ikan saya sebut. Sebenarnya (naskah ini) tidak lucu, tapi orang akan melihat itu sebagai pembelajaran kita pada saat ini. Mudah-mudah mereka melihat, pada saat ini (Indonesia) memang kacau. Tapi sih saya berharap apa yang saya berikan di sini bisa menjadi pembelajaran,” jelas Nano.

Sekaligus Peluncuran Buku “Membaca Teater Koma”

Pementasan teater berdurasi 2 jam 50 menit dengan sekali jeda ini dimainkan sederet nama-nama beken aktor Teater Koma, antara lain Budi Ros, Cornelia Agatha, Sari Madjid, Alex Fatahillah, Rangga Riantiarno, hingga Joind Byuwinanda. Bahkan yang menarik aktor Alex Fatahillah menjadi orang yang merasakan pentas Opera Ikan Asin tiga kali berturut-turut pada 1983, 1999, dan 2017.

Sementara itu, pada garapan musik, komposisi musik Kurt Weill dan lirik-lirik gubahan N. Riantiarno digarap ciamik oleh Fero Aldiansya Stefanus yang semakin menambah nuansa garapan kali ini.

“Musik Kurt Weill itu susah, chordnya nabrak-nabrak, irama kemana musik kemana. Pengalaman 83 dan 99, lagu disederhanakan supaya bisa dinyanyikan. Kali ini full, semirip-miripnya. Tantangan saya adalah suku kata bahasa Indonesia itu banyak, jadi agak susah dinyanyikan. Ada 23 lagu, dan banyak bunyi-bunyi yang tidak biasa,” kata Fero.

Bersamaan dengan pementasan Opera Ikan Asin, Teater Koma juga meluncurkan buku bertajuk “Membaca Teater Koma”, yang ditulis dalam rangka ulang tahun ke-40 Teater Koma. Dalam buku setebal 300 halaman tersebut, diurai sejarah keberadaan Teater Koma dalam peta sastra drama Indonesia, yang dilengkapi dengan foto-foto pementasan pertama hingga saat ini. (dsy)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *