pubmatic.com, 157566 , DIRECT, 5d62403b186f2ace

Meski Dunia Dibayangi Resesi, Jokowi Optimistis Ekonomi Tumbuh Positif

VOA Indonesia
presiden joko widodo
Presiden Joko Widodo | Foto: Istimewa/PROGRES.ID

PROGRES.ID – Presiden Joko Widodo meyakini Indonesia tidak akan jatuh ke lubang resesi, meksipun perekonomian global pada tahun depan diprediksi akan melambat. Jokowi bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi tanah air akan terus membaik.

“Saya hanya ingin menumbuhkan optimisme, jangan pesimistis. Memang yang kita hadapi ini bukan barang gampang, bukan barang yang mudah, tetapi kita tetap harus optimistis. Kuartal-II 5,44 persen, kuartal III … perkiraan saya ekonomi akan tumbuh di kuartal III ini 5,4 sampai 6 persen,” ungkap Jokowi dalam acara United Overseas Bank (UOB) Economic Outlook 2023, di Jakarta, Kamis (29/9).

Optimisme tersebut, katanya, bukanlah tanpa alasan. Pasalnya berbagai indikator pendukung seperti realisasi pendapatan negara yang didorong oleh pendapatan pajak, optimisme konsumen, dan indeks manufaktur menunjukkan catatan yang memuaskan.

“Kita lihat realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.764 (triliun), ini tumbuh 49 persen secara year on year (yoy). Kemudian ini yang para pembayar pajak saya ingin mengucapkan terima kasih karena penerimaan pajak sampai sekarang mencapai Rp1.171 triliun, tumbuh 58 persen. Artinya, pembayar pajak masih ada dan justru tumbuh 58 persen,” jelasnya.

Selain itu, katanya pendapatan negara saat ini juga didorong oleh penerimaan bea cukai sebesar Rp206 triliun, atau tumbuh 30,5 persen. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), ujarnya juga tumbuh 38,9 persen menjadi sebesar Rp386 triliun.

“Artinya, masyarakat masih konsisten dan memiliki kemampuan dalam hal tadi yang saya sampaikan,” imbuhnya.

Optimisme konsumen sampai detik ini juga masih berada pada level yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari Indeks Kepercayaan Konsumen yang mencapai 124,7, naik dari 123 pada Juli.

“Kemudian juga ini yang berkaitan dengan perbankan, kredit tumbuh 10,7 persen. Ini juga menurut saya cukup tinggi. Neraca dagang kita juga surplus 28 bulan berturut-turut yang pada bulan kemarin neraca kita surplus 5,7 miliar dolar AS. Ini gede banget loh angka ini surplusnya,” tuturnya.

Indikator lainnya, jelas Jokowi, adalah yakni angka Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang terus menguat dan berada pada angka 51,7 per Agustus 2022, yang katanya merupakan angka di atas rata-rata global.

Indonesia Masih Jauh dari Resesi

Ekonom CORE Indonesia Muhammad Faisal mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi tanah air pada kuartal-III masih akan tumbuh positif, meskipun ia yakin tidak akan sampai pada level enam persen.

Menurutnya, ada dua faktor kuat yang mendukung penguatan ekonomi Indonesia. Pertama, katanya ,adalah ekspor yang didapat dari kenaikan harga komoditas. Kedua, katanya adalah konsumsi dalam negeri yang cukup besar pasca pandemi COVID-19.

Kekhawatiran akan dampak dari kenaikan harga BBM subsidi, katanya, tidak akan terlalu berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian dalam negeri. Ia mengakui bahwa memang dampak dari kenaikan harga BBM subsidi akan berpengaruh terhadap kalangan masyarakat miskin.

“Jadi kalau kita berbicara ke pertumbuhan ekonomi, tidak akan terlalu banyak terkoreksi, kalau inflasi yang disebabkan oleh kenaikan BBM. Dampak terbesar daripada kenaikan harga BBM terhadap inflasi itu kepada kalangan bawah, seperti ke tingkat kemiskinannya atau terhadap pelebaran jurang kaya miskinnya, tapi terhadap pertumbuhan tidak terlalu,” ungkapnya kepada VOA.

Lebih jauh, Faisal menekankan, perlunya mewaspadai kemungkinan perlambatan ekonomi pada kuartal-IV dan pada tahun depan, mengingat ketidakpastian global yang masih akan terus terjadi.

Selain itu, efek daripada inflasi harga BBM subsidi baru akan terasa pada kuartal-IV dan pada tahun depan. Hal ini katanya juga dipengaruhi oleh kebijakan pengetatan fiskal dan moneter oleh pemerintah.

“BI menaikkan tingkat suku bunga, melakukan pengetatan moneter dan fiskal, juga insentif (dikurangi), normalisasi kebijakan, perbankan restrukturisasi kreditnya akan diakhiri. Ini dampak global dan dampak kebijakan domestik bisa jadi menyebabkan pertumbuhan tahun depan bisa jadi lebih rendah daripada sekarang. Bisa 4,5-5 persen,” tuturnya.

Namun, ia memprediksi Indonesia tidak akan sampai jatuh ke lubang resesi lagi. Hal ini, katanya akibat pasar dan konsumsi dalam negeri yang sampai saat ini masih cukup kuat.

“Masih jauh (resesi). Kenapa? Kita itu unik, resiliensinya tinggi, karena kita punya pasar domestik yang besar, dan tingkat integrasi dan konektivitas dengan ekonomi eksternalnya lebih rendah dibandingkan dengan banyak negara seperti negara-negara maju, apalagi dibandingkan dengan negara kecil seperti Singapura yang dia sangat bergantung dengan ekonomi eksternal,” jelasnya.

“Kita itu ekonomi domestiknya besar. Sepanjang sebetulnya kebijakan dalam negeri bisa terus menggulirkan ekonomi domestik, konsumsi terutama, bisa selamat ekonomi. Cuma arah kebijakan yang lebih ketat dari fiskal dan moneter sampai dengan tahun depan ini yang akan berpotensi memperlambat walaupun tidak sampai resesi,” pungkasnya. [gi/ab]

Logo VOA Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.