Home / Bisnis / Internasional

Rabu, 16 Desember 2020 - 23:40 WIB

Australia Resmi Adukan China ke WTO Soal Tarif Impor Jelai

Reaksi PM Australia terhadap cuitan di Twitter terkait dugaan kejahatan perang tentara Australia di Afghanistan, dinilai berlebihan dan justru semakin menarik perhatian masyarakat China. (Foto: Reuters via VOA Indonesia)

Reaksi PM Australia terhadap cuitan di Twitter terkait dugaan kejahatan perang tentara Australia di Afghanistan, dinilai berlebihan dan justru semakin menarik perhatian masyarakat China. (Foto: Reuters via VOA Indonesia)

PROGRES.ID – Australia meluncurkan tantangan resmi ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengenai tarif tinggi yang diberlakukan China terhadap ekspor jelainya.

Menteri Perdagangan Simon Birmingham mengakui bahwa pengaduan ke WTO “tidak sempurna dan perlu waktu lebih lama daripada idealnya” sewaktu mengumumkan langkah tersebut hari Rabu di Canberra. Tetapi ia mengatakan hal itu “merupakan jalur yang tepat untuk diambil Australia sekarang ini.”

Beijing menetapkan tarif antidumping dan antisubsidi 80,5 persen terhadap jelai Australia pada Mei lalu, setelah mengklaim bahwa pertanian jelai mendapat subsidi besar dari pemerintah Australia.

Tarif ini diperkirakan akan merugikan petani Australia lebih dari $ 300 juta per tahun.

Birmingham mengatakan alasan China bagi pungutan tarif yang tinggi itu “kurang mendasar” dan “tidak didukung oleh fakta dan bukti.”

Keputusan Australia untuk meminta penyelesaian dari WTO itu muncul sehari setelah PM Scott Morrison memperingatkan bahwa negara itu akan melaporkan China mengenai informasi dari media pemerintah bahwa pembangkit listrik China telah mendapat izin resmi untuk mengimpor batu bara dari negara-negara lain tanpa restriksi, kecuali dari Australia.

Sengketa mengenai ekspor jelai dan batubara Australia ke China merupakan babak baru dalam sengketa diplomatik dan perdagangan yang semakin sengit antara Beijing dan Canberra. Ini diawali ketika Canberra melarang perusahaan teknologi raksasa China, Huawei, membangun jaringan baru broadband 5G-nya, dan diperburuk oleh desakan Australia bagi penyelidikan independen mengenai asal mula pandemi Covid-19, yang pertama-tama dideteksi lebih dari setahun silam di China Tengah.

Selain menetapkan tarif tinggi terhadap jelai, China juga menangguhkan impor daging sapi Australia dan membuka dua penyelidikan terhadap sektor impor minuman anggur Australia yang nilai penjualannya melebihi $ 790 juta pada tahun lalu. Beijing juta menyarankan warganya dan para mahasiswa untuk mempertimbangkan kembali Australia sebagai tujuan wisata dan pendidikan, dengan menyebut alasan diskriminasi rasial di sana.

China adalah mitra dagang terbesar Australia, dengan nilai perdagangan bilateral tahun lalu mencapai $ 170 miliar.[uh/ab]

Logo VOA Indonesia

Share :

Baca Juga

kantor voa

Berita Utama

Tak Dapat Pembaruan Visa AS, Jurnalis VOA Kembali ke Indonesia
Ledakan bom pada 2019

Berita Utama

Terduga Pelaku Bom Asal Indonesia Mengaku Dipaksa Orangtua Bergabung ke ISIS
saham

Berita Utama

Saham AS Kembali Turun di Tengah Kekhawatiran Pandemi Corona
Sadiq Khan

Internasional

Walikota London Paling Rindu Minuman Ini Kala Puasa Sampai 19 Jam

Berita Utama

Khawatir Pandemi, Banyak Perempuan AS Pilih Melahirkan di Rumah

Internasional

Kim Jong Nam Tewas Akibat Zat Saraf VX, Gas Saraf Paling Beracun
Joe Biden

Internasional

Biden Terpilih Jadi Presiden Setelah Hampir Setengah Abad Berkarier di Politik
Warung Jancook

Berita Utama

Warung Jancook, Warung Khas Indonesia yang Berhasil Tarik Minat Warga AS
error: Konten ini dirpoteksi !!