Home / Ekonomi / Energi / Internasional

Rabu, 14 Oktober 2020 - 15:25 WIB

IEA Sebut Pemulihan Permintaan Energi Dapat Tertunda Hingga 2025

Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, berbicara tentang keadaan industri minyak di Houston, 22 Februari 2016. (Foto: AP via VOA Indonesia)

Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, berbicara tentang keadaan industri minyak di Houston, 22 Februari 2016. (Foto: AP via VOA Indonesia)

PROGRES.ID – Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyebut kondisi perekonomian dunia yang lambat akibat pandemi virus corona mengancam penundaan pemulihan permintaan energi dunia hingga 2025. Demikian pernyataan IEA pada Selasa (13/10/2020).

Kantor berita Reuters mengutip, IEA melaporkan, dalam skenario utamanya, vaksin dan pemulihan Covid-19 dapat berarti situasi perekonomian dunia akan membaik pada 2021, dan diikuti oleh pulihnya permintaan energi pada 2023.

Namun, menurut IEA, “skenario pemulihan yang tertunda” juga ikut memundurkan jadwal pemulihan tersebut selama dua tahun.

IEA yang berbasis di Paris melihat permintaan energi dunia turun sebesar lima persen pada tahun 2020, sedangkan emisi CO2 terkait energi turun sebesar tujuh persen dan investasi energi terkoreksi sebesar 18 persen.

IEA juga memprediksi permintaan minyak akan turun sebesar delapan persen, dan penggunaan batu bara terkoreksi tujuh persen, sementara penggunaan energi terbarukan akan mengalami sedikit kenaikan.

Secara keseluruhan, IEA mengatakan terlalu dini untuk mengatakan apakah pandemi telah menjadi faktor pendorong atau kemunduran bagi pemerintah dan industri energi saat mereka berusaha membuat industri lebih berkelanjutan.

“Era pertumbuhan permintaan minyak global akan berakhir dalam 10 tahun ke depan, tetapi dengan tidak adanya perubahan besar dalam kebijakan pemerintah, saya tidak melihat puncak (permintaan) yang jelas. Sebuah rebound ekonomi global akan segera membawa permintaan minyak kembali ke level sebelum krisis,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam sebuah wawancaradengen Reuters.

IEA memperingatkan potensi terjadinya ketidakpastian atas permintaan energi di masa depan dan jatuhnya harga minyak pada tahun 2020 dapat membuat produsen minyak ragu terkait rencana investasinya.

Dalam skenario utamanya, IEA memperkirakan “investasi hulu meningkat dari titik terendah pada tahun 2020, didukung oleh kenaikan harga minyak menjadi $ 75 per barel pada tahun 2030. Namun, tidak jelas apakah investasi ini akan datang tepat waktu dan, jika memang datang, dari mana asalnya.” [ah/au]

Logo VOA Indonesia

Share :

Baca Juga

Donald Trump

Berita Utama

Trump Pertimbangkan Penarikan Besar Pasukan dari Afghanistan
evakuasi korban

Berita Utama

Penembakan Masjid Christchurch, 3 WNI Selamat 3 Lain Masih Dicari
Donald Trump

Berita Utama

Trump Tegaskan Perubahan Iklim Bukan Hoaks
Brexit

Internasional

Warga Inggris yang Tolak Brexit, Berusaha Dapatkan Paspor Irlandia
Presiden AS Donald

Bisnis

Puluhan Bisnis China Masuk dalam Daftar Hitam AS
Facebook Indonesia

Internasional

Mampukah Facebook Hadapi Pilpres AS?
Masjid Serefudin

Infrastruktur

Masjid Putih Serefudin di Bosnia: Dulu Tak Dipandang, Kini Jadi Kebanggaan
masjid keliling

Berita Utama

Olimpiade 2020, Perusahaan Jepang Kenalkan Layanan ‘Masjid Keliling’
error: Konten ini dirpoteksi !!