Akankah Bahasa Rejang Punah?

Mei 2, 2016
Berita Utama Edukasi Kolom 0   523 views 0

Oleh: Pedito Alam, M.Pd

PROGRES.ID – Di Indonesia terdapat sekitar 713 bahasa daerah yang merupakan aset Negara Indonesia yang sangat berharga. Bahasa Rejang merupakan  suatu bahasa daerah yang banyak dituturkan oleh masyarakat di Provinsi Bengkulu khususnya terletak di kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Utara dan Bengkulu tengah.

Menurut hipotesa Mc Ginn bahasa Rejang berasal dari tiga tempat, yakni kelompok Austronesia dan sub kelompok Melayu-polynesia yang turun sebagi bahasa induk purba,yaitu Melayu-Polynesia Purba.Dialek Rejang merupakan anggota subkelompok kecil di Sumatra yang dinamai bahasa Rejang Purba.dan Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh dan turun dari bahasa induk dinamai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. sementara, leluhur Rejang itu diketahui berasal  Kalimantan Utara.Hipotesa ini masih perlu pengkajian, pada ketiga hipotesa tersebut terdapat kekuatan dari masing-masing asumsi ataupun fakta yang telah diteliti.

Bahasa Rejang memiliki aksara tersendiri bila dibandingkan dengan bahasa daerah yang lain di Bengkulu ataupun di Indonesia, hanya sedikit bahasa daerah di Indonesia yang memiliki bahasa dan aksara sendiri.   Aksara Rejang lebih dikenal dengan Ka Ga Nga.  Aksara Ka Ga Nga menyerupai aksara Lampung dari propinsi Lampung dan aksara Batak dari propinsi Sumatra Utara.

Populasi pengguna bahasa Rejang saat ini  kurang lebih berjumlah 100.000 ribu jiwa (Wikipedia, 2009). Dalam 100.000 ribu tersebut masih bisa kurang ,bila kita lihat dari pengguna aktif yang menggunakannya dalam pergaulan sehari-hari baik dengan orang tua ataupun sesama teman.

Sudah banyak dari orang tua yang menganjurkan anak-anaknya untuk berbahasa Indonesia ataupun melayu dalam percakapan maupun berkomunikasi dengan orang tuanya ( Barbara F. Grimes), hal ini dikarenakan mereka merasa minder dan kurang percaya diri,bila menggunakan bahasa daerah (Rejang) dalam percakapan sehari-hari dengan sesama anggota keluarga maupun mayarakat umum. Hal inilah yang membuat perkembangan populasi pengguna bahasa Rejang akan semakin berkurang  di masa yang akan datang.

Selain itu, faktor lingkungan yang kurang mendukung penggunaan bahasa Rejang dan bencana alam serta migrasi keluar daerah menjadi faktor penyebab kepunahan bahasa Rejang itu sendiri.

Kepunahan suatu bahasa daerah, sangat tergantung kepada kemauan penuturnya. Bila penutur tetap menghendaki bahas itu eksis, maka kepunahannya dapat dihambat. Artinya, orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh besar dalam kepunahan bahasa.Pelajar maupun anak muda saat ini lebih cenderung menggunakan bahasa “gaul” daripada menggunakan bahasa daerah itu sendiri.

Maka dari itu peran serta dari orang tua, lingkungan dan  pemerintah daerah dalam pelestarian bahasa sangat di perlukan. Dengan adanya sinergi antara orang tua, pemerintah dan lingkungan maka kepunahan suatu bahasa akan bisa di minimalisir.

Untuk lima tahun kedepan bahasa Rejang masih tergolong aman, tetapi kalau tidak dari sekarang kita mengatasi degradasi penutur bahasa Rejang bukan tidak mungkin dalam 15 atau 20 tahun kedepan kita akan sulit untuk mencari orang yang bisa berbahasa Rejang.dengan kata lain bisa saja bahasa Rejang dalam ambang kepunahan.

Penulis adalah pengajar di SMKN 1  Rejang Lebong

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.