Home / Berita Utama / Internasional

Minggu, 19 September 2021 - 10:25 WIB

Batalkan Kesepakatan Kapal Selam, Australia Buat ‘Kesalahan Besar’

PROGRES.ID –

Duta Besar Prancis untuk Canberra, Sabtu (18/9), mengatakan Australia telah membuat kesalahan diplomatik “besar” dengan mengabaikan pemesananan kapal selam Prancis senilai miliaran dolar demi kesepakatan alternatif dengan Amerika Serikat dan Inggris.

Australia mengumumkan pada Kamis (16/9), pihaknya akan membatalkan kesepakatan dengan Naval Group Prancis yang dibuat pada 2016 untuk membeli armada kapal selam konvensional. Sebagai gantinya, Canberra akan membangun setidaknya delapan kapal bertenaga nuklir dengan teknologi AS dan Inggris setelah mencapai kemitraan keamanan trilateral.

Keputusan Australia juga telah membuat marah China, kekuatan besar yang meningkat di kawasan Indo-Pasifik. Malaysia menyatakan keprihatinannya pada Sabtu (18/9) dengan mengatakan keputusan Canberra untuk membangun kapal selam bertenaga atom dapat memicu perlombaan senjata nuklir regional.

“Ini akan memprovokasi kekuatan lain untuk juga bertindak lebih agresif di kawasan itu, terutama di Laut China Selatan,” kata kantor perdana menteri Malaysia, tanpa menyebut China.

Kebijakan luar negeri Beijing di kawasan itu menjadi semakin tegas, terutama klaim maritimnya di Laut China Selatan yang mengandung sumber daya yang kaya, beberapa di antaranya bertentangan dengan klaim Malaysia sendiri.

Prancis, sekutu NATO dari Amerika Serikat dan Inggris, mencap pembatalan kesepakatan – senilai $40 miliar pada 2016 itu sebuah tikaman dari belakang. Prancis menarik duta besarnya dari Washington dan Canberra.

“Ini adalah kesalahan besar, penanganan kemitraan yang sangat, sangat buruk – karena ini bukan kontrak, itu adalah kemitraan yang seharusnya didasarkan pada kepercayaan, saling pengertian, dan ketulusan,” ujar Duta Besar Jean-Pierre Thebault kepada wartawan di Canberra sebelum kembali ke Paris.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan Prancis adalah “sekutu penting” dan bahwa Amerika Serikat akan bekerja dalam beberapa hari mendatang untuk menyelesaikan perbedaan.

Thebault mengatakan dia sangat sedih harus meninggalkan Australia tetapi menambahkan “perlu ada penilaian ulang” mengenai hubungan bilateral. [ah]

logo voa indonesia

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Ledakan Bom Bunuh Diri Hantam Pintu Masuk Masjid di Kabul

Berita Utama

Afghanistan Tak Boleh Dimanfaatkan Untuk Sebarkan Terorisme 
Jokowi

Berita Utama

Jokowi Bubarkan 9 Lembaga Nonstruktural, Ini Daftarnya

Berita Utama

Ibu Kota Baru: Diawali Jalan, Berarsitektur Nasional dan Bebas Banjir
Lionel Messi

Berita Utama

Lionel Messi Resmi Gabung PSG

Berita Utama

Semakin Banyak Anak Menjadi Korban Kelompok Bersenjata di Niger

Berita Utama

Indonesia dan Australia Minta Taliban Hormati Hak Perempuan

Berita Utama

Kongres Capai Kesepakatan Untuk Tingkatkan Plafon Utang AS