Home / Berita Utama / Internasional

Kamis, 7 Oktober 2021 - 03:30 WIB

Hakim dalam Penyelidikan Ledakan di Beirut Hadapi Ancaman Hizbullah

PROGRES.ID –

Penyelidikan terhadap ledakan besar tahun lalu di Beirut berjalan lambat karena apa yang dikatakan pengamat adalah campur tangan kelompok kuat Hizbullah yang didukung Iran. Hakim Lebanon Tarek Bitar selamat dari dua upaya pemecatan. Yang terbaru adalah Senin ketika pengadilan menolak pengaduan terhadap Bitar, tetapi Hizbullah terus mengancam hakim itu dan penyelidikan yang dilakukanya.

Para pengamat mengatakan gerakan kesatuan nasional yang nyata diperlukan untuk menghadapi hambatan yang ditimbulkan oleh Hizbullah, serta untuk membuat Lebanon ke jalur menuju dimulainya reformasi ekonomi dan politik yang dibutuhkan.

Hakim Lebanon, Tarek Bitar, telah menghadapi penolakan dari faksi-faksi kuat Lebanon yang berusaha menghentikan penyelidikannya terhadap ledakan di pelabuhan Beirut, 4 Agustus 2020, salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah. Berbagai laporan mengatakan sejumlah besar amonium nitrat – yang biasa digunakan untuk membuat pupuk atau bom – dibiarkan tersimpan secara tidak aman di gudang pelabuhan selama bertahun-tahun.

Tiga mantan menteri menjadi terdakwa dalam kasus tersebut. Mereka adalah mantan menteri dalam negeri, mantan menteri keuangan dan mantan menteri transportasi, yang ketiganya memiliki hubungan dengan Hizbullah, yang berperan penting dalam konstelasi pemerintahan Lebanon. Mereka berusaha mengeluarkan Bitar dari penyelidikan karena dia berusaha menanyai ketiga mantan menteri tersebut. Ketua Hizbullah, Hassan Nasrallah, menuduh Bitar “dipolitisasi,” meski memiliki posisi yang dianggap netral. Kepala keamanan Hizbullah Wafiq Safa memperingatkan hakim itu bahwa jika Hizbullah tidak menyukai kinerjanya sebagai penegak hukum, maka dia akan disingkirkan.

Jika itu terjadi, Bitar akan menjadi hakim kedua yang diberhentikan.

Para aktivis dan keluarga korban ledakan Beirut melakukan aksi protes di Beirut, Lebanon 29 September 2021 (foto: dok).

Para aktivis dan keluarga korban ledakan Beirut melakukan aksi protes di Beirut, Lebanon 29 September 2021 (foto: dok).

Analis politik Dania Koleilat Khatib dari Institut Issam Fares di Universitas Amerika di Beirut mengatakan kepada VOA mengapa ia yakin Hizbullah mengancam Bitar.

“Hizbullah selalu mencoba mengintimidasi karena mungkin dia akan mengungkap sesuatu yang mereka ingin tidak diungkapkan. Itu sebabnya mereka mencoba menghalanginya. Apakah mereka menyimpan nitrat itu? Apakah mereka tidak menyimpannya? Fakta bahwa mereka menyuruhnya berhenti dan mengirim pesan itu kepadanya menunjukkan bahwa mereka benar-benar merasa terancam oleh penyelidikan itu.”

Mantan menteri dalam negeri lainnya, Ahmed Fatfat, mengatakan kepada harian Saudi, Arab News, bahwa tindakan Hizbullah menunjukkan ketakutan akan perkembangan yang terjadi.

“Hizbullah menuduh semua orang yang tidak setuju dengannya sebagai pengkhianat, sementara kelompok itu mengakui telah menerima pesanan dan uang dari Iran,” kata Fatfat. Dia mengatakan bahwa kecuali jika front nasional yang nyata dibentuk untuk menghadapi partai itu, Lebanon akan jatuh di bawah pendudukan Iran.

Banyak orang Lebanon, terutama keluarga dari lebih dari 200 korban ledakan, sangat marah karena tidak ada pejabat senior yang dimintai pertanggungjawaban atas tragedi itu setelah lebih dari setahun.

Analis Dania Koleilat Khatib menambahkan, “Posisi Bitar itu penting. Rakyat Lebanon begitu terdemoralisasi. Ketika saya bertemu orang tua dari orang yang meninggal (dalam ledakan) 4 Agustus, seorang berbicara atas nama mereka, dia mengatakan meskipun ‘kami tidak percaya pada pemerintah, peradilan telah menunjukkan kepada kami bahwa terlepas dari segalanya, keadilan masih ada’ dan ini sangat penting. Di sinilah komunitas internasional, Uni Eropa, Amerika Serikat, harus mendukung orang seperti Bitar. Harus dipastikan bahwa dia tidak akan tunduk pada tekanan politik dan harus mengirim pesan yang sangat kuat itu tidak hanya kepada Hizbullah, tetapi juga kepada siapa pun bahwa jika ada yang menyentuhnya, mereka akan akan diancam dengan hukuman yang sangat keras.”

Penyelidikan itu telah menjadi sasaran kritik internasional.

Human Rights Watch dan Amnesty International menuduh pihak berwenang Lebanon menghalangi keadilan dan mengabaikan keluarga-keluarga para korban dengan penyelidikan berlarut-larut. [lt/ka]

logo voa indonesia

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Benarkah UN Akan Dihapuskan?

Berita Utama

Sejumlah Rumah Sakit di AS Kewalahan Hadapi Lonjakan Kasus COVID-19

Berita Utama

Pasca Kematian Ali Kalora, Satgas Madago Raya Terus Buru Empat Orang
Siswa asal Bengkulu FL2SN

Berita Utama

FLS2N, Dua Pelajar Bengkulu Bawa Pulang Emas dan Perak

Internasional

Situs Baru di Tanah Suci Umat Kristen di Yerusalem Dibuka untuk Paskah

Internasional

Berbagai Kelompok Muslim AS Donasikan Masker Semasa Pandemi

Berita Utama

Wow, Wiro Sableng 212 Bakal Tayang Lagi

Berita Utama

Pembunuhan AS Naik Hampir 30% Tahun Lalu