pubmatic.com, 157566 , DIRECT, 5d62403b186f2ace

Harapkan Dorong Investasi, Jokowi Undang Pemimpin UEA ke G20

Harapkan Dorong Investasi, Jokowi Undang Pemimpin UEA ke G20 — BeritaBenar

PROGRES.ID – Undangan Presiden Joko “Jokowi” Widodo kepada Putra Mahkota Abu Dhabi yang juga pemimpin de facto Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan ke pertemuan puncak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada November di Bali diharapkan dapat mendorong kerja sama ekonomi jangka panjang, terutama terkait pendanaan proyek ibu kota baru di Kalimantan, kata analis, Kamis (5/5).

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa Presiden Jokowi menyampaikan langsung undangan pertemuan puncak G20 kepada pemimpin UEA tersebut melalui sambungan telepon pada Rabu dengan komitmen Sheikh Mohamed untuk meningkatkan kerja sama perdagangan kedua negara tiga kali lipat dalam 5 tahun ke depan.

“Kemarin pelaksanaan teleponnya (antara Jokowi dan Sheikh Mohamed). UEA memang invited guest (diundang sebagai peninjau) dan surat undangan sudah dikirim sejak Februari lalu,” kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah kepada BenarNews, Kamis.

UEA sendiri bukan merupakan bagian dari G20 yang merupakan forum utama kerja sama ekonomi internasional yang beranggotakan 19 negara dengan perekonomian besar dunia, Uni Eropa, Lembaga Dana Keuangan Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Rencana mengundang Sheikh Mohamed ke pertemuan G20 sejatinya telah diutarakan Jokowi sejak November tahun lalu, ketika kedua tokoh bersua dalam pertemuan bilateral yang berlangsung 2,5 jam di Istana Al-Shatie, Abu Dhabi, UEA.

Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas beragam isu, termasuk ajakan kepada UEA untuk berinvestasi pada bidang energi terbarukan di tanah air dan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur.

Dilansir dari laman Emirates News Agency, Sheikh Mohamed menanggapi positif undangan Jokowi, yang tahun ini memegang jabatan Presidensi G20 dan mendoakan Indonesia sukses mengoordinasi pertemuan itu sehingga mampu mendorong perbaikan ekonomi global yang terdampak pandemi COVID-19.

Namun laman tersebut tidak memerinci kepastian kehadiran Sheikh Mohamed dalam pertemuan G20 nanti.

Jokowi dan Sheikh Mohamed memang telah menunjukkan hubungan erat dalam  beberapa tahun terakhir. Pada Oktober 2020, Sheikh Mohamed mengabadikan nama Jokowi sebagai nama salah satu ruas jalan utama sepanjang sekitar 2,5 kilometer di Abu Dhabi.

Lima bulan berselang, Sheikh Mohamed juga memulai pembangunan masjid yang mengikuti desain Masjid Raya Syeikh Zayed Abu Dhabi di lahan seluas 2,9 hektare di Solo, Jawa Tengah.

Jokowi kemudian membalas perlakuan tersebut dengan mengganti nama jalan tol layang Jakarta-Cikampek menjadi jalan layang MBZ Sheikh Mohamed bin Zayed pada Oktober 2021.

Proyek IKN

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, ajakan Indonesia kepada UEA untuk ikut dalam pertemuan puncak G20 dapat dimaknai sebagai upaya menjaga hubungan baik dengan UEA sehingga negara Timur Tengah itu mau meningkatkan investasi di Indonesia, terutama dalam proyek pembangunan IKN.

“Seiring mundurnya SoftBank (dalam proyek IKN), pemerintah membutuhkan sumber pembiayaan baru dan itu bisa didapat dari sovereign wealth fund dari negara mitra seperti UEA,” kata Bhima kepada BenarNews, merujuk pada investor Jepang yang akhirnya urung menanamkan modal dalam mega proyek itu.

Presiden Jokowi sejak awal mengatakan pembangunan IKN diestimasikan membutuhkan anggaran sebesar Rp466 triliun, dengan biaya dari APBN kurang dari 20%.

“Maka, undangan kepada UEA dapat dimaknai sebagai bentuk menjaga hubungan baik agar UEA berinvestasi di IKN dan proyek-proyek lain di Indonesia. Karena pemerintah saat ini bisa dikatakan cenderung pragmatis dan mengajak sebanyak mungkin negara dan lembaga untuk berinvestasi di Indonesia.”

Sebelumnya, Bhima menilai batalnya investasi SoftBank Group di proyek IKN akan membawa konsekuensi besar bagi Indonesia, baik terhadap APBN maupun manuver sosial politik.

Sedikitnya dua konsekuensi utama dari batalnya investasi SoftBank ke proyek IKN, paparnya. Pertama, adanya potensi gangguan terhadap kecepatan pembangunan IKN karena rencana investasi dari SoftBank bernilai sangat besar. SoftBank sempat menjanjikan investasi US$30-40 miliar atau berkisar Rp430 triliun hingga Rp575 triliun.

Konsekuensi kedua, kata Bhima, adalah pemerintah perlu mencari pengganti Softbank, baik dari lembaga investasi hedge fund maupun sovereign wealth fund dari negara mitra, seperti Arab Saudi dan UEA.

Serupa dengan Bhima, pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf juga menganggap manuver Jokowi yang mengundang UEA yang notabene bukan anggota G20 sebagai siasat untuk menggenjot investasi UEA ke tanah air.

Apalagi sejak Sheikh Mohamed menjadi pemimpin de facto, UEA memiliki agenda tersendiri yakni hendak menyaingi pengaruh negara Timur Tengah lain seperti Arab Saudi dan Qatar, terutama di negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Indonesia.

“Secara tradisi UEA bukan negara berpengaruh di Timur Tengah, tapi itu berubah sejak MBZ (Sheikh bin Mohamed) menjadi pemimpin,” ujar Faisal kepada BenarNews.

“Dengan wilayah yang luas, penduduk Muslim yang banyak, dan posisi yang tergolong penting di Asia Tenggara, mereka melihat Indonesia cukup penting.”

Investasi menurun, proyek bertambah

Merujuk data Badan Koordinasi Penanaman Modal, nilai investasi UEA di Indonesia terus menurun sejak 2018.

Sempat mencapai US$69,94 juta pada 2018, angka investasi kemudian anjlok menjadi US$69,73 juta pada 2019, lalu US$21,57 juta pada 2020, hingga di bawah US$10 juta pada 2021.

Berkebalikan dengan nilai investasi, jumlah proyek UEA justru cenderung meningkat seiring tahun.

Pada 2018, UEA menanam modal untuk 59 proyek; naik menjadi 77 proyek pada 2019; bertambah 118 proyek pada 2020; mencapai 90 proyek pada tahun lalu; dan diharapkan terus bertambah pada 2022.

Kedua negara juga berharap meningkatkan perdagangan menjadi tiga kali lipat –mencapai US$2,5 miliar pada 2020– dalam empat tahun ke depan.

Perdagangan nonmigas antara Indonesia dan UEA dalam lima tahun mencapai US$11 miliar, di mana ekspor UEA ke Indonesia mencapai US$1,4 miliar.

Dandy Koswaraputra di Jakarta turut berkontribusi dalam laporan ini.

Logo BenarNews.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.