Penandatanganan kerjasama pembelian pesawat Airbus antara Dirut Garuda Indonesia pada tahun 2012 di Istana Merdeka, Jakarta | Foto : Madiunpos.com

PROGRES.ID, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan mantan direktur utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar untuk kasus dugaan suap pembelian mesin Rolls-Royce untuk Pesawat Garuda. Hari ini (20/1/2017), Emirsyah yang mantan Direktur Utama Garuda dari 2005-2014 tersebut membantah lewat keterangan tertulisnya.

“Sepengetahuan saya, selama saya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia, saya tidak pernah melakukan perbuatan koruptif ataupun menerima sesuatu yang berkaitan dengan jabatan saya, ” ujarnya secara tertulis, dikutip dari Republika (20/1).

Seperti ramai diberitakan, Emirsyah Satar diduga menerima suap dari Soetikno Soedarjo dalam bentuk uang dan barang yaitu dalam bentuk uang Euro sebesar 1,2 juta Euro dan USD 180 ribu atau setara dengan Rp 20 miliar. Suap tersebut dimaksudkan agar Emisryah memilih mesin mesin Rolls-Royce untuk Pesawat Airbus Garuda Indonesia.

Di Inggris sendiri, Rolls Royce sudah dikenai denda sebanyak 671 juta Pounsterling (sekitar Rp11 triliun) karena melakukan pratik suap di beberapa negara, antara lain Malaysia, Thailand, China, Brasil, Kazakhstan, Azerbaizan, Irak, dan Anggola.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, sebagaimana dilansir oleh Detik.com (19/1), mengatakan perkara ini merupakan perkara lintas negara (yurisdiksi) ketiga yang ditangani KPK  sehingga dalam penanganan kasus ini KPK bekerja sama secara intensif dengan Serious Fraud Office (SFO) yang ada di Inggris dan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) di Singapura.

Kasus pertama adalah perkara suap terkait proyek pengadaan bahan bakar Tetra Ethyl Lead (TEL) di PT Pertamina (kasus Innospec). Sedangkan kasus yang kedua yakni perkara yang menjerat Emir Moeis yang menerima suap dari konsorsium Alstom Power Incorporate Amerika Serikat dan Marubeni Incorporate Jepang.

Lima Orang Dicekal Keluar Negeri

Sementar itu, KPK, hari ini (20/1), juga telah meminta pihak Imigrasi untuk melakukan pencegahan bepergian ke luar negeri, terhadap lima orang yang terkait kasus dugaan suap Rolls-Royce, termasuk Emirsyah dan Soetikno. Pencegahan itu diberlakukan KPK untuk enam bulan ke depan, terhitung mulai 16 Januari 2017.

“Mereka adalah saksi yang kami nilai, memiliki kapasitas yang diperlukan dalam proses penyelidikan. Karena, mereka kemungkinan memiliki informasi yang didengar dan dilihat,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di kantor KPK, dikutip dari mediaindonesia.com (20/1) (dsy)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.