Home / Berita Utama

Jumat, 20 Januari 2017 - 22:27 WIB

Kasus Suap Mesin Garuda, Emirsyah Bantah Secara Tertulis

Penandatanganan kerjasama pembelian pesawat Airbus antara Dirut Garuda Indonesia pada tahun 2012 di Istana Merdeka, Jakarta | Foto : Madiunpos.com

Penandatanganan kerjasama pembelian pesawat Airbus antara Dirut Garuda Indonesia pada tahun 2012 di Istana Merdeka, Jakarta | Foto : Madiunpos.com

PROGRES.ID, JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan mantan direktur utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar untuk kasus dugaan suap pembelian mesin Rolls-Royce untuk Pesawat Garuda. Hari ini (20/1/2017), Emirsyah yang mantan Direktur Utama Garuda dari 2005-2014 tersebut membantah lewat keterangan tertulisnya.

“Sepengetahuan saya, selama saya menjadi Direktur Utama PT Garuda Indonesia, saya tidak pernah melakukan perbuatan koruptif ataupun menerima sesuatu yang berkaitan dengan jabatan saya, ” ujarnya secara tertulis, dikutip dari Republika (20/1).

Seperti ramai diberitakan, Emirsyah Satar diduga menerima suap dari Soetikno Soedarjo dalam bentuk uang dan barang yaitu dalam bentuk uang Euro sebesar 1,2 juta Euro dan USD 180 ribu atau setara dengan Rp 20 miliar. Suap tersebut dimaksudkan agar Emisryah memilih mesin mesin Rolls-Royce untuk Pesawat Airbus Garuda Indonesia.

Baca Juga |  Pemain Drum 'Rolling Stones' Charlie Watts Meninggal pada Usia 80

Di Inggris sendiri, Rolls Royce sudah dikenai denda sebanyak 671 juta Pounsterling (sekitar Rp11 triliun) karena melakukan pratik suap di beberapa negara, antara lain Malaysia, Thailand, China, Brasil, Kazakhstan, Azerbaizan, Irak, dan Anggola.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, sebagaimana dilansir oleh Detik.com (19/1), mengatakan perkara ini merupakan perkara lintas negara (yurisdiksi) ketiga yang ditangani KPK  sehingga dalam penanganan kasus ini KPK bekerja sama secara intensif dengan Serious Fraud Office (SFO) yang ada di Inggris dan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) di Singapura.

Kasus pertama adalah perkara suap terkait proyek pengadaan bahan bakar Tetra Ethyl Lead (TEL) di PT Pertamina (kasus Innospec). Sedangkan kasus yang kedua yakni perkara yang menjerat Emir Moeis yang menerima suap dari konsorsium Alstom Power Incorporate Amerika Serikat dan Marubeni Incorporate Jepang.

Baca Juga |  Pemerintah Turunkan Biaya PCR Hampir Separuh Harga Lama

Lima Orang Dicekal Keluar Negeri

Sementar itu, KPK, hari ini (20/1), juga telah meminta pihak Imigrasi untuk melakukan pencegahan bepergian ke luar negeri, terhadap lima orang yang terkait kasus dugaan suap Rolls-Royce, termasuk Emirsyah dan Soetikno. Pencegahan itu diberlakukan KPK untuk enam bulan ke depan, terhitung mulai 16 Januari 2017.

“Mereka adalah saksi yang kami nilai, memiliki kapasitas yang diperlukan dalam proses penyelidikan. Karena, mereka kemungkinan memiliki informasi yang didengar dan dilihat,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di kantor KPK, dikutip dari mediaindonesia.com (20/1) (dsy)

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Siapa Pengungsi Afghanistan yang Datang ke AS?

Berita Utama

Gempa di Haiti, 10 WNI Selamat

Berita Utama

Jokowi Serahkan Bonus Rp5,5 Miliar Untuk Greysia/Apriyani

Berita Utama

Wujudkan Air Bersih dan Sanitasi Sehat di Masa Pandemi, ITS Luncurkan Incubits

Berita Utama

Mantan Perwira AL AS Mengaku Bersalah dalam Skandal Suap

Berita Utama

Biden Umumkan Bantuan Pendanaan bagi Masyarakat Pedesaan Terkait COVID

Berita Utama

Ketegangan di Kawasan Memuncak, Biden Undang PM Baru Israel ke Washington
Gubernur Rohidin menerima manajemen Hutama Karya

Berita Utama

Groundbreaking Tol Bengkulu-Lubuklinggau Dijadwal Maret 2019