Keluarga Korban Pesawat MH17 akan Berbicara di Pengadilan

  • Bagikan

PROGRES.ID –

Puluhan kerabat dari 298 korban pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan 17 yang ditembak jatuh di wilayah Ukraina Timur yang dikuasai pemberontak pada 2014, dijadwalkan mulai memberikan kesaksian pada hari Senin pada persidangan kasus pembunuhan oleh empat buronan yang menjadi tersangka serangan itu.

Pesawat itu dalam penerbangan dari Amsterdam ke Kuala Lumpur sewaktu ditembak oleh apa yang disebut para investigator internasional dan jaksa penuntut sebagai misil darat-ke-udara Rusia.

Tiga warga negara Rusia dan satu orang Ukraina, semuanya diduga memiliki peran penting di pasukan separatis, diadili atas tuduhan pembunuhan. Moskow telah menolak untuk mengekstradisi mereka yang berada di Rusia dan menolak bertanggung jawab atas serangan itu. Pemerintah Belanda menganggap Moskow bertanggung jawab.

Hakim Ketua Hendrik Steenhuis, kanan, dan hakim pengadilan serta pengacara lainnya melihat puing-puing pesawat Malaysia Airlines MH17 yang direkonstruksi, di pangkalan militer Gilze-Rijen, Belanda selatan, Rabu, 26 Mei 2021. (Foto: AP)

Hakim Ketua Hendrik Steenhuis, kanan, dan hakim pengadilan serta pengacara lainnya melihat puing-puing pesawat Malaysia Airlines MH17 yang direkonstruksi, di pangkalan militer Gilze-Rijen, Belanda selatan, Rabu, 26 Mei 2021. (Foto: AP)

Pesawat itu jatuh di sebuah tanah lapang di daerah yang dikuasai separatis pro-Rusia yang memerangi pasukan Ukraina.

Pengadilan telah menjadwalkan waktu tiga pekan untuk mendengar para kerabat korban berbicara dan juga akan memeriksa sekitar seratus pernyataan tertulis yang diberikan oleh anggota keluarga lainnya.

Ria van der Steen akan menjadi yang pertama dari 90 anggota keluarga dari delapan negara yang akan diizinkan berbicara di depan hakim dan pengacara pembela mengenai dampak kecelakaan itu bagi kehidupan mereka.

Setelah bertahun-tahun mengumpulkan bukti, satu tim investigator internasional menyimpulkan pada Mei 2018 bahwa peluncur yang digunakan untuk menembakkan misil itu adalah milik Brigade Antiserangan Udara ke-53 Rusia.

Para tersangka yang buron telah diadili selama satu setengah tahun ini. Hanya satu yang mengirim tim pengacara untuk mewakilinya sehingga kasus itu tidak seluruhnya dianggap sidang in absentia berdasarkan undang-undang Belanda.

Sidang memasuki tahap penting pada bulan Juni sewaktu para jaksa mulai mengajukan barang bukti dan akan mulai memanggil para saksi. [uh/ab]

logo voa indonesia

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.