Demonstrans
Para pemrotes memegang spanduk "Black Lives Matter" dalam sebuah demonstrasi kematian George Floyd oleh Kepolisian Minneapolis pada 19 Juni 2020 di New York. (Foto: AFP via VOA Indonesia)
Demonstrans
Para pemrotes memegang spanduk “Black Lives Matter” dalam sebuah demonstrasi kematian George Floyd oleh Kepolisian Minneapolis pada 19 Juni 2020 di New York. (Foto: AFP via VOA Indonesia)

PROGRES.ID – Demonstrasi menentang diskriminasi rasial di Amerika masih berlangsung di beberapa tempat di Amerika, yang dipicu oleh kematian seorang laki-laki kulit hitam di Minneapolis pada akhir bulan Mei lalu. Banyak anak muda Amerika ikut turun ke jalan-jalan termasuk mahasiswa. Seorang mahasiswa Universitas Yale keturunan Asia menganjurkan agar warga Amerika keturunan Asia juga aktif memperjuangkan kesetaraan dan menentang rasisme.

Bulan Juni lalu, mahasiswa Eileen Huang berunjuk rasa bersama sekelompok kecil demonstran di jalan yang jarang penduduknya di kota Holmdel, New Jersey, meneriakkan tuntutan reformasi hak-hak sipil yang dikumandangkan demonstran sejak kematian George Floyd di Minneapolis. Pemandangan itu tampak jauh berbeda dari foto-foto demonstrasi besar yang memacetkan jalan-jalan kota-kota terbesar di Amerika.

Berjarak sekitar satu jam perjalanan di selatan kota New York, kota kecil Holmdel berpenduduk kurang dari 17.000 orang.

Tetapi Huang, mahasiswa berusia 20, yang mengambil jurusan Bahasa Inggris di Universitas Yale, mengatakan demonstrasi-demonstrasi di kota-kota kecil Amerika itu sama pentingnya seperti di kota-kota besar.

“Tumbuh di kota ini sebagai orang kulit berwarna, kota yang didominasi kulit putih dan sangat konservatif, sangat kaya. Saya banyak mengalami rasisme secara langsung, misalnya orang bertanya pada saya, ‘dari mana Anda sebenarnya berasal? ‘ Atau misalnya mereka mengatakan agar saya kembali ke negara asal saya. Jadi semua insiden ini membuat saya sangat terdorong untuk memperjuangkan keadilan rasial,” kata Eileen Huang.

Pengalaman pribadi Huang dengan rasisme, sebagai warga Amerika keturunan Asia di kota kecil itu mendorongnya untuk turun ke jalan dan berdemonstrasi. Ia berharap lebih banyak anggota komunitas Amerika keturunan Asia terlibat.

“Jadi menurut saya sikap anti kulit hitam merupakan sesuatu yang berakar kuat pada komunitas Asia-Amerika, khususnya warga Amerika keturunan Asia yang tinggal di kota-kota seperti ini, yang banyak diuntungkan oleh perlakuan istimewa dari pendidikan dan perguruan tinggi elit. Karena kita sudah terlalu lama disuapi model mitos minoritas ini, yaitu ide bahwa mereka lebih baik dan berhak memiliki semua hak istimewa ini,” kata Eileen Huang.

Huang juga mengatakan, demonstrasi-demonstrasi menentang rasisme di kota-kota lain membuatnya bersemangat.

“Saya merasa sangat terdorong oleh semua tindakan spontan dan demonstrasi yang terjadi sekarang, seperti kemarahan dan demonstrasi yang berlangsung selama beberapa minggu lalu. Minneapolis sudah membubarkan atau mulai membubarkan departemen kepolisian mereka. Ada reformasi polisi di seluruh negeri,” kata Eileen Huang.

Mahasiswa Universitas Yale keturunan Asia ini juga menganggap demonstrasi yang baru berlangsung beberapa minggu sudah mencapai jauh lebih banyak daripada pencapaian para legislator dalam beberapa dekade. [my/jm]

Logo VOA Indonesia

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.