Home / Berita Utama / Edukasi

Rabu, 10 Agustus 2016 - 23:07 WIB

Mendikbud Dibully, FDS Terancam Batal

Muhadjir Effendy | Foto: www.umm.ac.id

Muhadjir Effendy | Foto: www.umm.ac.id

PROGRES.ID, JAKARTA – Akhirnya rencana sekolah seharian atau yang dikenal dengan Full Day School (FDS) yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy terancam dibatalkan. Pasalnya, program yang mewajibkan pelajar SD dan SMP di sekolah hingga jam 5 sore mendapatkan kecaman yang dahsyat oleh netizen di pelbagai media sosial.

“Jika memang belum dapat dilaksanakan, saya akan menarik rencana itu dan mencari pendekatan lain,” kata Muhadjir dalam konferensi pers di restoran Batik Kuring, Jakarta, 9 Agustus 2016. “Masyarakat harus mengkritik gagasan ini, jangan keputusan sudah saya buat kemudian merasa tidak cocok.” Dikutip dari Tempo.co.

Baca Juga |  Ketua MPR Berpesan Perbedaan Pilihan di Pemilu Jangan Buat Indonesia Pecah

Kebijakannya tentu dianggap berat sebelah oleh sebagian masyarakat. Asumsi itu hanya benar untuk para pegawai swasta, kebanyakan di kota-kota besar. Dan itu, tidak berlaku bagi petani, nelayan, dan berbagai jenis profesi lain.

Walaupun demikian, Muhadjir tetap akan melakukan pengajian mendalam terhadap FDS karena menurutnya, pendidikan karakter mampu membentuk siswa menjadi sumber daya manusia yang terbaik. Dan kemendikbud akan memetakan sekolah mana saja yang sudah siap mengimplementasikan perpanjangan jam sekolah itu.

Sementara itu, FDS dianggap akan memicu timbulnya kekerasan di lingkungan sekolah. Hal itu disampaikan oleh ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni’am Sholeh dalam keterangan tertulisnya, melalui Viva.co.id Selasa, 9 Agustus 2016. Untuk itu, Asrorun berencana menemui Menteri Muhadjir secara langsung.

Baca Juga |  Awak Kapal Tanker Asing Akui Pindahkan Minyak dan Langgar Sejumlah Ketentuan

“Tanpa ada perbaikan sistem pendidikan dengan spirit menjadikan lingkungan sekolah yang ramah bagi anak, maka memanjangkan waktu sekolah malah akan menyebabkan potensi timbulnya kekerasan di lingkungan sekolah.”

Asrorun menambahkan, ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan yakni salah satunya keragaman kondisi sosial di berbagai daerah.

“Untuk menjawab permasalahan anak, perbaikan kebijakan harus berporos pada anak bukan orang tua,” ujarnya.(dsy)

Share :

Baca Juga

Pasien di Inggris

Berita Utama

Saat Dokter Operasi Otaknya, Pasien di Inggris Ini Tetap Bermain Biola
presiden joko widodo

Berita Utama

Presiden Jokowi Siagakan Penanganan Gempa di Sulawesi Tengah

Berita Utama

Besok, Ahok Akan Kembali Aktif Sebagai Gubernur DKI
Minyak Arab Saudi

Berita Utama

Arab Saudi: Pasokan Minyak Dunia Mencukupi dan Cadangan Bertambah
mariah carey

Berita Utama

Abaikan Seruan Boikot, Mariah Carey Tampil di Arab Saudi
Husni Rizal

Berita Utama

Ketua PT Bengkulu Lantik Nurjusni Jadi Ketua PN Kepahiang

Berita Utama

Media AS Beritakan Pelantikannya Sepi, Donald Trump Geram
Ridwan Mukti

Berita Utama

Reka Ulang Kasus Suap, Ridwan & Lily Kembali ke Bengkulu Tanpa Kenakan Rompi Tahanan KPK
error: Konten ini dirpoteksi !!