Mengapa Rusia Dukung China dalam Sengketa dengan Negara Ketiga?

  • Bagikan

PROGRES.ID –

Rusia, yang pernah menjadi duri dalam hubungan dengan China, mendukung Beijing terkait perselisihannya dengan negara ketiga, termasuk kedaulatan maritim di Asia Tenggara, untuk melawan pengaruh Washington di Asia, menurut pandangan sejumlah pakar.

Dengan militer terkuat kedua di dunia setelah AS, Rusia sesekali mengadakan latihan militer dengan China, sedikitnya empat kegiatan yang dipublikasikan hingga saat ini. Rusia juga menjual senjata ke tetangga raksasanya itu, sekaligus bergabung dengan China dalam mengkritik negara-negara Barat.

Helikopter militer terbang di atas tempat pelatihan selama latihan komando dan staf strategis Center 2019 di lapangan tembak Donguz dekat Orenburg, Rusia, 20 September 2019. (AP)

Helikopter militer terbang di atas tempat pelatihan selama latihan komando dan staf strategis Center 2019 di lapangan tembak Donguz dekat Orenburg, Rusia, 20 September 2019. (AP)

Beberapa pejabat di Moskow sedang berupaya mendukung klaim Beijing atas Laut China Selatan yang diperebutkan. Keberpihakan itu tidak ditunjukkan secara terang-terangan mengingat lima negara Asia lainnya, yang bersaing dengan China atas di jalur perairan yang sama, kata Alexander Vuving, profesor pada Pusat Studi Keamanan Asia-Pasifik Daniel K. Inouye di Hawaii.

China dan Rusia saling membutuhkan untuk menunjukkan kepada Amerika Serikat, mantan musuh Perang Dingin keduanya, bersama sekutu-sekutunya bahwa kedua negara itu tidak “sendirian,” tambah Alexander.

Kapal Angkatan Laut AS secara teratur berlayar di Laut Cina Selatan untuk menjaga agar Beijing tetap terkendali. Sejak akhir Juli lalu, sedikitnya delapan negara sekutu Barat lainnya telah berencana mengirimkan kapal-kapal angkatan laut ke Laut Cina Selatan yang kaya sumber daya yang membentang dari Hong Kong hingga ke Pulau Kalimantan. Langkah itu dilakukan sebagai dukungan agar jalur tersebut tetap terbuka secara internasional daripada dikendalikan oleh China .

“Pada dasarnya, ini lebih merupakan tantangan atas kekuatan global AS daripada keberpihakan Rusia pada China dalam sengketa wilayah di Laut China Selatan,” kata Vuving.

Kapal fregat "Brave" milik Angkatan Laut Rusia berlabuh di St. Petersburg dalam Festival Angkatan Laut, Agustus 2016. Kapal perang ini berpartisipasi dalam latihan militer gabungan angkatan laut Rusia dan China di Laut Baltik pada bulan Juli 2017. (VOA)

Kapal fregat “Brave” milik Angkatan Laut Rusia berlabuh di St. Petersburg dalam Festival Angkatan Laut, Agustus 2016. Kapal perang ini berpartisipasi dalam latihan militer gabungan angkatan laut Rusia dan China di Laut Baltik pada bulan Juli 2017. (VOA)

Rusia dan China mengadakan latihan militer lima hari di wilayah terpencil China tengah pekan lalu, mengikutkan lebih dari 10.000 personel, pesawat, artileri dan kendaraan lapis baja. Demikian seperti diberitakan oleh CGTN (Jaringan Televisi Global China ) melalui situsnya. Tiga tahun lalu, militer kedua negara dilatih di Rusia untuk latihan Vostok-2018 di Rusia dan China mengirimkan 3.200 tentara.

Angkatan bersenjata China masih menggunakan peralatan dan keahlian dari Rusia, kata Collin Koh, seorang peneliti keamanan maritim di Nanyang Technological University di Singapura. Pada tahun 2015 Rusia setuju untuk menjual 24 pesawat tempur kepada China termasuk empat sistem rudal permukaan-ke-udara S-400 dengan harga sekitar $7 miliar. [mg/lt]

logo voa indonesia

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.