Pandemi Gugah Rasa Peduli Sesama

  • Bagikan

PROGRES.ID –

Semuanya bermula dari kebetulan: kebetulan satu angkatan dari satu SMA, kebetulan tinggal di lingkungan yang sama, kebetulan sama-sama memiliki kepedulian sosial, kebetulan sama-sama punya semangat dan niat berbagi untuk sesama. Begitulah gerakan etalase nasi gratis (GENG) mulanya digagas, ditindaklanjuti dengan aksi secara ikhlas, dan dipromosikan dengan giat sehingga berkembang menjadi gerakan yang kini menyebar ke seluruh Indonesia.

Ismi Rohimaningsih, salah seorang pemrakarsa lahirnya GENG. (Foto: Dok Pribadi)

Ismi Rohimaningsih, salah seorang pemrakarsa lahirnya GENG. (Foto: Dok Pribadi)

Ismi Rohimaningsih adalah satu dari empat orang pertama yang menggagas dan aktif dalam gerakan etalase nasi gratis itu. Perempuan yang telah melanglang buana mengikuti penugasan suami yang seorang diplomat ini turut menjadi bidan kelahiran GENG di tempat tinggalnya di Tangerang Selatan. Kini ia juga bertindak sebagai promotor lahirnya gerakan itu ke berbagai daerah di Indonesia.

“Kalau buat saya intinya adalah GENG itu berbagi karena membuat kami bahagia, berbagi untuk membantu, dan berbagi untuk merekatkan Indonesia. Kenapa seperti itu? Karena waktu kita berbagi saya pikir kita mau ngasih bahagia sama orang, (tetapi) yang terjadi adalah waktu berbagi justru kita yang lebih bahagia dari mereka, dan itu menjadi adiktif buat saya, adrenalinnya itu untuk bekerja lagi luar biasa,” papar Ismi.

Selain berbagi, Ismi mengaku mendapat dorongan dari suaminya – yang kini menjabat sebagai Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Kemlu merangkap Kepala Protokol Negara (KPN) – agar gerakan itu memberikan manfaat juga bagi pihak lain, terutama pemilik warung-warung makan yang lesu dan bahkan sebagian hampir mati suri karena pandemi. Caranya ialah dengan memesan nasi bungkus dari mereka, warung-warung kecil itu, dalam jumlah tertentu setiap hari.

Para pengemudi ojek online mengambil nasi bungkus gratis untuk makan siang. (Foto: VOA/Petrus Riski)

Para pengemudi ojek online mengambil nasi bungkus gratis untuk makan siang. (Foto: VOA/Petrus Riski)

“Suami saya bilang, ‘jangan hanya berbagi karena dalam kondisi pandemi ini kan ada banyak yang sulit.’ Di situ kemudian kita mulai berpikir. ‘Nggak usah masak sendiri,’ kata suami saya, tapi justru trickledown theory-nya jalan. Jadi akhirnya saya mencoba membeli dari warung-warung untuk dititipkan di etalase, sehingga kami mendapat dua keuntungan: membantu yang terdampak pandemi karena memang tidak ada pembeli, tapi tetap bisa berbagi,” ujarnya.

Rosalin Mayapada, Managing Director Pace Office dan salah seorang pemrakarsa GENG. (Foto: Dok Pribadi)

Rosalin Mayapada, Managing Director Pace Office dan salah seorang pemrakarsa GENG. (Foto: Dok Pribadi)

Seorang pendiri GENG lainnya, Rosalin Mayapada, berpendapat serupa. Perempuan yang sehari-harinya bekerja sebagai managing director di sebuah kantor perusahaan jasa di Sentral Senayan ini mengatakan bahwa kegiatan itu semata-mata didasari oleh niat berbagi secara konkret serta “menebar kebahagiaan,” terutama pada masa sulit karena pandemi COVID-19.

“Kami pikir orang-orang yang mendapatkan makanan dari etalase kami itu orang-orang membutuhkan, sehingga mereka bisa berbahagia karena hari itu mereka dapat makan minimal satu kali dari etalase kami,” katanya.

“Tapi kebahagiaan itu sebetulnya milik kami. Saya sendiri pernah mengalami. Saya sengaja tidak ngantor, saya mejeng membagi-bagikan (nasi gratis) ke orang-orang yang lewat, para ojol, para pemulung, para pendorong gerobak sampah. Rasanya bahagia sekali melihat mereka menerima makanan dari etalase kami, terharu, ada rasa kebahagiaan yang luar biasa,” tambah Rosalin.

Gerakan yang dimulai sejak Oktober tahun lalu itu pun mendapat sambutan luar biasa dari berbagai kalangan dan individu dari lintas etnis, agama, dan strata sosial, sesuai kemampuan masing-masing. Selain berbagi dan membantu menghidupkan warung-warung nasi, mengikat tali persaudaraan di antara sesama warga bangsa merupakan tujuan lain gerakan ini.

“GENG itu ingin berbagi untuk merekatkan Indonesia. Kita mencoba membuat berbagi ini milik semua, bahwa siapa pun boleh ambil. Ini tidak hanya untuk satu golongan, tapi untuk semua golongan. Kita mencoba merangkul semua orang. Termasuk pemilik etalase, kami berhasil mewujudkan mimpi kami,” kata Ismi.

Seorang tukang perbaikan jam keliling sedang mengambil sebungkus nasi gratis. (Foto: Courtesy)

Seorang tukang perbaikan jam keliling sedang mengambil sebungkus nasi gratis. (Foto: Courtesy)

Pemilik etalase itu, tambahnya, tidak hanya berasal dari satu golongan. Namun juga dari berbagai macam agama, seperti Islam, Kristen, Konghucu dan Buddha.

“Saya bahagia banget, bahwa memang kebaikan itu bisa diterima oleh banyak orang, termasuk dalam hal berbagi. Kemarin itu kami melakukannya tidak hanya di satu daerah tapi kita mencoba memberikannya ke beberapa bagian yang buat kami itu mengikat keragaman kita. Setelah Geng peduli COVID itu kita bikin 1.000 cinta untuk Papua, kemudian ada 1.000 untaian doa di Aceh. Itu yang ingin kami coba bahwa GENG ini ada untuk semua,” jelas Ismi.

Penggalangan dana akhirnya mengalirkan donasi, dan banyak orang bahkan berkomitmen membuka etalase sendiri, dengan sumber dana mandiri. Hingga Juli lalu, tidak kurang dari 70 ribu kotak nasi gratis telah dinikmati oleh orang-orang yang rentan secara ekonomi.

Antrean warga untuk mendapatkan nasi gratis. (Foto: Courtesy)

Antrean warga untuk mendapatkan nasi gratis. (Foto: Courtesy)

Aksi sosial konkret yang awalnya digagas dan dimotori oleh empat sekawan ini – termasuk pebisnis Boy Surya Aditya dan istrinya Anna – kemudian tumbuh berkembang dan telah menyebar ke berbagai kota/provinsi di Tanah Air. Rosalin mengaku bahwa keberhasilan itu berkat kegigihan Ismi untuk berpromosi kepada jaringannya, melalui ajakan ala word of mouth (dari mulut ke mulut .red), serta penggunaan media sosial.

“Bu Ismi pun bicaralah kepada teman-temannya sehingga mulai bermunculan, ada yang meminta untuk pasang etalase sendiri, ada juga yang membantu berdonasi dan sebagainya sehingga semuanya bergulir ke seluruh Indonesia,” kata Rosalin.

Gerakan untuk menyediakan nasi gratis yang boleh diambil siapa saja yang memerlukan itu kemudian bersayap dengan gerakan khusus peduli COVID dengan fokus penerima manfaatnya adalah orang-orang yang berkecimpung langsung dalam penanganan COVID, yang mencakup tenaga kesehatan, tim pemulasaraan, petugas pemakaman, penggali kubur, dan orang-orang yang sedang menjalani isolasi.

Untuk itu, sejak diberlakukannya lagi kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada awal Juli 2021, gerakan ini telah mendistribusikan sedikitnya 20.100 kotak nasi gratis.

“Kami juga memutuskan untuk mengadakan penggalangan dana lagi atau melakukan kegiatan gerakan etalase nasi gratis peduli COVID. Jadi khusus untuk membantu masyarakat yang terdampak oleh COVID. Jadi, dimulai awalnya pada awal Juli kami memasukkan 1.000 nasi gratis ke penampungan rumah COVID di Nagrak Cilincing, Jakarta Utara,” katanya.

Dari situ, tambah dia, ternyata begitu banyak lagi donasi yang masuk dari teman-teman, dari mulut ke mulut, dari teman ke teman.

Seorang ibu mengambil nasi gratis. (Foto: Courtesy)

Seorang ibu mengambil nasi gratis. (Foto: Courtesy)

“Sehingga hingga akhir Agustus kemarin kami sudah mendistribusikan sebanyak 20107 nasi bungkus di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua,” tukas Rosalin.

Mengenai prospek keberlanjutan gerakan ini ke depan, baik Rosalin maupun Ismi. merasa optimis karena semakin banyak orang telah menyatakan minat untuk bergabung. Para peminat berasal dari berbagai golongan dan datang dari seluruh penjuru Tanah Air.

“Karena yang kita lakukan itu kan sangat ridho banget. Jadi, kalau untuk sustainability kegiatan etalase itu sendiri, saya yakin itu akan terus berjalan. Malah sekarang sudah semakin banyak yang mau.” [lt/em]

logo voa indonesia

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.