Mendikbud, Muhadjir Effendy (baju putih) dalam peresmian program one in eleven di Sekolah Luar Biasa Pembina Tingkat Nasional, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (1/2/2017) | Foto : Kemdikbud

PROGRES.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bekerja sama dengan UNICEF dan FC. Barcelona (FCB) Foundation meluncurkan program kemitraan One in Eleven di SLB Pembina Tingkat Nasional, Lebak Bulus, Jakarta, Rabu pagi ini (1/2/2017).

Indonesia, bersama Nepal dan Bangladesh, merupakan satu dari tiga negara terpilih sebagai Pilot Project kemitraan One in Eleven. Jika Pilot Project ini sukses, maka program ini rencananya akan dikembangkan juga di negara lain.

Dari rilis Kemdibud (1/2) dijelaskan bahwa program One in Eleven merupakan sebuah kerja sama unik antara pemerintah suatu negara, UNICEF, FCB Foundation, dan Reach Out to Asia (ROTA), yang bertujuan untuk menggunakan kekuatan olahraga dan pendidikan untuk memastikan bahwa semua anak mendapatkan kesempatan yang layak dalam hidupnya.

Metode pendidikan inklusif ini dikembangkan oleh FutbolNet dan merupakan metode pendidikan dengan pendekatan olah raga untuk siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Metodologi FutbolNet ini memiliki filosofi HEART yang merupakan kepanjangan dari Humility (rendah hati), Effort (usaha), Ambition (ambisi), Respect (hormat) dan Team work (kerja tim).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dalam sambutannya mengatakan bahwa baru 18 persen dari total populasi ABK (difabel) di Indonesia yang telah ditangani dengan baik. Masih ada banyak tugas besar dalam penanganan anak penyandang disabilitas

“Saya berharap program ini bisa maksimal membantu anak-anak penyandang disabilitas untuk mengembangkan bakat dan kemampuan untuk melanjutkan hidup supaya bisa sepenuhnya diterima di tengah-tengah masyarakat,” ujar Muhadjir, dilansir dari Juara.Net (1/2)

Kegiatan yang juga dihadiri perwakilan dari UNICEF Indonesia, Suhaeni Kudus, dan perwakilan FCB Foundation ini diikuti oleh tidak kurang dari 330 anak dari berbagai sekolah dengan bermacam latar belakang berbeda.

Dipandu oleh pelatih dari Asian Soccer Academy (ASA) Foundation, anak-anak ini dengan riang bermain bola dan permainan lainnya di lapangan SLB Pembina. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok heterogen yang terdiri dari siswa SLB maupun sekolah reguler dalam satu kelompok

Meski bernama FutbolNet, sebenarnya metode ini tidak harus melulu menggunakan sepak bola. Dalam penerapannya di Indonesia menggunakan sepak bola, karena olahraga ini dianggap familiar dan digemari masyarakat.

“Kami memilih Indonesia berdasarkan strategi dari pemikiran UNICEF. Selain itu, negara ini juga memiliki semangat yang besar kepada sepak bola, terutama Barcelona. Kami memiliki banyak fans dari Indonesia,” ucap Marc, salah satu perwakilan FC Barcelona Foundation, pada Juara.Net.

Sebagai kelanjutan launching ini, pada 2 – 5 Februari 2017 juga akan diadakan seminar untuk para guru, pelatih serta relawan remaja yang bersentuhan langsung dengan anak-anak jalanan dan anak-anak di wilayah rentan bencana.

Seminar tersebut akan membahas pengenalan metodologi pendidikan inklusif yang dikembangkan oleh FutbolNet. Dengan seminar ini diharapkan agar pengetahuan yang didapat oleh para peserta akan meningkatkan kapasitas mereka dalam kegiatan belajar dan mengajar yang inklusif di sekolah masing-masing, terutama bagi guru-guru di sekolah regular, madrasah, dan sekolah satu atap.

“Kepada para pengasuh dan para guru, menangani mereka memang bukan pekerjaan yang mudah. Saya titip, mohon asuhlah mereka dengan sepenuh hati, dengan penuh empati,” pesan Mendikbud menutup sambutannya. (dsy)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.