Home / Berita Utama / Internasional

Senin, 6 September 2021 - 09:55 WIB

Peneliti Australia Temukan Spesies Baru Reptil Terbang Purba

PROGRES.ID –

Para peneliti mengatakan pterosaurus, sejenis reptil terbang, adalah “hewan paling mirip naga di kehidupan nyata.”

Dengan mulut seperti tombak dan lebar sayap yang diperkirakan mencapai 7 meter, mereka mengatakan hewan itu kemungkinan “membumbung layaknya naga” di atas laut pedalaman nan luas yang pernah menutupi sebagian besar pedalaman Queensland.

Pemeran Pterosaurus, atau reptil terbang, terlihat di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian selama pratinjau media "David H. Koch Hall of Fossils-Deep Time" di Washington, Selasa, 4 Juni 2019. (Foto: AP/Carolyn Kaster)

Pemeran Pterosaurus, atau reptil terbang, terlihat di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian selama pratinjau media “David H. Koch Hall of Fossils-Deep Time” di Washington, Selasa, 4 Juni 2019. (Foto: AP/Carolyn Kaster)

Ahli paleontologi mengatakan hewan itu sempurna untuk manuver terbang, dengan tulang yang relatif berongga dan berisi udara. Sisa-sisa bangkai pterosaurus amat jarang ditemukan dan seringkali tidak terawetkan dengan baik.

Sehingga, penemuan fosil rahang mahluk itu di sebuah area tambang pada tahun 2011 oleh seorang ahli fosil lokal adalah sebuah penemuan penting. Selama beberapa tahun, fosil itu terpajang di lemari sebuah museum sebelum akhirnya diteliti oleh tim University of Queensland.

Direktur Museum Nasional Alexander Kellner menunjukkan fosil fragmen tulang, bagian atas, dari reptil terbang Pterosaurus, yang ditemukan di Antartika, saat presentasi media di Rio de Janeiro, Brazil, Rabu, 16 Januari 2019. (Foto: AP/Leo Correa)

Direktur Museum Nasional Alexander Kellner menunjukkan fosil fragmen tulang, bagian atas, dari reptil terbang Pterosaurus, yang ditemukan di Antartika, saat presentasi media di Rio de Janeiro, Brazil, Rabu, 16 Januari 2019. (Foto: AP/Leo Correa)

Tim Richards, peneliti di laboratorium dinosaurus universitas itu, mengatakan bahwa mahluk itu kemungkinan merupakan seekor predator purba yang kejam.

“Yang bisa kami lakukan terhadap fosil rahang itu adalah membandingkannya dengan pterosaurus lain yang fosilnya lengkap dan paling erat kemiripannya, lalu pada dasarnya membuat hipotesis dari sana,” katanya.

“Kita tahu bahwa fosil rahang yang kita lihat ini cukup besar jika dibandingkan dengan pterosaurus lain. Kami berasumsi tentunya – dan ini adalah sebuah spekulasi – bahwa ukuran kasar pterosaurus ini kemungkinan memiliki lebar sayap sekitar 7 meter. Tengkoraknya mungkin sepanjang satu meter,” tambah dia.

Spesies baru itu termasuk ke dalam kelompok pterosaurus yang dikenal sebagai anhanguerians, yang mendiami setiap benua pada separuh akhir peradaban dinosaurus.

Nama spesies baru itu – Thapunngaka shawi – diambil dari nama masyarakat adat yang menghuni wilayah Richmond di mana fosil itu ditemukan, menggunakan kata-kata dari bahasa Wanamara Nation yang kini telah punah di Queensland.

Pterosaurus sendiri digambarkan pertama kali pada Jurnal Paleontologi Vertebrata.

Pterosaurus adalah reptil terbang yang tidak diklasifikasikan sebagai dinosaurus, meski hidup pada masa yang sama.

Fosil-fosil yang telah ditemukan menunjukkan bahwa Australia memiliki keragaman dinosaurus yang kaya, yang hidup sekitar 65 hingga 250 juta tahun lalu. [rd/jm]

logo voa indonesia

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Dugaan Korupsi Jalan Pulau Enggano Tahun 2016, Kejati Bengkulu Geledah 4 Ruangan Dinas PU Pera

Berita Utama

Korea Utara Tembakkan Rudal Jelajah Jarak Jauh

Berita Utama

Masa Jabatan Presiden Tiga Periode Banyak Kerugiannya

Berita Utama

Khawatir Pandemi, Banyak Perempuan AS Pilih Melahirkan di Rumah

Berita Utama

Sejumlah Rumah Sakit di AS Kewalahan Hadapi Lonjakan Kasus COVID-19
Ridwan Mukti

Berita Utama

Ditetapkan Jadi Tersangka, RM Undur Diri & Minta Maaf pada Masyarakat Bengkulu
Gubernur Rohidin meninjau RSUD

Berita Utama

Meninggal Dunia, Gubernur Umumkan Seorang PDP di Bengkulu Dinyatakan Positif Covid-19

Berita Utama

Jokowi Akan Beri Rp 600 Ribu Bagi Pegawai Swasta Bergaji di Bawah Rp 5 Juta