Petani Australia Ubah Bangkai Kambing Liar Menjadi Kompos

  • Bagikan

PROGRES.ID –

Selama 15 tahun, peternak sapi Martin Royds telah berbagi lahannya di Lembah Araluen sekitar 290 km bagian selatan Sydney dengan kambing liar.

Martin, seorang petani regeneratif, menginginkan lahan yang mengalami kemunduran dengan cepat itu menjadi lebih baik. Kambing-kambing liar itu memakan habis tumbuh-tumbuhan asli sehingga menghentikan regenerasi hutan.

Petugas biosekuriti, Nicky Clarke ketika melakukan survei lahan bersama Martin mengemukakan, “Mereka merusak vegetasi, menyebabkan degradasi lahan dan mereka juga bersaing dengan hewan asli.”

Namun, cerita itu sekarang berbeda. Pemusnahan melalui udara telah menghilangkan apa yang tidak diinginkan Martin. “Menurut kami, hampir semua kambing liar sudah dimusnahkan dan mungkin hanya seekor babi yang tersisa. Mungkin satu ekor babi itu pun terlalu banyak, saya kurang tahu.”

Dua petani mengolah kompos di pertanian mereka (foto: ilustrasi).

Dua petani mengolah kompos di pertanian mereka (foto: ilustrasi).

Bangkai-bangkai hewan yang dimusnahkan biasanya dibiarkan membusuk atau dibuang ke tempat pembuangan akhir. Banyak kalangan mencemaskan itu termasuk penggemar organik Gerry Gillespie.

“Oh, sungguh tragedi besar ketika orang-orang menembak sesuatu dan membiarkannya tergeletak di tanah. Ini adalah makhluk hidup yang sebenarnya telah disingkirkan dari kehidupan,” ujarnya.

Penduduk lokal Queanbeyan mempunyai solusi warisan dari jaman dahulu, yakni pengomposan.

Gerry lebih jauh menjelaskan, “Pada dasarnya tumpuklah kambing-kambing yang sudah mati itu dengan lapisan bahan organik, misalnya lapisan bahan organik, kemudian kambing, kemudian bahan organik dan seterusnya. Kemudian tumpukan itu disuntik dengan cairan yang sangat sederhana, lalu letakkan penutup di atasnya. Biarkan selama sekitar enam bulan. Setelah itu Anda akan mendapatkan produk pupuk yang sangat bagus.”

Hasilnya merupakan alternatif dari pupuk kimia berupa pupuk organik dan berkelanjutan. Gerry menilai itu tidak memerlukan biaya apa pun di mana pupuk merupakan salah satu pengeluaran paling besar dalam pertanian di Australia.

Tujuh tahun lalu, Martin Royds menerima gagasan itu untuk membuat gundukan komposnya sendiri.

Di bawah lapisan penutup terdapat campuran serpihan-serpihan kayu dan kambing-kambing yang mati. Hasilnya, pupuk yang sangat baik. Kembali Martin menyampaikan, “Pengeluaran kami lebih sedikit. Tanah lebih baik dan ternak sapi senang. Ini tidak perlu banyak usaha dan dana.”

Begitulah cara petani di Australia itu mengubah masalah kambing liar menjadi solusi yang ramah terhadap lingkungan. [mg/lt]

logo voa indonesia

banner 336x280
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.