Soal Matinya Ikan dan Penyu, Warga Teluk Sepang Sebut Ada Fitnah Sudutkan PLTU

Desember 6, 2019
Berita Utama Lingkungan 0   120 views 0
Kawasan Teluk Sepang

Foto: Hendry Dunan/PROGRES.ID

BENGKULU, PROGRES.ID – Kematian sejumlah penyu dan ikan yang terjadi di kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkulu masih menjadi pertanyaan masyarakat di Kota Bengkulu. Bahkan, warga dan nelayan di sekitar Teluk Sepang menuding ada oknum yang tidak menyukai PLTU beroperasi, hingga membuat fitnah.

Warga RT 14 Kelurahan Teluk Sepang Kota Bengkulu, Gimin mengaku, aktivitas operasi PLTU diyakininya tidak memberikan dampak yang buruk kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Ia juga mengaku, kesehatan warga tidak terdampak dengan beroperasinya PLTU tersebut, termasuk juga hewan laut.

“Sejauh ini tidak ada (masalah kesehatan) mas, kalau ada, itu mungkin bukan gara-gara PLTU tapi karena biasa kerja di stockpile batubara di sekitar sini,” tuturnya.

Menanggapi kematian penyu dan ikan di sekitar area pembuangan air bahang milik PLTU, Gimin mengaku sudah sejak 2005 lalu ia mendapati penyu dan ikan yang mati di Pantai Teluk Sepang. Kematian ikan dan penyu itu kemungkinan disebabkan akibat aktivitas nelayan yang memasang jaring panjang di tengah laut.

“Penyu dan ikan mati karena terkena jaring nelayan, setelah mati kemudian terdampar ke daratan, selain itu penyu juga bisa mati karena tidak bisa membalikkan tubuhnya akibat gelombang pantai yang tinggi,” ujar Gimin.

Tidak hanya itu, Gimin menilai, jika penyu dan ikan mati akibat aktivitas PLTU, maka harusnya tidak hanya penyu dan ikan kecil saja yang ditemukan di sana, namun juga yang berukuran besar.

Gimin bahkan menilai ada oknum yang memanupulasi kematian ikan dan penyu. Oknum itu adalah orang yang tidak senang dengan beroperasinya PLTU Bengkulu, sehingga dengan sengaja membuang bangkai penyu dan ikan di sekitar PLTU.

“Ini pasti ada orang yang mencoba memfitnah PLTU, kalau memang pembuangan air bahang PLTU mematikan, tidak mungkin masih banyak ikan di sekitar area itu,” tutupnya.

Hal senada juga diungkapkan warga Teluk Sepang lainnya, Nurhayati. Ia meyakini, kematian penyu dan ikan memang disengaja dan direkayasa oleh oknum yang tidak senang dengan keberadaan PLTU Bengkulu.

“Bisa jadi penyu memang sengaja dibunuh dan ikan memang sengaja dibeli dari nelayan. Kami yakin memang ada tukang fitnah, soalnya banyak orang sering berkeliaran ke sana bawa karung dan tidak tahu apa isinya. Kalau boleh saran di sana memang harus dipasang kamera CCTV biar tahu siapa yang membuang bangkai tersebut,”
tutupnya.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Bengkulu menyebut kematian penyu dan ikan bukan dampak dari beroperasinya PLTU Teluk Sepang.

Buktinya, berdasarkan hasil laboratorium yang telah dilakukan oleh Dinas DLH Provinsi Bengkulu pada 21 November 2019 menunjukkan outlet air di saluran pembuangan masih memenuhi baku mutu air dengan parameter ph 8,32, suhu air 35?, dan Dhl 13,5 ms. Health, safety and environment (HSE).

Insinyur PT Tenaga Listrik Bengkulu, Zulhelmi Burhan menuturkan, tidak hanya dari hasil laboratorium yang disampaikan oleh Dinas LHK Provinsi Bengkulu, PLTU juga rutin melakukan uji air bahan di saluran pembuangan.

Mereka mengklaim tidak ada senyawa kimia berbahaya yang dibuang di saluran pembuangan air bahang. “Kalau memang saluran pembuangan air tidak mengandung zat berbahaya dan mematikan,  tidak mungkin ikan-ikan kecil hidup di area pembuangan air bahang,” kata Zul.

Ia mengaku, pihaknya tidak dapat berkomentar lebih terkait matinya sejumlah penyu dan ikan yang ditemukan di area PLTU. Untuk saat ini pihaknya masih menunggu hasil laboratorium yang dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu. Meski begitu, Ia meyakini kematian penyu dan ikan tersebut bukan akibat dari aktivitas operasi PLTU.

“Untuk saat ini kita tunggu saja hasil lab dari BKSDA Provinsi Bengkulu, tapi kami yakin itu bukan disebabkan oleh PLTU,” tutupnya.(hd)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.