Karnaval Batik Besurek
Karnaval Batik Besurek memperingati HUT Provinsi Bengkulu ke-47 dan Hari Batik Besurek ke-2 pada Rabu (18/11/2016) | Foto: Bappeda Kota Bengkulu/PROGRES.ID

PROGRES.ID, BENGKULU – Batik Besurek atau dikenal juga dengan sebutan kain Besurek merupakan kerajinan batik khas Kota Bengkulu. Batik Besurek memang sudah mulai dikenal di Indonesia. Bahkan, tahun 2016 ini, Pemkot Bengkulu menggelar Festival Batik Besurek sebagai bentuk promosi kerajinan itu.

Sayangnya, produksi batik Besurek di Bengkulu ternyata masih terkendala sejumlah hal. Berdasarkan karya tulis Tim IbPE Universitas Bengkulu (Unib) oleh Muria Herlina, Kamaludin dan Gushevinalti yang dipublikasikan Unmas Denpasar menyebutkan bahwa pakaian Batik Besurek yang dijual di sejumlah tokoh di Bengkulu ternyata dibuat oleh pengrajin dari Pekalongan, Solo dan Yogyakarta.

Dalam karya tulis itu, penulis sempat melakukan survey di sejumlah tokoh kerajinan dan makanan khas Bengkulu di kawasan Anggut atau Jalan Soekarno-Hatta Bengkulu. Para penjualnya mengakui bahwa Batik Besurek yang mereka jual dipesan dari Pekalongan dan Solo.

“Batik yang kami jual ko dari Pekalongan. Mulonyo kami pesan dan kirim beberapa contoh motif batik Besurek. Kini kami tidak pesan lagi karena pengrajin di Pekalongan atau Solo kini sudah ahli membuat motif Batik Besurek, kami  tinggal nerimo ajo kek jual. Hargonyo murah dan kerjaonnya rapi, bersih. Bukan idak peduli dekek pengerajin kito, coba ibu liek hasil pengerajin Bengkulu, upahnya mahal hasilnya kurang memuaskan,” ungkap EY (47 tahun) dalam karya tulis itu pada wawancara yang dilakukan Februari 2015 Pukul 16.15 WIB.

Kondisi itu dikeluhkan oleh pengrajin batik Besurek lokal atau asli Bengkulu. Menurut salah seorang pengerajin batik Besurek di Kota Bengkulu yang sudah menekuni usahanya lebih dari 10 tahun di kawasan Lempuing mengkhawatirkan Kain Besurek karya lokal akan tergerus.

“Usaha kami bisa bangkrut jika semua penjual atau toko memesan batik dan busana dari Jawa. Mereka bisa  jual murah, sedangkan kami lebih mahal dari mereka karena dibuat langsung ditulis, dan di cap. Sementra mereka pada umumnya menggunakan mesin, modal mereka di Jawa besar. Kalo kita boro-boro mau beli mesin untuk mempertahankan produk ini saja susah karena kekurangan modal. Harga bahan baku (kain putih) mahal dan upah jahit juga di Bengkulu mahal,” keluh TN (64 Tahun) pada wawancara di survey itu pada Juni 2015 pukul 10.30 WIB.

Jurnalis Progres.id sempat bertanya kepada warga Bengkulu bernama Dadang yang pernah berkunjung dan berbelanja di salah satu tokoh Besurek di Pekalongan, Jawa Tengah.

Besurek Pekalongan
Salah satu tokoh dan tempat produksi Batik Besurek di Pekalongan | Foto: Istimewa/PROGRES.ID

“Saya beli kemeja Batik Besurek di tokoh Raflessia Batik di kawasan Wiradesa Pekalongan. Harga Besurek di sana jauh lebih murah, bahkan bisa selisih Rp 100 Ribu,” ungkap Dadang.

Menurut Dadang, pemilik tokoh sekaligus tempat kerajinan batik itu adalah putra Bengkulu yang saat ini sudah menetap di Pekalongan.

“Pekalongan memang dikenal sebagai kota batik. Jadi, kalau saya perhatikan tak hanya batik Jawa yang ada di sana, sejumlah batik khas dari luar Jawa juga diproduksi di sana (Pekalongan). Tokoh yang saya kunjungi dan sempat beli baju itu milik Ruspianto. Beliau putra Bengkulu, tapi sudah jadi warga Pekalongan,” jelas Dadang.

Ia menjelaskan Toko Raflessia milik Ruspianto telah mengirim banyak produk Besurek ke Bengkulu.

“Menurut pemiliknya banyak pesanan datang dari Bengkulu. Di toko itu juga memproduksi batik Besurek cap atau pun tulis,” terangnya.(pid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.