Home / Berita Utama / Internasional

Jumat, 3 September 2021 - 03:07 WIB

UE Pertimbangkan Bentuk Pasukan Penanggap Cepat pasca Krisis Afghanistan

PROGRES.ID –

Para Menteri Pertahanan Uni Eropa, Kamis (2/9) membahas beberapa proposal untuk pasukan penanggap cepat Eropa setelah blok negara itu ditinggalkan selama upaya evakuasi pimpinan AS dari Afghanistan.

Sejumlah seruan telah meningkat agar kelompok 27 negara itu mengembangkan kemampuan militer gabungannya sendiri untuk menanggapi secara cepat krisis menyusul skenario kekacauan di bandara Kabul setelah Taliban merebut kekuasaan.

Para menteri itu berencana mengkaji kembali sebuah proposal, pertama kali diumumkan pada Mei lalu untuk membentuk pasukan berkekuatan 5.000 anggota sebagai bagian dari strategi keseluruhan Uni Eropa yang diharapkan dapat diselesaikan tahun depan.

Namun, keraguan besar muncul apakah ada kemauan politik untuk pembentukan pasukan seperti itu. Blok itu, misalnya, tidak pernah menggunakan sebuah sistem yang dibentuknya pada 2007 dan disebut kelompok tempur.

“Jelas kebutuhan bagi lebih banyak pertahanan Eropa nyata kini menyusul kejadian di Afghanistan,” kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell pada awal pertemuan.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell

“Kadang-kadang sesuatu terjadi yang mendorong sejarah, ini menciptakan sebuah terobosan dan saya pikir peristiwa di Afghanistan musim panas ini merupakan salah satu dari kasus seperti itu,” tambahnya.

Ditanya tentang kemungkinan pembentukan pasukan baru, Borrell menegaskan bahwa, “Kita harus mengusahakan sesuatu yang lebih siap untuk diaktifkan, lebih operasional” dibandingkan kelompok tempur yang terabaikan.

Menteri Pertahanan Slovenia Matej Tonin — yang negaranya menjabat sebagai presiden bergilir Uni Eropa sekaligus tuan rumah pertemuan di perkebunan milik negara, Kastil Brdo di barat laut ibukota Ljubljana — memperkirakan pasukan tanggap cepat itu dapat mencapai 5.000 hingga 20.000 personel.

Tonin menyerukan sebuah sistem baru dengan pasukan dari “negara-negara yang bersedia” dikerahkan dibawah bendera Uni Eropa jika sekelompok negara anggota mayoritas setuju, dan tidak membutuhkan persetujuan penuh sebagaimana disyaratkan untuk kelompok tempur di masa lalu itu.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer mengatakan pelajaran dari Afghanistan adalah Eropa harus dapat “bertindak lebih mandiri” untuk menjadi aktor yang kredibel.

Namun ia menegaskan “sangat penting bagi kita agar tidak bertindak sebagai alternatif untuk NATO dan Amerika”.

Ia tampaknya menolak gagasan kekuatan yang berdiri sendiri, dan melalui Twitter menyatakan “koalisi dari negara yang bersedia” di antara negara-negara anggota dapat bersatu untuk mengatasi krisis di masa mendatang. [mg/jm]

logo voa indonesia

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Tema Vaksinasi Dominasi Festival Dewa Gajah di India 

Berita Utama

Pemda AS Kesulitan Dapatkan Peminat Kerja di tengah Pandemi

Berita Utama

Video-Radio Jembatani Komunikasi Warga Senior Diaspora Indonesia di AS
KApolda Supratman gubernur Rohidin dan Kapolri Tito

Berita Utama

Polda Bengkulu Jadi Tipe A, Gubernur Rohidin Yakin Bisa Dukung Kemajuan Daerah

Berita Utama

PM Israel Kunjungi AS

Berita Utama

Menanti Strategi Pemulihan Sektor Pariwisata di Masa Pandemi

Berita Utama

Rencana Pajak Global Harus Bertujuan Lebih Tinggi
Mendagri Tjahjo Kumolo

Berita Utama

Kemendagri Pastikan 30 September Batas Akhir Pembuatan KTP Elektronik