Dol Arastra Bengkulu
Penampilan sanggar seni Arastra Bengkulu di ajang Rainforest World Music Festival 2016 | Foto: Worldmusiccentral.org

PROGRES.ID, SARAWAK – Grup musik tradisional asal Bengkulu, Dol Art Association Tradition (Arastra) Bengkulu menjadi wakil Indonesia satu-satunya dalam ajang Rainforest World Music Festival (RWMF) pada 5 hingga 7 Agustus 2016 di Kuching, Sarawak, Malaysia.

Grup musik tradisional khas Bengkulu ini mendapat sambutan hangat dari ribuan penonton di ajang tersebut. Pada laman situs Worldmusiccentral.org dengan berita berjudul ‘Rainforest World Music Festival 2016: 25 bands covering all 5 continents!’ menyebutkan ada 17 grup musik tradisional dari seluruh dunia dan 8 grup dari Malaysia tampil dalam ajang internasional tersebut.

17 grup musik dunia itu yakni Auli (Latvia), Broukar (Syria), Derek Gripper (South Africa), Dol Arastra Bengkulu (Indonesia), Dya Singh (Australia/Malaysia), Krar Collective (Ethiopia), Lan Dieu Viet (Vietnam), Naygayiw Gigi (Australia), Nukariik (Canada), Pat Thomas & Kwashibu Area Band (Ghana), Shanren (China), Stelios Petrakis Quartet (Greece), Chouk Bwa Libete (Haiti), Teada (Ireland), Vassvik (Norway), Violons Barbares (Bulgaria, Mongolia, France), and Vocal Sampling (Cuba).

Mengutip tulisan di PontianakPost.com dengan judul berita ‘Tampilkan Musik Heroik Mengenang Hasan dan Husein’ disebutkan bahwa sanggar seni yang dipimpin Sukri Ramzan inimenampilkan tujuh pemain laki-laki yang mengenakan kostum warna merah tersebut tampil dengan sangat atraktif. Dol dengan berat 25 kilogram yang terbuat dari batang pohon kelapa dimainkan dan diangkat ke sana kemari. Arastra tampil sekira  30 menit dan berhasil membuat penonton terbelalak.

Manager Sanggar Seni Dol Arastra, Edy Utama menjelaskan, seni musik gendang dol ini merupakan warisan tradisi Islam masyarakat di Bengkulu. Kesenian dol ini dibawa dari Timur Tengah dan merupakan bagian dari budaya Festival Tabot.

Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Hasan dan Husein dalam peperangan yang digelar setiap 1 Muharam tiap tahunnya.

“Upacara ini memang menggambarkan ritual yang sangat heroik, untuk mengenang kepahlawanan Hasan dan Husein,” jelas Edy seperti dikutip PontianakPost.com.(pid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.