Baby Blues Syndrome/ Rayapos.com

PROGRES.ID, JAKARTA- Pasca melahirkan seorang ibu rentan terkena Baby Blues. Gejala ini menyerang seorang ibu dengan tanda-tanda stres tinggi, perasaan gelisah bahkan membeci bayinya sendiri.

Memiliki seorang bayi memang menyenangkan tetapi yang mungkin beberapa wanita belum sadari adalah hal tersebut juga melelahkan. Setelah melahirkan ibu tentu sangat bahagia mendapatkan seorang bayi dan merasa semakin dicintai oleh pasangan.

Namun, di lain sisi tanpa sadar seorang ibu jadi mudah menangis bahkan sampai stres oleh hal-hal yang biasanya tidak menggangu.

Stres dan perasaan sensitif itu dapat menyebabkan seorang ibu kelelahan, susah tidur, atau cemas. Selera makan juga bisa meningkat atau menurun. Stres tersebut dapat makin menjadi-jadi ketika ibu memendam kekhawatiran apakah bisa menjadi ibu yang baik, cukupkah ASI yang didapat bayi, kenapa bayi menangis terus, dan lain sebagainya.
Penyebab & Cara Penanganannya

Setelah melahirkan, tubuh perempuan akan berubah dengan cepat. Tingkat hormon berkurang, ASI muncul, payudara akan membesar, dan akan merasa lelah. Masalah fisik seperti ini adalah salah satu faktor munculnya rasa gelisah tersebut.

Kurang tidur juga dapat memperburuk kondisi ini, jadi istirahatlah yang cukup. Selain itu faktor emosional juga mempengaruhi gejala ini. Karena seorang ibu tiba-tiba akan mendapatkan tanggung jawab baru, seperti mencemaskan kondisi bayi dan masa transisi menjadi seorang Ibu. Tetapi kabar baiknya adalah perasaan ini bukanlah penyakit, dan akan menghilang dengan sendirinya. Dukungan dari keluarga dan teman akan sangat membantu.

Ketika perasaan sedih atau gelisah itu mulai mengganggu, cobalah bicara pada orang yang dipercaya. Suami atau ibu misalnya. Teman yang juga sudah pernah melahirkan pun dapat jadi orang yang diajak berbagi. Biasanya mereka lebih paham dan mampu menenangkan kegelisahan tersebut. Ketika Orang Terdekat Merasakan Baby Blues.

Siapa pun juga dapat mengalami Baby Blues. Rasa lelah, tidak yakin pada diri sendiri dapat menjadi beban bagi mereka karena belum pernah mengalami hal ini sebelumnya.

Ketika mereka sedang mengalaminya, cobalah yakinkan pada sang ibu bahwa ia bukan satu-satunya wanita yang mengalami Baby Blues. Cukup dengan mendengarkan keluh kesahnya, dan juga berikan semangat kepadanya. Lalu katakan padanya bahwa ia sudah melakukan semuanya dengan baik. Berikan perhatian padanya dengan menerima pesan singkat darinya, membuat makan malam untuknya, serta bantu dia membuat jadwal dan daftar prioritas tentang mana hal-hal yang harus ia selesaikan dan mana yang bisa ditunda dahulu.

Baby Blues atau Depresi Pasca Melahirkan

Orang-orang kadang keliru membedakan antara Baby Blues dengan depresi pasca melahirkan karena dua hal tersebut memiliki gejala yang sama. Jadi dari mana Anda tahu apakah yang Anda alami ini baby blues atau depresi?

Di minggu-minggu pertama, ibu sudah pasti akan mengalami emosi yang naik turun. Ibu bisa saja merasa bahagia, namun dengan cepat perasaan senang itu berubah menjadi tangisan.

Kalau perasaan gelisah dan emosi yang naik-turun itu terus terjadi selama lebih dari tiga minggu pasca melahirkan, ibu sebaiknya menghubungi dokter atau bidan dan meminta bantuan tenaga profesional. Jika ibu memiliki sejarah depresi dan dalam riwayat keluarga terdapat sejarah masalah tersebut, maka Anda kemungkinan besar akan mengalaminya. (dsy)

sumber: Detikwolipop

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.