Home / Internasional / Politik

Minggu, 8 November 2020 - 22:33 WIB

Biden Terpilih Jadi Presiden Setelah Hampir Setengah Abad Berkarier di Politik

Joe Biden saat masih menjabat sebagai Wapres AS berjabat tangan dengan Presiden Joko Widodo saat tiba untuk menghadiri jamuan makan siang di Naval Observatory, 28 Oktober 2015 (Foto: Setpres)

Joe Biden saat masih menjabat sebagai Wapres AS berjabat tangan dengan Presiden Joko Widodo saat tiba untuk menghadiri jamuan makan siang di Naval Observatory, 28 Oktober 2015 (Foto: Setpres)

PROGRES.ID – Penghitungan suara masih dilakukan hanya di beberapa negara bagian, termasuk negara bagian Pennsylvania, di mana perbedaan dalam perolehan suara sangat tipis.

Presiden Donald Trump dan pendukungnya mengklaim ada penyimpangan yang, kata mereka, dapat membalikkan hasil pemilihan saat ini.

Namun, setelah berbagai jaringan berita Amerika memproyeksikan calon Partai Demokrat Joe Biden meraup keunggulan yang tidak dapat dikejar, dia menyatakan kemenangan dan berusaha menjembatani perpecahan politik di Amerika.

“Untuk Anda semua yang memilih Presiden Trump, saya memahami kekecewaan malam ini, saya sendiri pernah kalah beberapa kali. Tapi sekarang, mari saling memberi kesempatan,” kata Biden.

Selama kampanye pemilihan, Presiden Trump menekankan pada kerusuhan sosial, hukum dan ketertiban, sementara Biden mengkritik Trump karena penanganan pandemi Covid-19.

Presiden Trump tertinggal dalam jajak pendapat. Dia melakukan kampanye yang sangat bersemangat di negara bagian-negara bagian seperti Michigan dan Wisconsin, di mana para pemilih dipandang terpecah.

Selama delapan tahun, Biden adalah wakil presiden Barack Obama dan memainkan peran utama dalam pemerintahannya.

Berbeda dengan Presiden Trump, seorang pendatang baru dalam dunia politik ketika terpilih pada 2016, Biden adalah seorang politisi berpengalaman, fakta yang didengungkannya selama kampanye.

Baca Juga |  Polisi Gedung Capitol AS Selidiki 'Ancaman Bom’

“Saya akan mengatakan sesuatu yang keterlaluan. Saya tahu bagaimana membuat pemerintah bekerja,” ujarnya.

Pertama kali terpilih menjadi senator pada usia 29 tahun, Biden telah memegang jabatan karena hasil pemilihan selama hampir 50 tahun. Dengan asumsi hasil pemungutan suara saat ini akan disertifikasi, pada usia 78, dia akan menjadi orang tertua yang dilantik sebagai Presiden Amerika.

“Dia lemah lembut, dan kelembutan biasanya akan menyakitinya lebih dari pada melawan Donald Trump. Ini sebenarnya memberi orang pilihan yang sangat tajam dan berbeda,” kataLarry Sabato adalah guru besar ilmu politik di Universitas Virginia.

Biden terpilih sebagai calon Partai Demokrat setelah mengalahkan para kandidat yang lebih liberal dalam pemilihan pendahuluan. Salah satunya adalah orang yang akan menjadi wakil presidennya, Kamala Harris.

Dengan lebih sedikit kampanye tatap muka langsung yang dilakukan oleh Biden karena adanya kekhawatiran akan pandemi virus corona, kampanye Biden pada akhirnya mengenai presiden yang sedang menjabat.

Baca Juga |  Jumlah 'Follower' Berkurang, Trump Mengeluh Kepada Bos Twitter

Dalam penampilan di depan pendukungnya di negara bagian penting di mana suara pemilih Demokrat dan Republik cenderung imbang di Pennsylvania, Biden berbicara sehari sebelum pemilihan 3 November.

“Besok kita bisa mengakhiri kepresidenan (Trump) yang gagal melindungi bangsa ini. Besok kita bisa mengakhiri kepresidenan yang telah mengipasi api kebencian di seluruh negara ini,” kata Biden.

Juga sehari sebelum pemilihan, Trump menyatakan keyakinan (akan kemenangannya) di Wisconsin.

“Ingat apa yang saya katakan empat tahun lalu, saya adalah suara Anda dan kita semua akan bersama-sama membuat Amerika hebat lagi. Itulah yang kita lakukan, itulah yang telah kita lakukan,” kata Trump.

Pemilih dalam pemungutan suara kali ini mencapai jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk pemilihan di Amerika – mencapai 90 persen dari pemilih yang memenuhi syarat. Tipisnya kemenangan menunjukkan betapa terbelahnya para pemilih Amerika. Gugatan-gugatan hukum (yang diajukan oleh kubu Trump) menunjukkan hasil pemilu mungkin pada akhirnya diputuskan di pengadilan.

Tugas sulit ke depan: menyatukan negara yang terbelah. [lt/em]

Logo VOA Indonesia

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Weibo Larang Akun Penggemar BTS Galang Dana

Berita Utama

Di AS, Mahasiswa Asing Kesulitan Dapat Vaksinasi

Berita Utama

Bea Cukai AS Sita Kartu Vaksinasi COVID-19 Palsu

Berita Utama

AS Desak Taliban Izinkan Penerbangan Carter dari Afghanistan

Berita Utama

Warga New York Manfaatkan Barang Bekas yang Dibuang di Trotoar

Berita Utama

Balapan di Sirkuit Shanghai, Rio Start di Depan Hamilton

Berita Utama

Oktober, AS Mungkin Izinkan Vaksin Pfizer untuk Anak-Anak Usia 5-11

Berita Utama

Korea Utara Keluarkan Peringatan Navigasi