Home / Humaniora / Kolom

Senin, 19 Agustus 2019 - 19:44 WIB

Putri Bengkulu, Sang Perajut Merah-Putih Role Model Perempuan Indonesia

Yedija Manulang (Foto: Dok. Pribadi/PROGRES.ID)

Yedija Manulang (Foto: Dok. Pribadi/PROGRES.ID)

Peduli Persamaan Hak

“ Dimana ada Rasa Persamaan nasib dan persamaan cita-cita, disitulah tempat yang subur bagi rasa persatuan “ —Fatmawati Sukarno, 1949

Adalah sebuah gagasan dari Fatmawati yang memimpikan persatuan dengan pemerataan hak, tampa menyoalkan perbedaan yang ada. Dewasa ini perempuan dominan dianggap hanya sebagai obyek penderita, pelengkap, pasangan hidup yang biasa disebut dengan analogi dapur, pupur dan kasur. Terlebih dalam perspektif masyarakat tradisional. Hal ini tentu berdampak pada posisi perempuan yang kurang berpengaruh dalam konteks sosial dan berbagai bidang ilmu lainnya.

Tentu paradigma tersebutlah yang harus kita ubah dalam konsep berfikir masyarakat Indonesia, namun tidak serta merta dengan waktu yang singkat hal itu akan tercapai. Semua elemen harus bersinergis dalam mewujudkan hal tersebut, terkhusus perempuan harus terus memperjuangkannya.

Sosok Sederhana

Sebagai seorang perempuan yang lahir dan dibesarkan didalam dusun serta dimasa kecilnya sudah mengenal sulitnya kehidupan sehingga harus berjualan pecal dan kacang bawang di tempat yang didatangani oleh banyak orang. Hal ini yang kemudian membuat sosok dari Fatmawati begitu sederhana sampai saat ini menjadi ibu negara Indonesia yang pertama. Pernah pada awal kemerdekaan pada tahun 1946 saat ibu kota Indonesia dipindahkan sementtara dari Jakarta ke Yogyakarta, Fatmawati memasak sendiri untuk menjadi para pemimpin yang datang. Bahkan ketika pertama kalinya berangkat ke luar negeri, Fatmawati harus meminjam beberapa perhiasan dari istri Sekretaris Negara yang memiliki persedian perhiasaan. Hal ini dikarenakan bahwa Fatmawati tidak memiliki perhiasan apapun.

Baca Juga |  Jurnalis Bengkulu Peduli Covid-19 Buka Posko Pengaduan Dampak

Penampilan dari Fatmawati pun selalu tampil sederhana, mengenakan kerudung dan kebaya. Dengan kesederhanaan yang dimiliki oleh Ibu negara pertama tersebut mengajarkan masyarakat Indonesia dan turut sepenanggungan merasakan penderitaan bersama yang pada awal-awal kemerdekaan.

Berpendirian Teguh

Fatmawati yang pintar mengaji dari kecil sudah diberi pengetahuan agama bahkan ketika Fatmawati sudah memasuki sekolah di HIS ( Hollandsch Inlandsch School ) pada tahun 1930, Fatmawati tetap diberi pendidikan agama dengan belajar agama secara ekstra disekolah Standar Muhammdiyah. Dengan semangat terus belajar disertai pengalaman dan sosial secara tidak langsung telah membentuk sosok Fatmawati yang kuat sedari dini sehingga memiliki pendirian yang teguh.

Ketika Bung Karno hendak menyatakan cinta kepada Fatmawati, Fatma menolak bukan karena tidak mencintai bung saat itu namun karena fatmawati memiliki ketegasan dan berpendirian yang teguh bahwasanya dia tidak mau dipoligami oleh bung karno, mengingat karena bung Karno masih memiliki istri yang sah yaitu Inggit Garnasih yang kemudian diceraikan karena belum memiliki keturunan dan sang istri tidak mau dimadu. Bahkan ketika Fatmawati ingin dimadu oleh bung Karno, Fatmawati meminta cerai namun karena Bung Karno tidak mau akhirnya Fatmawati meminta agar mereka berjauhan. Dengan sikap ketegasan dan prinsipil Fatmawati ingin mengajarkan bahwa perempuan pun memiliki hak dan status yang sama dengan kaum laki-laki, pun karena rasa empati terhadap sesama kaum perempuan.

Tentu masih banyak hal lain yang dapat dicontoh dan diteladani dari sosok Fatmawati namun dengan momentum kemerdekaan Republik Indonesia kembali kita diingatkan akan putri Bengkulu yang sudah berjasa dalam merajuk sang merah putih. Kita sebagai masyarakat Indonesia dan generasi muda penerus harus kembali merefleksikan serta meneladani nilai-nilai perjuangan Fatmawati sehingga tidak salah ketika kemudian Fatmawati menjadi salah satu role model  untuk kita semua secara khusus perempuan Indonesia

Baca Juga |  HUT Ke-74 RI, Gubernur Rohidin: Peningkatan SDM Harus Merata

Masyarakat Bengkulu harus bersyukur ketika nama Fatmawati akan diabadikan dalam bentuk monumen yang nantinya monumen tersebut akan diletakkan di Simpang Lima Ratu Samban kota Bengkulu. Kita harapkan bersama bahwa monumen ini nantinya menjadi icon baru bagi kota bengkulu serta menjadi pengingat akan nilai-nilai perjuangan yang sudah ditanamkan oleh Fatmawati kedalam bangsa ini.

Saat ini pun kita berharap proses pembuatan filim Fatmawati berjalan lancar yang sedang berjalan di Bengkulu agar segera rampung. Filim yang mengangkat kisah perjuangan Fatmawati juga diharapkan agar mengangkat dan memperkenalkan budaya bengkulu serta bengkulu sendiri dikaca nasional.

Akhirnya Momentum hari kemerdekaan ini harus menjadi perenungan bagi seluruh masyarakat Indonesia secara khusus perempuan-perempuan Indonesia akan nilai dan perjuangan yang sudah ditanamkan dari putri Bengkulu sang perajut merah putih, serta menjadi sebuah catatan reflektif untuk melanjutkan dan meneruskan perjuangan dan kebaikan dalam sikap dan kepribadiannya menuju masyarakat Indonesia yang unggul dan Indonesia yang berkemajuan secara khusus dalam wilayah Bengkulu sendiri.

Merdeka !!!

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Jokowi Akan Beri Rp 600 Ribu Bagi Pegawai Swasta Bergaji di Bawah Rp 5 Juta
Savannah

Humaniora

Terlahir Tanpa Lengan Kiri, Perempuan ini Menginspirasi di Tengah Pandemi
Ilustrasi mayat

Berita Utama

Tahukah Anda? Angka Kematian di Jakarta Setelah Covid-19 Justru Turun
Pedito Alam

Berita Utama

Akankah Bahasa Rejang Punah?
Pemberian remisi

Humaniora

1.493 Narapidana Lapas Bengkulu Dapat Remisi
PLTU Teluk Sepang

Humaniora

Soal Air Laut di Sekitar PLTU, DKP Kota Bengkulu Keluarkan Hasil Laboratorium, Ini Hasilnya
Yedija Manulang

Kolom

Pemuda dalam Kemerdekaan 4.0
jurnalis peduli dampak covid

Berita Utama

Jurnalis Bengkulu Peduli Covid-19 Buka Posko Pengaduan Dampak
error: Konten ini dirpoteksi !!