Home / Lingkungan

Selasa, 24 Januari 2017 - 21:30 WIB

Akibat Pembukaan Lahan Sawit, Puluhan Ekor Gajah Sumatera Terancam Tak Bisa Kembali ke TWA Seblat

Konservasi Gajah Sumatera di TWA Seblat, Bengkulu/ Foto: Bruce Levik

Konservasi Gajah Sumatera di TWA Seblat, Bengkulu/ Foto: Bruce Levik

PROGRES.ID, BENGKULU- Puluhan ekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) terjebak di kawasan Hutan Produksi (HP) Air Rami di wilayah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu.

Diduga, Gajah Sumatera tersebut tidak dapat kembali ke Taman Wisata Alam Seblat karena jalur jelajahnya sudah dirambah dan dijadikan kebun sawit.

Diperkirakan, 47 ekor gajah liar tersebut merupakan gabungan dari dua kelompok gajah liar besar yang terdapat di wilayahKabupaten Mukomuko dan Bengkulu Utara.

“Sekitar 47 ekor gajah terjebak dikawasan hutan yang jalurnya sudah dirambah untuk dijadikan perkebunan sawit,” sampai Said Jauhari Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung.

Baca Juga |  DPRD Propinsi Bengkulu Soroti Dugaan Adanya Penambangan Batu Gajah

Seperti yang dikutip dari Antaranews.com, beberapa kawasan hutan yang berada dalam satu hamparan yakni TWA Seblat, HP Air Rami, HP Air Teramang, dan hutan produksi terbatas (HPT) Air Ipuh merupakan habitat alami gajah Sumatera di wilayah Bengkulu.

Said menjelaskan, dari sejumlah kawasan hutan yang merupakan habitat satwa langka itu, BKSDA Bengkulu-Lampung hanya memangku kawasan TWA Seblat seluas 7.734 hektare di mana terdapat Pusat Latihan Gajah (PLG) di dalamnya.

Mengingat populasi Gajah Sumatera yang membutuhkan perhatian serius, Said berharap hal tersebut dapat segera ditangani demi menjaga kelestariannya.

Baca Juga |  Atasi Genangan Air, DPRD Rejang Lebong Hearing dengan OPD Terkait

Menurut lembaga konservasi alam IUCN, status gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) kini terancam punah atau critically endangered, yang artinya menghadapi risiko sangat tinggi (ekstrem) terhadap kepunahan alam.

Padahal, pemerintah menargetkan peningkatan populasi satwa terancam punah itu sebesar 3 persen per tahun. Program peningkatan populasi di alam liar itu dimulai pada 2014.

“Kalau perambahan ini tidak cepat ditangani maka kelestarian gajah Sumatera akan semakin terancam,” tuturnya. (dsy)

Share :

Baca Juga

Pupuk organik cair

Agrikultur

Miliki Banyak Manfaat Bagi Tanaman, Ini Cara Membuat POC
hearing dewan

Lingkungan

Atasi Genangan Air, DPRD Rejang Lebong Hearing dengan OPD Terkait
panel surya

Gadget dan Teknologi

Jepang Bergeser Menuju Energi Bersih di Asia Tenggara Saat China Menimbun Batu bara

Lingkungan

DPRD Propinsi Bengkulu Soroti Dugaan Adanya Penambangan Batu Gajah
Harimau sumatra mati

Berita Utama

Terjerat Perangkap Kawat, Seekor Harimau Sumatra Mati di Hutan Seluma
Aksi sosial KMK

Edukasi

KMK Unib Gandeng RT Gelar Aksi Sosial
Kawasan Teluk Sepang

Berita Utama

Soal Matinya Ikan dan Penyu, Warga Teluk Sepang Sebut Ada Fitnah Sudutkan PLTU
Angin kencang

Berita Utama

BMKG Bengkulu Ingatkan Potensi Hujan Disertai Angin Kencang Hingga Gelombang Tinggi