Home / Hukum / Nasional

Selasa, 10 September 2019 - 20:49 WIB

Pengamat: Baik Buruk Nasib KPK di Tangan Jokowi dan DPR

Pansel Calon Pimpinan KPK 2019 (Foto: TribunNews.com)

Pansel Calon Pimpinan KPK 2019 (Foto: TribunNews.com)

Pansel capim KPK

Pansel Calon Pimpinan KPK 2019 (Foto: TribunNews.com)

PROGRES.ID – Ada dua hal paling dibicarakan saat ini seputar KPK, yaitu seleksi capim dan rencana revisi UU. Baik DPR maupun Presiden Jokowi memegang peranan penting dalam proses ini. Dua pihak ini, yang akan menentukan wajah dan kinerja KPK ke depan, lewat pimpinan dan dasar hukum bagi lembaga anti rasuah itu.

Dalam diskusi mengenai KPK di Yogyakarta, Selasa (10/9/2019), mantan pimpinan KPK Abraham Samad mengaku kasihan dengan Jokowi. Sebagai Presiden, dia hanya menerima umpan bola panas dari panitia seleksi (pansel) capim KPK yang bekerja tanpa mengindahkan masukan masyarakat. Terkait seleksi capim ini, kata Samad, saat ini bola sudah sampai ke DPR sebab uji kepatutan dan kelayakan sudah digelar.

“Menurut saya, belum terlambat bagi DPR kalau masih ingin mendengarkan suara rakyat. DPR bisa tidak memilih capim yang telah mengikuti fit and proper test. Kenapa saya katakan bisa tidak memilih, tidak memutuskan, ini pernah ada contohnya. Ketika pimpinan di masa saya berakhir satu orang, Pak Busyro, harus dilakukan seleksi, kemudian dilakukan fit and proper test oleh DPR. Ternyata dari hasil itu, tidak satupun pimpinan dipilih, jadi ini pernah dilakukan oleh DPR,” ujar Samad.

Baca Juga |  Bunga KUR Tetap 9 Persen, Pemerintah Prioritaskan Penyaluran ke Sektor Produksi

Pakar Hukum Tata Negara UGM, Zaenal Arifin Mochtar mengatakan, keseriusan Jokowi dalam pemberantasan korupsi sebenarnya dapat dilihat sejak pembentukan pansel capim KPK.

Jika presiden serius dalam upaya ini, kata Zaenal, seharusnya pansel diisi oleh mereka yang benar-benar memiliki kapasitas, kapabilitas, rekam jejak yang baik, mumpuni dan punya komitmen yang baik dalam pemberantasan korupsi.

Karena itu, pertanyaan terkait hasil kerja pansel ini, seharusnya diarahkan langsung ke Jokowi. Selain itu, masyarakat juga harus mengirim pesan yang jelas mengenai siapa saja yang mereka dukung dari sepuluh nama pilihan pansel.

“Publik harus mengirimkan sinyal, dari sepuluh kandidat itu, mana yang seharusnya tidak masuk KPK. Dari sepuluh, mana yang diunggulkan. Cuma saya selalu khawatir dengan kiriman sinyal masyarakat sipil. Semakin masyarakat sipil kirimkan sinyal mengenai orang tertentu yang sebaiknya terpilih, malah semakin tidak dipilih oleh DPR,” ujar Zaenal.

Baca Juga |  Sampai Larut Malam, Sidang Ahok Hanya Hadirkan Empat Orang Saksi

Ada aspirasi yang tidak sinkron antara masyarakat sipil dan DPR. Padahal, DPR sendiri berulang kali menyatakan meminta masukan dari masyarakat sipil. Pengalaman selama ini, kata Zaenal, semakin mereka mendorong nama-nama tertentu, semakin besar kemungkinan nama itu dicoret DPR. Semua ini terjadi, tambahnya, karena proses pemilihan di DPR diwarnai kecenderungan politis.

“Saya pikir untuk kali ini KPK akan jebol. Untuk proses pimpinan KPK. Sekarang saya berpikir, bahwa kita tidak bisa lagi berharap pimpinan KPK adalah the best five, nggak mungkin the dream team. Yang harus diperkuat adalah di lapisan internal KPK. Sebagaimana pengawasan internal,” tambah Zaenal.

Selanjutnya … Penolakan Revisi UU KPK

Share :

Baca Juga

Berita Utama

Besok, Raja Salman Akan Berlibur di Bali Selama Enam Hari
archandra tahar

Berita Utama

Tersandung Kasus Dwikewarganegaraan, Archandra Tahar Diberhentikan

Hukum

Warga Kepala Siring Serahkan Terduga Penggelapan Sepeda Motor ke Mapolres Rejang Lebong

Hukum

Kasus Korupsi e-KTP : Rp 247 Miliar Sudah Terkumpul, Tapi Belum Ada Titik Terang

Hukum

Terjerat Perzinahan, Bupati Katingan Terancam Dicopot dari Jabatanya, DPRD: Tinggal Tunggu Waktu Saja
graha rps

Berita Utama

Pemilik Perusahaan Terjaring OTT KPK, Gaji Ratusan Karyawan PT RPS Terhambat

Berita Utama

Percepat UHC, Pemerintah Tambah Kuota PBI-JK Jadi 96,8 Juta Jiwa Tahun 2019

Berita Utama

Pelaku Perampokan Sadis Pulomas Tertangkap, Dua Masih Buron
error: Konten ini dirpoteksi !!