Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) / Foto : kompasiana

PROGRES.ID, Jakarta – KPK terus mendalami kasus suap mutasi jabatan yang diduga dilakukan Bupati Klaten Sri Hartini. Setelah menyasar ke Wakil Bupati Klaten Sri Hartini, KPK juga tak menutup kemungkinan akan mendalami keterlibatan pihak lain.

KPK juga tengah berusaha menyelediki putra tersangka, Andi Purnomo. Namun, sejak ibunya ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi, Andi Purnomo yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRD Klaten itu seolah hilang ditelan bumi.

“Peran keluarga juga akan kami dalami. Adakah keterkaitannya,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di kantornya, Jakarta, dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (4/1/2016).

Seperti ramai diberitakan media nasional, Sri Hartini dibekuk pada Jumat 30 Desember 2016. Bupati Klaten periode 2016-2021 itu diduga menerima suap terkait mutasi jabatan di lingkungan Pemkab Klaten. Kepala Seksie (Kasie) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Dinas Pendidikan Klaten Suramlan juga dicokok karena diduga menyuap Sri.

Tim Satuan Tugas KPK mengantongi alat bukti berupa uang Rp 2 miliar dalam pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu yang dimasukkan ke dalam dua kardus air kemasan. KPK juga mengamankan uang dalam dolar, yakni USD 5.700 dan SGD 2.035.

Sri ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Dia dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Dampak Dinasti Politik

KPK berhipotesa kasus suap terkait promosi jabatan di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten merupakan dampak dari dinasti politik. karena secara ajaib, Klaten seolah “dikuasai” oleh dua keluarga.

“Itu salah satu dampak dinasti politik yang berputar dalam dua keluarga,” kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dikutip dari  detikcom, Selasa (3/1/2017).

Dua keluarga yang dimaksud adalah keluarga yang memegang kekuasaan di Klaten sejak tahun 2000 hingga saat ini, keluarga Haryanto Wibowo dan Sunarna.

Pada 2000-2005, Haryanto dan Sunarna berpasangan menjadi Bupati dan Wakil Bupati Klaten. Kemudian pada periode selanjutnya, yaitu 2005-2015, Sunarna naik sebagai bupati. Sedangkan wakil Sunarna adalah istri Haryanto, yakni Sri Hartini, yang kemudian terjerat kasus Suap ini.

Untuk masa jabatan 2016-2021, gantian Sunarna yang digantikan Sri Hartini sebagai bupati. Wakilnya adalah Sri Mulyani, yang merupakan istri Sunarna. (Dsy)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.