Saham NANO Melejit, Benarkah Berkat Investasi Softbank?

favicon progres.id
nanoplex
Kantor PT Nanotech Indonesia Global Tbk, Nanoplex (Foto: Swa.co.id)

PROGRES.ID, JAKARTA – Saham PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO) terus mencatatkan lonjakan harga yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Pertanyaannya, apakah reli tajam ini sepenuhnya dipicu oleh masuknya investasi dari Softbank Ventura Indonesia (SVI), atau ada faktor lain yang ikut mendorong?

Softbank Naikkan Kepemilikan Saham NANO

Softbank Ventura Indonesia pertama kali memperkuat posisinya di NANO pada 27 Maret 2025 dengan membeli 165 juta saham atau sekitar 3,85% pada harga rata-rata Rp18 per saham. Transaksi ini membuat kepemilikan SVI meningkat dari 3,97% menjadi 7,82%.

Tak berhenti di situ, pada 22 April 2025, SVI kembali menambah kepemilikannya dengan membeli 20 juta saham di harga Rp26 per saham. Kini, total kepemilikan Softbank di NANO mencapai 8,28%.

Sebagai informasi, Softbank Ventura Indonesia merupakan bagian dari SoftBank Group, raksasa teknologi asal Jepang yang dikenal melalui SoftBank Vision Fund, salah satu modal ventura terbesar di dunia.

Aksi Beli dari Internal Manajemen

Selain Softbank, kepercayaan terhadap prospek NANO juga terlihat dari internal manajemen. Komisaris NANO, Radyum Ikono, tercatat membeli saham pada 16 April 2025, sementara Direktur Utama, Suryandaru, ikut menambah kepemilikan pada 21 April 2025. Keduanya menyatakan pembelian dilakukan untuk investasi jangka panjang.

Langkah ini memberi sinyal kuat bahwa bukan hanya investor asing, tetapi juga manajemen internal yakin dengan potensi pertumbuhan perusahaan.

Reli Saham NANO: Bukan Hanya Karena Softbank

Pada Kamis, 4 September 2025, saham NANO ditutup menguat 8,82% ke level Rp74 per saham. Jika ditarik sebulan terakhir, lonjakan harga sudah mencapai 221,74%.

Namun, sejumlah analis menilai, kenaikan ini bukan murni karena investasi Softbank. Pasalnya, sejak Softbank masuk pada Maret–April 2025 hingga Juli 2025, pergerakan harga NANO relatif stagnan alias sideways.

Lonjakan sesungguhnya baru terjadi Agustus 2025, dan semakin meledak setelah muncul kabar kerja sama NANO dengan investor Jerman untuk pembangunan smelter tembaga di Sulawesi, yang diumumkan melalui situs resmi perusahaan pada 31 Agustus 2025.

Kinerja Keuangan & Prospek Bisnis

Secara fundamental, NANO masih menghadapi tantangan. Pada Januari–September 2024, pendapatan bersih naik signifikan 118% dari Rp22,47 miliar menjadi Rp49,06 miliar. Namun, laba bersih justru merosot 59,9%, dari Rp1,51 miliar menjadi hanya Rp651 juta.

NANO fokus pada riset dan pengembangan (R&D) di bidang nanoteknologi, dengan aplikasi di sektor pertanian, perikanan, kosmetik, properti, hingga kesehatan. Meski laba belum stabil, ekspansi teknologi dan kolaborasi dengan investor besar diyakini memberi prospek jangka panjang yang menarik.

 

⚠️ Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *