PROGRES.ID – Sejumlah kota di Israel mulai meningkatkan kewaspadaan menyusul eskalasi ketegangan regional yang dipicu insiden serangan terhadap Uni Emirat Arab. Media Ibrani Yediot Ahronot melaporkan para pejabat daerah kini bersiap menghadapi kemungkinan memburuknya situasi keamanan.
Wali Kota Haifa, Yona Yahav, dan Wali Kota Rishon Lezion, Raz Kinstlich, menyatakan tengah mempersiapkan berbagai skenario darurat, termasuk potensi serangan ke wilayah Israel jika gencatan senjata gagal dipertahankan.
Keduanya juga menyoroti keterbatasan fasilitas perlindungan bagi warga sipil. Sementara itu, otoritas di Ashdod telah mengumumkan pembukaan pusat-pusat penampungan sebagai langkah antisipatif.
Situasi ini berkembang setelah laporan serangan terhadap kapal tanker minyak milik perusahaan energi ADNOC di kawasan Selat Hormuz. Pemerintah UEA menuduh Iran berada di balik serangan menggunakan drone.
Namun, pihak Iran membantah tuduhan tersebut. Seorang pejabat militer Iran menyatakan negaranya tidak memiliki rencana menyerang UEA maupun fasilitas di Pelabuhan Fujairah. Ia justru menuding militer Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Laporan dari Al Jazeera menyebutkan, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga mengonfirmasi adanya proyektil tak dikenal yang menghantam kapal tanker sekitar 145 kilometer di utara Fujairah.
UEA mengecam keras insiden tersebut dan menilai penargetan jalur pelayaran komersial sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan serta keamanan energi global. Pihaknya bahkan menyebut penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan ekonomi sebagai bentuk pembajakan.
Kementerian Pertahanan UEA mengklaim berhasil mencegat 15 rudal dan empat drone yang disebut berasal dari Iran. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan tiga orang mengalami luka-luka.
Di sisi lain, Iran kembali menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan “operasi yang direkayasa”. Teheran menuduh langkah militer AS di kawasan, termasuk upaya membuka jalur pelayaran secara ilegal, sebagai pemicu utama meningkatnya ketegangan.
Perkembangan ini semakin mempertegas meningkatnya risiko konflik terbuka di kawasan Timur Tengah, dengan dampak yang berpotensi meluas hingga ke keamanan regional dan jalur distribusi energi dunia.










