Analis Israel Khawatir, MoU AS-Iran Dinilai Beri Teheran Hampir Semua yang Diinginkan

Penulis: Tim Progres.id
Editor: Mukhtar Amin
bendera as iran
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran (Foto: iStockPhoto)

PROGRES.ID – Kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran terus memicu perdebatan di berbagai kalangan. Di Israel, sejumlah analis keamanan bahkan menilai perjanjian tersebut lebih menguntungkan Teheran dibandingkan pihak-pihak yang selama ini berupaya membatasi pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

Direktur Institute for National Security Studies (INSS) Israel, Mayor Jenderal (Purn.) Tamir Hayman, termasuk salah satu tokoh yang menyampaikan kritik keras terhadap isi kesepakatan tersebut.

Menurut Hayman, MoU yang diumumkan Washington dan Teheran masih jauh dari target yang selama ini diklaim sebagai tujuan utama konflik.

“Jika sejak awal kita tahu hasil akhirnya akan seperti ini, mungkin lebih baik perang tersebut tidak pernah dimulai,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut kesepakatan tersebut sebagai perjanjian yang memberikan hampir seluruh keinginan strategis Iran.

Kekhawatiran atas Kelangsungan Rezim Iran

Dalam analisisnya, Hayman menilai salah satu poin paling mengkhawatirkan adalah adanya jaminan yang secara efektif memungkinkan sistem pemerintahan Iran tetap bertahan di tengah tekanan internasional.

Selain itu, kesepakatan tersebut disebut membuka peluang bagi Iran untuk memperoleh dukungan ekonomi dalam skala besar. Paket ekonomi yang ditawarkan dinilai dapat menjadi “jalur penyelamatan” bagi perekonomian Iran yang selama bertahun-tahun menghadapi tekanan akibat berbagai sanksi internasional.

Menurutnya, dampak lain yang tidak kalah penting adalah meningkatnya pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan rancangan kesepakatan yang beredar, Iran disebut berpotensi memperoleh peran dalam pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz bersama Oman. Selain itu, Teheran juga diperkirakan akan memiliki posisi penting dalam pelaksanaan perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.

Bagi sebagian kalangan di Israel, kondisi tersebut dianggap sebagai bentuk pengakuan terhadap posisi Iran sebagai salah satu aktor utama dalam arsitektur keamanan kawasan.

Program Nuklir Masih Menyisakan Tanda Tanya

Meski demikian, Hayman mengakui terdapat beberapa aspek yang dianggap lebih positif bagi Israel, terutama terkait program nuklir Iran.

Dalam kesepakatan tersebut, Iran disebut berkomitmen untuk mengurangi stok material nuklir yang telah diperkaya. Namun hingga kini belum ada kejelasan mengenai jumlah material yang akan dikurangi maupun tingkat pengayaan yang diperbolehkan.

“Detail-detail seperti ini sangat penting dan hingga sekarang belum dijelaskan secara rinci,” katanya.

Ia juga menyoroti fakta bahwa program nuklir Iran saat ini diklaim telah dibekukan, bahkan sebelum tercapainya kesepakatan nuklir permanen. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat disebut menghentikan penerapan sanksi tambahan terhadap Teheran.

Meski demikian, Hayman meragukan apakah perjanjian nuklir jangka panjang benar-benar akan ditandatangani oleh kedua pihak.

Mekanisme Pengawasan Baru Jadi Sorotan

Poin lain yang masih menimbulkan pertanyaan adalah pembentukan mekanisme pengawasan baru untuk memantau pelaksanaan seluruh isi kesepakatan, termasuk pembekuan program nuklir Iran.

Menurut Hayman, hingga saat ini belum jelas bagaimana struktur lembaga pengawas tersebut, apa saja kewenangannya, serta sejauh mana keterlibatan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam proses verifikasi.

Ketidakjelasan tersebut dinilai dapat menjadi tantangan besar dalam memastikan kepatuhan seluruh pihak terhadap isi kesepakatan.

Babak Baru di Timur Tengah

Terlepas dari berbagai kritik yang muncul, MoU antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara signifikan.

Jika seluruh poin dalam perjanjian dapat direalisasikan, Iran tidak hanya memperoleh ruang bernapas secara ekonomi, tetapi juga berpeluang memperkuat posisi politik dan strategisnya di kawasan. Sementara itu, negara-negara yang selama ini berupaya membatasi pengaruh Teheran masih menunggu jawaban atas berbagai pertanyaan penting yang hingga kini belum terjawab dalam rincian kesepakatan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *