PROGRES.ID, WASHINGTON — Pasar diesel (solar) global menghadapi tekanan pasokan yang semakin berat. Data perdagangan yang dihimpun Bloomberg menunjukkan gangguan pasokan akibat perang Iran telah mengurangi ketersediaan diesel dalam volume yang lebih besar dibandingkan dengan dampak konflik Rusia-Ukraina pada periode yang sama.

Kondisi tersebut terjadi ketika harga diesel Amerika Serikat (AS) mencatat rekor baru. Harga rata-rata diesel AS bahkan menembus 6 dolar AS per galon pada September, mencerminkan semakin ketatnya pasokan bahan bakar olahan di pasar global.

Perkembangan itu berbeda dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump. Dalam unggahan di media sosial pekan ini, Trump mengatakan kenaikan harga diesel dunia lebih banyak disebabkan oleh perang Rusia-Ukraina dibandingkan dengan konflik dengan Iran.

Namun, perhitungan berdasarkan data perusahaan analisis energi Energy Aspects, Kpler, dan Vortexa menunjukkan dampak gangguan pasokan dari Timur Tengah lebih besar secara volume.

Pasokan Timur Tengah Hilang 770.000 Barel per Hari

Menurut estimasi yang dikompilasi Bloomberg dan diperiksa dengan pelaku perdagangan diesel, pasokan diesel dari kawasan Timur Tengah mengalami penurunan rata-rata sekitar 770.000 barel per hari pada periode Maret hingga Agustus dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan penurunan pasokan Rusia yang berada di kisaran 350.000 barel per hari pada periode yang sama.

Eugene Lindell, kepala produk olahan di FGE NexantECA, mengatakan dampak konflik Iran lebih besar jika dilihat dari volume pasokan yang hilang.

Namun, ia menekankan bahwa harga komoditas ditentukan oleh kondisi pasokan tambahan di pasar. Ketika pasar sudah berada dalam kondisi ketat, kehilangan beberapa ratus ribu barel tambahan dapat memperbesar tekanan harga secara signifikan.

Selat Hormuz Jadi Titik Penting

Salah satu faktor utama di balik gangguan tersebut adalah situasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Konflik di kawasan tersebut menghambat pengiriman minyak mentah dan produk olahan, termasuk diesel. Meskipun sebagian arus minyak mentah kembali bergerak melalui Hormuz, pengiriman produk olahan masih menghadapi pembatasan yang lebih besar.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah. Pasokan yang biasanya mengalir dari kawasan tersebut ke pasar Eropa dan wilayah lain harus digantikan oleh sumber alternatif.

Data S&P Global sebelumnya menunjukkan pasar diesel global sudah berada dalam kondisi ketat bahkan sebelum gangguan terbaru.

Rusia Juga Kehilangan Kapasitas Produksi

Di sisi lain, Rusia memang mengalami penurunan produksi dan ekspor diesel setelah serangkaian serangan drone Ukraina menyasar fasilitas pengolahan minyak.

Serangan terhadap kilang menyebabkan sejumlah kapasitas pemrosesan Rusia terganggu. Pemerintah Rusia kemudian memberlakukan pembatasan ekspor diesel untuk menjaga pasokan domestik.

Pada Juli dan Agustus, ekspor diesel Rusia turun sekitar 615.000 barel per hari dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut hampir menyamai volume pasokan yang hilang dari Timur Tengah dalam periode tersebut.

S&P Global sebelumnya memperkirakan gangguan pada kapasitas pengilangan Rusia bahkan sempat mencapai lebih dari sepertiga kapasitas nasional akibat serangan dan gangguan lainnya.

Artinya, kedua konflik secara bersamaan menekan pasar diesel dari sisi yang berbeda: perang Iran mengganggu arus energi dari Timur Tengah, sementara serangan terhadap infrastruktur Rusia memangkas kapasitas pengolahan dan ekspor.

Harga Diesel AS Tembus Rekor

Tekanan pasokan tersebut kemudian tercermin pada harga diesel. Data yang dikutip dari AAA menunjukkan rata-rata harga diesel nasional AS mencapai sekitar 6,27 dolar AS per galon pada 15 September, level tertinggi yang pernah tercatat.

Harga tersebut sekitar 70 persen lebih tinggi dibandingkan dengan awal konflik Iran pada akhir Februari, ketika harga diesel AS masih berada di sekitar 3,76 dolar AS per galon.

Kenaikan harga diesel memiliki dampak lebih luas dibandingkan sekadar biaya pengisian kendaraan. Diesel merupakan bahan bakar utama untuk truk, kapal, kereta api, mesin pertanian, dan berbagai aktivitas industri.

Karena itu, kenaikan harga diesel dapat meningkatkan biaya distribusi barang dan pada akhirnya memberi tekanan tambahan terhadap harga komoditas serta kebutuhan sehari-hari.

Pasar Global Kehilangan Bantalan Pasokan

Persoalan terbesar saat ini bukan hanya jumlah pasokan yang hilang, tetapi juga kondisi pasar ketika gangguan tersebut terjadi.

Stok bahan bakar global telah mengalami penurunan selama periode konflik. Pada saat yang sama, kilang AS dan Eropa beroperasi mendekati kapasitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Data yang dikutip Axios dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan ekspor diesel Rusia, Timur Tengah, dan Asia pada Juli turun sekitar 1,3 juta barel per hari secara tahunan. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari perdagangan diesel melalui laut.

Kondisi ini membuat pasar memiliki ruang yang semakin kecil untuk menyerap gangguan pasokan baru.

Perang Rusia-Ukraina Tetap Berpengaruh

Meski data menunjukkan dampak perang Iran lebih besar secara volume dalam periode Maret-Agustus, konflik Rusia-Ukraina tetap menjadi salah satu faktor penting di pasar diesel global.

Serangan Ukraina terhadap kilang Rusia telah mengurangi produksi bahan bakar dan mendorong Moskow membatasi ekspor. Dampaknya terasa di sejumlah negara yang bergantung pada pasokan produk minyak Rusia.

Trump sendiri sebelumnya mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas diesel Rusia. Trump mengatakan serangan tersebut turut memperburuk kelangkaan bahan bakar dunia.

Namun, sejumlah analis menilai penghentian serangan terhadap kilang Rusia saja belum tentu cukup untuk mengatasi seluruh persoalan pasokan diesel global.

Rachel Ziemba dari Center for a New American Security mengatakan berakhirnya gangguan terkait Rusia dapat membantu meredakan tekanan, terutama jika fasilitas kilang kembali beroperasi. Namun, kekurangan yang berkaitan dengan konflik Iran tetap menjadi faktor utama dalam ketatnya pasar produk olahan.

Prospek Harga Diesel Masih Bergantung pada Pasokan

Pasar diesel global kini menghadapi dua gangguan besar secara bersamaan. Di Timur Tengah, konflik menghambat arus energi dan aktivitas pengilangan. Di Rusia, serangan terhadap infrastruktur energi mengurangi kemampuan produksi dan ekspor.

Kondisi tersebut membuat prospek harga diesel sangat bergantung pada perkembangan kedua konflik, pemulihan fasilitas pengilangan, serta kelancaran jalur perdagangan energi.

Dengan cadangan yang relatif terbatas dan kilang di sejumlah kawasan yang telah beroperasi pada tingkat tinggi, setiap gangguan tambahan berpotensi kembali meningkatkan tekanan terhadap harga diesel global.

Dengan demikian, data pasokan menunjukkan perang Iran memiliki kontribusi besar terhadap ketatnya pasar diesel saat ini, sementara perang Rusia-Ukraina tetap menjadi faktor penting yang memperburuk kondisi pasokan global.