PROGRES.ID, BANDUNG – Film “Meong!” karya mahasiswa Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM ITB) berhasil membawa pulang penghargaan dari ajang internasional NextScene Kids & Youth Film Festival 2026.

Karya yang diproduksi tim Ophiuchus Project tersebut meraih Most Inspiring Film Award dalam festival yang berlangsung di Jakarta pada 6–9 Agustus 2026.

Menariknya, film ini tidak mengangkat cerita besar dengan konflik yang rumit. “Meong!” justru bercerita tentang seekor kucing kampus dan seorang mahasiswa ITB yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir.

Cerita sederhana tersebut menjadi salah satu dari 54 film yang berasal dari 14 negara dalam penyelenggaraan NextScene Kids & Youth Film Festival 2026.

Meong! Angkat Kisah Sederhana di Kampus ITB

Meong! merupakan film bergenre drama slice of life yang mengambil sudut pandang seekor kucing bernama Meong.

Menukil ITB.ac.id, latar cerita berada di lingkungan Kampus ITB. Di sana, Meong bertemu dengan seorang mahasiswa yang tengah menghadapi berbagai persoalan selama mengerjakan tugas akhir.

Kehadiran kucing tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan sang mahasiswa. Interaksi sederhana antara manusia dan hewan itu menjadi pintu masuk cerita tentang dukungan, kepedulian, serta arti penting hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Ide cerita film ini berawal dari fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa ITB. Kucing memang cukup mudah dijumpai di sejumlah sudut kampus dan tidak jarang berinteraksi dengan mahasiswa.

Tim Ophiuchus Project kemudian mengembangkan pengalaman tersebut menjadi sebuah film dengan kucing sebagai salah satu karakter sentral.

Penulis sekaligus produser Meong!, Vincentius Bhagaskara, mengatakan film tersebut ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat sederhana bisa memiliki arti besar bagi seseorang.

“Inti dari film ini, kami mau membawakan bahwa sesuatu seperti kucing kecil atau mungkin hal kecil lainnya di dunia ini bisa sangat menginspirasi dan bermakna bagi seseorang,” kata Vincentius.

Menurutnya, sesuatu yang dianggap biasa atau bahkan tidak berharga oleh sebagian orang dapat memiliki makna berbeda bagi orang lain.

Hampir 40 Kucing Ikut Casting

Salah satu bagian paling menarik dari produksi Meong! adalah proses pemilihan pemeran utama.

Alih-alih melakukan casting terhadap manusia, tim harus mencari kucing yang dianggap paling sesuai untuk memerankan karakter Meong.

Proses tersebut dilakukan di lingkungan Kampus ITB dan melibatkan hampir 40 ekor kucing. Tim mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari warna bulu hingga karakter dan perilaku kucing.

Setelah proses seleksi, pilihan akhirnya jatuh kepada Siti, kucing yang biasa beraktivitas di sekitar Gedung Labtek VII ITB.

Director of Photography, Sound Director, sekaligus editor Meong!, Dudih Purwadi, mengatakan proses casting tersebut berlangsung selama satu hari penuh.

“Kami melakukan casting kucing seharian penuh di Kampus ITB. Hampir 40 kucing yang kami coba casting,” ujar Dudih.

Siti kemudian dinilai paling cocok dengan kebutuhan karakter dalam film tersebut karena memiliki karakter yang relatif mudah diarahkan.

Dalam mengembangkan cerita, tim Ophiuchus Project juga melibatkan komunitas peduli kucing ITB Street Feeding untuk bertukar gagasan dan melakukan brainstorming.

Syuting Harus Menyesuaikan Kondisi Siti

Memproduksi film dengan kucing sebagai pemeran utama tentu menghadirkan tantangan tersendiri.

Produksi Meong! dimulai pada Maret 2025 dengan melibatkan 10 kru dan satu pemeran utama. Selain harus menghadapi kondisi cuaca yang berubah-ubah, kru juga perlu menyesuaikan jadwal pengambilan gambar dengan kondisi Siti.

Tim tidak bisa memaksakan proses syuting ketika Siti menunjukkan tanda-tanda stres atau merasa tidak nyaman.

Jika kondisi tersebut muncul, pengambilan gambar dihentikan sementara. Proses syuting baru dilanjutkan ketika kondisi Siti kembali memungkinkan.

Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses produksi karena perilaku kucing tidak selalu dapat diprediksi seperti pemeran manusia.

Justru dari kondisi alami itulah sejumlah momen dalam film dapat muncul secara spontan.

Tim Ophiuchus Project di Balik Film Meong!

Produksi film Meong! dikerjakan oleh tim Ophiuchus Project dari LFM ITB.

Beberapa anggota utama yang terlibat antara lain Vincentius Bhagaskara sebagai penulis sekaligus produser, Fransiska Fernanda sebagai penulis dan sutradara, serta Dudih Purwadi yang menangani Director of Photography, suara, dan penyuntingan.

Bagi tim, penghargaan yang diperoleh di NextScene Kids & Youth Film Festival menjadi capaian yang tidak mereka duga sebelumnya.

Fransiska mengatakan penghargaan tersebut menjadi kebanggaan bagi seluruh tim, terlebih karena film yang mereka produksi dapat memberikan inspirasi kepada penonton.

“Jujur, penghargaan ini sesuatu yang tidak aku ekspektasikan. Penghargaan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” kata Fransiska.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang membantu proses produksi, termasuk Siti yang secara alami menghasilkan sejumlah momen unik selama proses pengambilan gambar.

Meong! Raih Penghargaan di Festival Internasional

Penghargaan Most Inspiring Film Award menambah catatan penting bagi perjalanan film Meong!.

Karya mahasiswa ITB tersebut tampil dalam NextScene Kids & Youth Film Festival 2026, festival internasional yang menjadi ruang bagi anak-anak dan generasi muda untuk menampilkan karya film serta cerita kreatif.

Penyelenggaraan tahun 2026 merupakan edisi kedua festival tersebut. Rangkaian kegiatan digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan CGV fX Sudirman, Jakarta, pada 6–9 Agustus 2026.

Dalam penyelenggaraan tersebut, terdapat tiga penghargaan utama, yakni Best Film Award, Most Inspiring Film Award, dan Special Jury Mention.

Di tengah puluhan film dari berbagai negara, Meong! karya mahasiswa ITB membuktikan bahwa cerita yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari juga dapat menjangkau penonton yang lebih luas.

Film ini bukan sekadar kisah tentang kucing di lingkungan kampus. Di balik karakter Siti, ada pesan bahwa perhatian kecil, pertemanan sederhana, dan kehadiran seseorang atau sesuatu di tengah masa sulit dapat memberikan arti yang tidak terduga.