PROGRES.ID – Amerika Serikat (AS) meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman serangan siber yang menyasar sistem pendingin makanan. Peretas diduga memanipulasi pengaturan suhu lemari pembeku di sejumlah toko kebutuhan militer sehingga makanan rusak. Insiden tersebut kini diselidiki Pentagon dan menjadi perhatian lembaga keamanan siber federal.
Menurut Reuters, pemerintah AS juga mengeluarkan peringatan pada 5 November 2026 setelah sejumlah insiden serupa dilaporkan di berbagai negara. Serangan ini memperlihatkan bahwa perangkat sederhana seperti kulkas dan freezer yang terhubung ke internet dapat menjadi pintu masuk untuk mengganggu infrastruktur penting.
Freezer di Sejumlah Pangkalan Militer AS Diduga Diretas
Kasus di Amerika Serikat bermula dari gangguan sistem pendingin yang terjadi pada Agustus 2026. Sedikitnya enam commissary, yakni toko kebutuhan sehari-hari yang beroperasi di lingkungan pangkalan militer, mengalami kerusakan sistem pendingin.
Salah satu insiden dilaporkan terjadi di Fort Huachuca, Arizona. Freezer di fasilitas tersebut tiba-tiba masuk ke mode pencairan es atau defrost mode. Akibatnya, suhu di dalam perangkat meningkat dan membuat berbagai produk makanan beku menjadi rusak.
Gangguan serupa juga dilaporkan di sejumlah fasilitas militer lainnya, termasuk Fort Irwin di California. Sejumlah toko harus menutup area penyimpanan makanan beku sambil menunggu teknisi memperbaiki sistem dan memastikan suhu kembali normal.
Reuters melaporkan pada 29 Oktober bahwa Pentagon memperlakukan serangkaian gangguan tersebut sebagai dugaan serangan siber. Penyelidikan melibatkan unit Cyber Command, aparat penegak hukum militer, serta otoritas Prancis yang menangani insiden serupa di Eropa.
Meski demikian, hingga laporan tersebut diterbitkan, penyelidik belum memastikan apakah seluruh gangguan di pangkalan militer AS benar-benar disebabkan oleh peretasan. Identitas pelaku dan motif serangan juga belum diketahui.
Serangan di Prancis Merusak Ratusan Fasilitas Pendingin
Ancaman serupa sebelumnya terjadi di Prancis. Pada Oktober 2026, peretas dilaporkan berhasil mengambil alih pengaturan suhu perangkat pendingin di lebih dari 350 fasilitas komersial.
Sejumlah supermarket terdampak karena suhu lemari pendingin dan freezer berubah secara tidak normal. Makanan yang seharusnya disimpan dalam kondisi dingin menjadi rusak dan tidak lagi layak dijual.
Dalam beberapa kasus, suhu perangkat bahkan meningkat sangat tinggi hingga memicu kebakaran. Kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai puluhan juta euro, berdasarkan perkiraan salah satu pemilik supermarket yang dikutip Reuters.
Serangan tersebut menunjukkan bahwa peretasan tidak selalu dilakukan dengan mencuri data atau melumpuhkan situs internet. Penyerang juga dapat mengambil alih perangkat pengendali industri untuk menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian ekonomi.
FBI dan CISA Keluarkan Peringatan
Meningkatnya insiden membuat sejumlah lembaga pemerintah AS mengeluarkan peringatan bersama pada 5 November 2026.
Peringatan tersebut melibatkan FBI, Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA), serta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, Pertanian, dan Transportasi.
Mereka mengingatkan bahwa sistem pengendali suhu yang terhubung ke internet berpotensi menjadi sasaran serangan. Jika berhasil dikuasai, peretas dapat mengubah pengaturan suhu, memaksa perangkat terus berada dalam siklus pemanasan atau pencairan es, bahkan menghalangi petugas memantau kondisi sebenarnya.
Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan persediaan makanan. Gangguan pada sistem pendingin juga berpotensi merusak peralatan, memicu kebakaran, serta membahayakan konsumen apabila produk yang disimpan pada suhu tidak aman tetap digunakan.
Lembaga-lembaga tersebut meminta perusahaan dan pengelola fasilitas penyimpanan makanan untuk memperkuat keamanan perangkat. Salah satu langkah yang disarankan adalah tidak membiarkan sistem pengendali pendingin terhubung langsung ke jaringan internet publik.
Pengelola juga diminta memisahkan jaringan pengendali industri dari jaringan komputer perusahaan, mengganti kata sandi bawaan, memasang pembaruan keamanan, dan mengganti perangkat lama yang sudah tidak mendapatkan dukungan pembaruan.
Dugaan Keterlibatan Peretas yang Terhubung dengan Iran
Salah satu aspek yang turut diselidiki adalah kemungkinan keterlibatan kelompok peretas yang memiliki hubungan dengan Iran.
Laporan Nextgov/FCW pada akhir Oktober menyebut sejumlah pejabat AS mencurigai adanya keterkaitan dengan peretas yang berafiliasi dengan Iran. Namun, dugaan tersebut belum memiliki tingkat kepastian tinggi dan belum menjadi kesimpulan resmi penyelidikan.
Pemerintah AS sendiri belum mengumumkan siapa pihak yang bertanggung jawab atas gangguan sistem pendingin di pangkalan militernya.
Karena itu, belum dapat dipastikan apakah insiden di Amerika Serikat dan serangan terhadap supermarket di Prancis dilakukan oleh kelompok yang sama atau merupakan rangkaian operasi yang saling berkaitan.
Sistem Pendingin Kini Menjadi Bagian dari Ancaman Keamanan Siber
Serangan terhadap perangkat pendingin memperlihatkan perubahan pola ancaman di dunia digital. Perangkat yang sebelumnya dianggap sebagai perlengkapan operasional biasa kini dapat menjadi sasaran sabotase melalui jaringan internet.
Masalah utamanya terletak pada penggunaan perangkat pengendali lama yang tidak selalu memiliki perlindungan keamanan memadai. Sebagian sistem yang awalnya dirancang untuk dioperasikan secara lokal kini terhubung ke internet agar dapat dipantau dan dikendalikan dari jarak jauh.
Kemudahan tersebut sekaligus membuka celah bagi pihak yang tidak berwenang untuk mengambil alih perangkat.
Jika serangan terhadap sistem pendingin terus berkembang, dampaknya bisa menjangkau sektor yang lebih luas, mulai dari supermarket, gudang makanan, rumah sakit, pemasok obat-obatan, hingga fasilitas militer.
Kasus ini menjadi peringatan bahwa keamanan siber tidak hanya berkaitan dengan perlindungan informasi dan jaringan komputer. Infrastruktur fisik yang menopang kebutuhan masyarakat juga harus dilindungi dari ancaman peretasan.

Komentar