PROGRES.ID – Serangan roket yang dilancarkan kelompok Hizbullah menghantam wilayah Kiryat Shmona dan Metula pada Jumat (10/4/2026), memicu pemadaman listrik di sejumlah area di utara Israel.
Media berbahasa Ibrani, Channel 12, melaporkan bahwa serangan tersebut menyebabkan gangguan infrastruktur akibat rentetan tembakan yang terus berlanjut.
Dalam pernyataan resminya melalui Telegram, Hizbullah menyebut serangan itu sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel serta serangan berulang terhadap wilayah selatan Lebanon.
Kelompok tersebut mengklaim telah menargetkan Kiryat Shmona untuk kedua kalinya pada pukul 10.30 waktu setempat menggunakan roket.
“Serangan ini merupakan bentuk pembelaan terhadap Lebanon dan rakyatnya, serta respons atas agresi yang terus terjadi,” tulis pernyataan tersebut.
Hizbullah juga menegaskan bahwa aksi militer akan terus berlanjut selama apa yang mereka sebut sebagai agresi Israel dan Amerika Serikat belum dihentikan.
Situasi Memanas di Perbatasan
Serangan ini menambah ketegangan di kawasan perbatasan Lebanon–Israel, yang dalam beberapa waktu terakhir kerap diwarnai baku tembak dan serangan lintas batas.
Pemadaman listrik yang terjadi disebut sebagai langkah darurat untuk menghindari kerusakan lebih luas pada jaringan akibat dampak serangan.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa, namun situasi keamanan di wilayah utara Israel dilaporkan masih siaga tinggi.
Risiko Eskalasi Lebih Luas
Perkembangan ini terjadi di tengah situasi regional yang masih rapuh pasca meningkatnya konflik di Timur Tengah. Serangan lintas batas berpotensi memicu eskalasi lebih luas jika tidak segera diredam.
Pengamat menilai, intensitas serangan yang terus meningkat menunjukkan bahwa gencatan senjata yang ada masih belum sepenuhnya efektif di lapangan.












