PROGRES.ID – Meningkatnya konflik antara United States dan Iran kini memicu gelombang kritik tajam terhadap Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Dalam wawancara di kanal YouTube MeidasTouch, mantan pejabat komunikasi militer Amerika, Fred Wellman, menuding Pentagon di bawah kepemimpinan Hegseth telah berubah menjadi “mesin propaganda” yang gagal mengendalikan perang sekaligus kehilangan kepercayaan publik.
Komentar pedas itu muncul setelah baku tembak antara pasukan AS dan Iran terus berlangsung, bahkan ketika pemerintah Presiden Donald Trump bersikeras bahwa gencatan senjata masih berlaku.
“Gencatan Senjata Belum Berakhir”… Meski Rudal Terus Meluncur
Dalam pernyataannya kepada media, Hegseth menegaskan bahwa ceasefire atau gencatan senjata belum berakhir meski kedua negara saling menyerang.
Pernyataan itu justru memicu gelombang sindiran. Banyak pihak menilai ucapan Hegseth menunjukkan kekacauan komunikasi pemerintah AS di tengah perang yang semakin tidak terkendali.
Jurnalis dan analis veteran militer Ken Harbaugh bahkan menyebut publik sedang menyaksikan “bahasa kehilangan maknanya”.
“Bagaimana mungkin gencatan senjata masih berlaku ketika Iran dan Amerika saling menembakkan rudal?” kritik Harbaugh.
Pentagon Dinilai Lebih Sibuk Mengatur Narasi
Fred Wellman, mantan juru bicara militer yang pernah bekerja untuk Jenderal David Petraeus dan Martin Dempsey, mengatakan masalah terbesar Pentagon saat ini bukan hanya perang, tetapi kegagalan komunikasi.
Menurutnya, Hegseth telah membongkar sistem hubungan media di Departemen Pertahanan dan menggantinya dengan orang-orang yang tidak berpengalaman.
Ia menyebut Pentagon kini lebih fokus mengendalikan narasi ketimbang memberikan informasi yang transparan kepada publik.
“Yang mereka lakukan hanya mengambil tangkapan layar unggahan Donald Trump lalu memasangnya dengan tiga bendera Amerika di media sosial,” kata Wellman.
Ia menilai strategi komunikasi Pentagon kini amatir dan berbahaya karena menyangkut keamanan nasional.
Media Dibungkam, Kritik Disebut Serangan terhadap “Yesus”
Kontroversi semakin membesar setelah Hegseth dituding membatasi akses media ke Pentagon dan mengancam wartawan yang mengkritik kebijakan pemerintah.
Dalam salah satu pernyataan yang menuai kecaman, Hegseth bahkan disebut membandingkan para pengkritiknya dengan kaum Farisi yang mengkritik Yesus.
Wellman menilai langkah membungkam media justru memperlemah keamanan nasional.
Menurutnya, hubungan antara militer dan pers seharusnya bersifat dua arah. Media bukan hanya mengawasi pemerintah, tetapi juga membantu mendeteksi persoalan sebelum menjadi krisis besar.
“Media relations itu tentang hubungan, bukan propaganda,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pers yang bebas merupakan bagian penting dari demokrasi sekaligus sistem pengawasan terhadap militer.
Tuduhan Penutupan Fakta Korban Sipil
Wawancara itu juga menyinggung dugaan serangan rudal AS terhadap sebuah sekolah yang diklaim menewaskan puluhan anak perempuan dan guru.
Wellman menyebut Pentagon belum memberikan penjelasan transparan terkait insiden tersebut.
Menurutnya, ada personel militer muda yang kemungkinan mengetahui bahwa rudal yang mereka luncurkan menghantam target sipil, namun pemerintah justru memilih diam.
“Kita berutang kepada mereka untuk mencari tahu apakah ini kesalahan intelijen, koordinat yang salah, atau sesuatu yang lebih buruk,” katanya.
Ia juga mengkritik kurangnya perlindungan terhadap pasukan AS dari ancaman drone Iran meski dunia telah menyaksikan efektivitas drone dalam perang Russo-Ukrainian War selama bertahun-tahun.
Moral Pasukan Disebut Mulai Retak
Menurut Wellman, banyak keluarga militer mulai kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Pentagon saat ini.
Ia mengatakan personel militer sebenarnya mampu melihat ketidakmampuan pemimpin mereka, meski jarang diungkapkan secara terbuka.
“Hegseth terlihat marah terus-menerus karena dia tahu dirinya tidak kompeten,” ujar Wellman.
Ia bahkan mengklaim sejumlah perwira senior diam-diam mulai mempertanyakan kapasitas Menteri Pertahanan tersebut.
Perang Iran dan Krisis Politik Dalam Negeri
Di tengah kritik terhadap perang, Wellman juga mengumumkan pencalonannya sebagai anggota Kongres dari negara bagian Missouri.
Ia menilai pemerintah Trump gagal memahami realitas ekonomi masyarakat Amerika yang kini menghadapi lonjakan harga bahan bakar, pangan, dan biaya kesehatan.
Wellman menyebut banyak keluarga Amerika hidup dari kartu kredit dan kesulitan membayar tagihan bulanan.
Menurutnya, perang baru di Timur Tengah hanya akan memperburuk tekanan ekonomi domestik.
Amerika Kehilangan Dukungan Dunia?
Di akhir wawancara, Harbaugh menilai perang melawan Iran telah menjadi bencana politik dan diplomatik bagi Washington.
Selain ditolak mayoritas warga Amerika, konflik ini juga disebut merusak citra AS di mata dunia.
Sementara Iran terus memainkan propaganda dan perang informasi secara agresif, Pentagon justru dinilai semakin kehilangan kredibilitas.
Bagi para pengkritik pemerintahan Trump, situasi ini bukan sekadar kegagalan komunikasi, tetapi tanda bahwa Amerika sedang memasuki krisis kepemimpinan militer dan politik yang serius.












