PROGRES.ID – Militer Israel mengakui tujuh tentaranya mengalami luka-luka akibat serangan drone yang dilancarkan Hizbullah di wilayah selatan Lebanon.
Serangan tersebut menjadi sorotan karena terjadi hanya dua hari setelah Israel mengumumkan pengerahan sistem pertahanan baru berbasis kecerdasan buatan dan jaring pencegat untuk menghadapi ancaman pesawat nirawak milik Hizbullah.
Meski teknologi baru itu dipromosikan sebagai solusi mutakhir untuk menghentikan serangan udara tak berawak, hasil di lapangan disebut belum mampu mengubah situasi. Drone-drone Hizbullah tetap berhasil menembus pertahanan dan menyerang posisi pasukan Israel di wilayah perbatasan selatan Lebanon.
Sejumlah pengamat menilai kondisi itu memperlihatkan bahwa tekanan terhadap pasukan Israel di kawasan selatan Lebanon masih terus berlangsung, sementara sistem pertahanan terbaru mereka belum menunjukkan efektivitas signifikan dalam menghadapi serangan drone yang tahan terhadap gangguan elektronik.
Serangan ini juga kembali menyoroti perkembangan kemampuan militer Hizbullah, khususnya penggunaan “drone bunuh diri” dan pesawat nirawak yang diklaim memiliki ketahanan tinggi terhadap sistem pengacau sinyal.
Analis isu regional, Khalil Nasrallah, menilai terdapat perbedaan mendasar antara strategi kedua pihak dalam konflik tersebut.
Menurutnya, kelompok perlawanan mengembangkan teknologi militer berdasarkan kebutuhan untuk mempertahankan wilayah mereka, sedangkan Israel lebih bergantung pada solusi teknologi guna menutup celah keamanan yang belum mampu diatasi meski telah menggunakan persenjataan modern.
Ketegangan di perbatasan selatan Lebanon sendiri terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dengan serangan drone dan roket menjadi salah satu ancaman utama yang dihadapi Israel di wilayah tersebut.












