PROGRES.ID – Drone tempur MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat dilaporkan mengalami kerugian besar dalam konflik melawan Iran. Sedikitnya 45 unit drone jenis tersebut disebut telah hilang sejak perang dimulai.

Laporan tersebut dikutip dari Kanal 12 Israel, yang menyebut kehilangan 45 MQ-9 setara dengan sekitar 25 persen dari armada operasional drone jenis itu milik Angkatan Udara Amerika Serikat.

Informasi serupa sebelumnya dilaporkan sejumlah media dengan mengutip pejabat Amerika Serikat. Menurut laporan yang dimuat pada Agustus 2026, sedikitnya 45 MQ-9 Reaper telah hilang selama konflik. Sebagian drone disebut ditembak jatuh, sementara sebagian lainnya hancur akibat serangan terhadap pangkalan militer di kawasan.

Kanal 12 juga melaporkan bahwa kondisi tersebut mulai memengaruhi jumlah armada MQ-9 yang siap digunakan. Berdasarkan data yang dikutip, jumlah drone operasional kini berada di angka sekitar 135 unit.

Jumlah tersebut berada di bawah batas minimum operasional yang disebut telah ditetapkan militer AS, yakni 189 unit. Dengan demikian, terdapat kekurangan sekitar 54 drone dari kebutuhan yang dianggap diperlukan untuk menjalankan seluruh misi.

Kehilangan Dinilai Mengkhawatirkan

Kondisi itu disebut mendapat perhatian dari jajaran Angkatan Udara AS. Kepala bagian modernisasi Angkatan Udara AS dikutip mengatakan bahwa jumlah drone yang tersedia saat ini masih mencukupi, tetapi tingkat kehilangan armada berlangsung pada laju yang mengkhawatirkan.

MQ-9 Reaper selama ini menjadi salah satu platform penting bagi militer AS untuk menjalankan misi pengintaian, pengawasan, intelijen, serta serangan presisi tanpa menempatkan pilot secara langsung di dalam pesawat.

Dalam konflik dengan Iran, drone tersebut disebut digunakan secara intensif. Kepala Staf Angkatan Udara AS sebelumnya bahkan menyebut MQ-9 sebagai salah satu platform paling penting dalam kampanye militer karena jumlah operasi serangan yang dijalankannya.

Kerugian terhadap MQ-9 juga terus dilaporkan selama konflik. Dalam perkembangan terbaru, Iran kembali mengklaim telah menembak jatuh sebuah MQ-9 di sekitar Selat Hormuz. Klaim tersebut belum mendapat konfirmasi independen dari pihak Amerika Serikat.

Jika angka kehilangan 45 unit tersebut akurat, tingkat kerugian itu menunjukkan tantangan yang dihadapi Amerika Serikat dalam mempertahankan operasi drone di wilayah dengan pertahanan udara yang semakin diperebutkan.

Selain persoalan kehilangan aset, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kemampuan AS dalam mempertahankan misi pengawasan dan serangan jarak jauh di kawasan konflik.