PROGRES.ID – Iran mengeluarkan pernyataan keras terkait aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Teheran mengisyaratkan bakal memperketat akses kapal di salah satu jalur energi paling strategis di dunia tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, mengatakan Iran dalam waktu dekat akan menetapkan zona terlarang di sekitar Selat Hormuz.

Menurut Rezaei, kapal yang memasuki kawasan tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran. Kapal-kapal tertentu juga disebut tidak akan dapat melintasi Selat Hormuz tanpa terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Iran.

“Ketegasan kami di Selat Hormuz semakin meningkat,” kata Rezaei dalam pernyataannya.

Ia mengklaim saat ini hanya sekitar tujuh hingga delapan kapal yang melintas di selat tersebut setiap hari. Dari jumlah itu, lima hingga enam kapal disebut membawa barang-barang kebutuhan pokok bagi Iran.

Rezaei juga menyinggung kapal-kapal yang menurutnya mendapatkan akses melalui jalur di sekitar wilayah Oman. Ia mengklaim kapal-kapal tersebut kerap menjadi sasaran serangan dan tidak ada yang dapat keluar dalam kondisi selamat.

Namun, pernyataan tersebut belum disertai rincian independen mengenai kapal yang dimaksud maupun lokasi dan waktu serangan.

Iran: Tekanan di Hormuz Akan Meningkat

Rezaei menegaskan bahwa pembatasan aktivitas di Selat Hormuz akan semakin diperketat. Ia bahkan memperkirakan dampak kebijakan Iran terhadap lalu lintas pelayaran dapat lebih besar dibandingkan serangan rudal.

Pernyataan itu menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak dan produk energi dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.

Di tengah tekanan tersebut, Rezaei menyatakan Iran masih dapat menjual minyak dan menerima pembayaran dari hasil penjualannya.

“Kami menjual minyak dan juga menerima uangnya,” ujar dia.

Iran Klaim Uji Rudal Antikapal

Selain ancaman pembatasan pelayaran, Rezaei mengungkap klaim mengenai kemampuan rudal Iran menghadapi kapal perang Amerika Serikat.

Ia mengatakan Iran sekitar 48 jam sebelumnya melakukan uji coba pertama rudal antikapal Iran terhadap sebuah kapal Amerika Serikat.

Menurut Rezaei, rudal tersebut memberikan tekanan besar kepada pihak Amerika hingga membuat mereka mundur.

“Rudal ini secara khusus membuat Amerika berada dalam situasi seperti neraka, sehingga mereka melarikan diri,” katanya.

Belum ada konfirmasi independen mengenai klaim uji coba rudal tersebut, termasuk jenis rudal, kapal Amerika yang disebut menjadi sasaran, serta dampak yang ditimbulkan.

Jika ancaman pembatasan tersebut benar-benar diterapkan, perkembangan ini berpotensi menambah tekanan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan memperbesar risiko gangguan terhadap perdagangan energi global.