PROGRES.ID, WASHINGTON — Kritik terhadap kebijakan militer Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perang melawan Iran kembali menguat dari Capitol Hill. Senator Demokrat Mark Warner menilai konflik tersebut telah menjadi “perang pilihan” yang menguras anggaran Amerika Serikat tanpa tujuan strategis yang jelas maupun jalan keluar yang terukur.
Warner, yang menjabat Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS, menyebut biaya perang telah mencapai sekitar US$100 miliar. Ia bahkan memperkirakan pengeluaran tersebut terus bertambah sekitar US$1 juta setiap dua menit.
Dalam video yang diunggah melalui platform X pada Senin, Warner mengatakan masyarakat Amerika terus menanggung beban finansial dari perang tersebut.
Menurutnya, hanya dalam satu jam setelah pernyataan itu direkam, pemerintah AS akan kembali menghabiskan sekitar US$30 juta untuk konflik tersebut. Namun, Warner mempertanyakan hasil yang telah dicapai dibandingkan dengan tujuan yang sebelumnya disampaikan pemerintahan Trump.
“Di mana kita sekarang?” kata Warner, seraya menilai tidak ada kemajuan berarti terhadap sejumlah sasaran yang dijadikan alasan untuk memulai perang.
Warner kembali menyebut konflik Iran sebagai “war of choice” atau perang yang dipilih secara sadar. Ia menilai keputusan tersebut dibuat tanpa perencanaan matang, strategi yang jelas, dukungan sekutu yang memadai, maupun skenario untuk mengakhiri konflik.
“Beginilah yang terjadi ketika Anda memulai perang pilihan tanpa rencana, strategi, sekutu, dan jalan keluar,” ujar Warner.
Ia kemudian menyerukan masyarakat Amerika untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan perang tersebut.
Soroti Tujuan Perang yang Tak Tercapai
Warner telah menyampaikan kritik serupa sejak konflik pecah pada akhir Februari. Ia berulang kali mempertanyakan apakah terdapat ancaman langsung terhadap Amerika Serikat yang dapat menjadi dasar dimulainya operasi militer berskala besar terhadap Iran.
Menurut Warner, pemerintahan Trump juga belum memberikan strategi komprehensif kepada Kongres maupun memperoleh otorisasi legislatif yang secara eksplisit mengizinkan perang.
Sejumlah target yang sebelumnya dikaitkan dengan operasi militer AS, termasuk perubahan rezim di Iran, penghapusan kemampuan pengayaan uranium, penghancuran rudal dan drone Iran serta pengamanan Selat Hormuz, juga disebut belum tercapai.
Di sisi lain, biaya operasi terus meningkat. Para anggota Kongres yang menentang perang menyoroti risiko terhadap personel militer AS, tekanan terhadap persediaan persenjataan, serta dampak konflik terhadap harga energi dan biaya kebutuhan masyarakat.
Penolakan dari Sejumlah Anggota Kongres
Kritik terhadap kebijakan perang Trump tidak hanya datang dari Warner. Sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat maupun Republik juga pernah menyatakan keberatan terhadap operasi militer tanpa persetujuan Kongres.
Dari kubu Demokrat, tokoh seperti Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer, Tim Kaine, Adam Schiff, Chris Van Hollen, Elizabeth Warren, Cory Booker, Jeff Merkley, Tammy Duckworth, dan Tammy Baldwin termasuk di antara anggota yang mendukung langkah untuk membatasi kewenangan presiden dalam melanjutkan operasi militer.
Mereka menggambarkan perang tersebut sebagai kebijakan yang membawa kerugian besar, baik dari sisi korban jiwa maupun finansial, tetapi belum menghasilkan keuntungan strategis yang sebanding.
Sejumlah senator Republik juga pernah mengambil posisi berbeda dari pemerintahan Trump. Rand Paul, Lisa Murkowski, Susan Collins, dan Bill Cassidy, misalnya, pada sejumlah kesempatan mendukung langkah legislatif untuk membatasi kewenangan presiden terkait penggunaan kekuatan militer.
Di DPR AS, kritik serupa disuarakan anggota seperti Thomas Massie, Pramila Jayapal, dan Adam Smith. Mereka mempertanyakan dasar hukum operasi, kurangnya strategi jangka panjang, serta dampak kemanusiaan dan ekonomi yang terus meningkat.
Kongres bahkan telah beberapa kali membahas dan meloloskan resolusi terkait War Powers dengan dukungan lintas partai. Namun, upaya berikutnya untuk menghentikan operasi militer tidak selalu memperoleh suara yang cukup.
Iran Sebut Serangan AS-Israel sebagai Agresi
Pemerintah Iran sendiri sejak awal menggambarkan serangan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari sebagai agresi terhadap negara berdaulat.
Teheran menilai tekanan militer dan ekonomi yang diberikan Washington gagal memaksa Iran menerima tuntutan AS. Pemerintah Iran juga menjadikan kemampuan negaranya bertahan menghadapi serangan sebagai bukti bahwa strategi tekanan maksimum tidak mencapai tujuan yang diharapkan.
Perkembangan tersebut membuat perdebatan mengenai perang semakin luas di Amerika Serikat. Selain mempertanyakan legalitas dan tujuan operasi, para pengkritik kini menyoroti besarnya anggaran yang harus dikeluarkan pemerintah serta belum adanya gambaran jelas mengenai bagaimana konflik tersebut akan diakhiri.
Pernyataan terbaru Warner memperlihatkan bahwa perdebatan mengenai perang Iran tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kebijakan luar negeri. Bagi sebagian anggota Kongres, konflik tersebut telah berubah menjadi persoalan serius mengenai penggunaan anggaran negara, kewenangan presiden, keselamatan pasukan AS, dan arah strategis Amerika Serikat.
Warner pun menutup seruannya dengan mengajak masyarakat Amerika untuk tidak tinggal diam terhadap kebijakan tersebut.
“Berdirilah, bersuaralah, dan lawanlah,” serunya.

Komentar