PROGRES.ID, TEHERAN — Iran menegaskan militernya memiliki kemampuan untuk menghadapi kapal perang Amerika Serikat yang disebut terlibat dalam blokade laut terhadap negara tersebut.
Penegasan itu disampaikan Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Majid Ibn Reza, dalam wawancara dengan reporter IRIB, Senin. Ia merespons pernyataan pejabat Amerika Serikat yang disebut meragukan kemampuan Iran untuk menyerang kapal-kapal yang menjalankan blokade.
Ketika ditanya mengenai anggapan Washington bahwa Iran tidak memiliki teknologi dan kemampuan untuk menyerang kapal perang AS, Ibn Reza memberikan jawaban singkat namun tegas.
“Insya Allah, Anda akan melihat hasilnya,” ujarnya.
Saat kembali ditanya apakah Amerika Serikat harus yakin terhadap kemampuan militer Iran, Ibn Reza kembali menegaskan bahwa hasilnya akan terlihat.
“Pasti akan melihat hasilnya, insya Allah,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington. Pemerintah Iran sebelumnya menyebut tindakan pembatasan terhadap pelabuhan dan aktivitas ekonomi negaranya sebagai bentuk tekanan serta pelanggaran terhadap kedaulatan Iran.
Iran selama ini mengembangkan industri pertahanan dalam negeri di tengah berbagai sanksi internasional. Negara tersebut memproduksi sejumlah sistem persenjataan, termasuk rudal antikapal dan drone yang diklaim mampu digunakan untuk menghadapi ancaman di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.
Iran Perkuat Sistem Pertahanan Dalam Negeri
Ibn Reza dikenal pernah menduduki sejumlah posisi senior di Kementerian Pertahanan, Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, serta industri pertahanan sebelum menjalankan tugas sebagai menteri pertahanan sementara.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia berulang kali menekankan penguatan kemampuan pertahanan Iran. Pemerintah Teheran juga mendorong para ilmuwan dan industri dalam negeri untuk mengembangkan teknologi militer yang dapat diproduksi secara mandiri.
Iran menyebut persenjataan produksi dalam negeri memainkan peran penting selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung selama 39 hari dan berakhir dengan gencatan senjata pada pertengahan April.
Sejumlah pejabat Iran mengklaim rudal, drone, dan sistem pertahanan udara buatan dalam negeri membantu memperkuat kemampuan pencegahan militer negara tersebut. Klaim mengenai efektivitas sistem persenjataan selama konflik itu belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Sistem Senjata Iran Disebut Masuk Produksi Massal
Pada hari yang sama, Komandan Markas Besar Pertahanan Udara Gabungan Khatam al-Anbiya Iran, Brigadir Jenderal Alireza Elhami, mengatakan negaranya tengah mempercepat produksi sejumlah sistem pertahanan buatan dalam negeri.
Menurut Elhami, berbagai perangkat yang dikembangkan di Iran telah digunakan dalam konflik sebelumnya dan menjalani pengujian di medan perang.
“Peralatan yang diproduksi di dalam negeri berhasil melewati pengujian selama konflik tersebut dan kini diproduksi secara massal untuk ditempatkan di seluruh wilayah Republik Islam Iran,” kata Elhami, seperti dikutip Tasnim.
Pernyataan kedua pejabat tersebut menunjukkan bahwa Teheran berupaya menonjolkan peningkatan kemampuan industri pertahanan domestiknya di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat.
Namun, belum ada informasi independen yang mengonfirmasi bahwa Iran telah melakukan serangan terhadap kapal perang AS sebagaimana diisyaratkan dalam pernyataan pejabat pertahanannya.

Komentar