PROGRES.ID – Iran mengklaim kembali menembak jatuh drone militer Amerika Serikat (AS) di tengah konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan AS. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut pesawat tanpa awak yang dihancurkan kali ini merupakan MQ-9 Reaper milik AS yang ke-53 sejak dimulainya agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
IRGC Aerospace Force mengatakan drone tersebut berhasil dicegat dan dihancurkan pada Kamis pukul 10.12 waktu setempat. Lokasi penembakan disebut berada di atas Pulau Qeshm, Iran.
Menurut IRGC, pasukan Iran menggunakan sistem pertahanan udara baru yang diklaim telah terintegrasi dengan jaringan pertahanan udara nasional untuk menghadapi drone tersebut.
Jika klaim tersebut akurat, MQ-9 yang dihancurkan di Qeshm menjadi drone Amerika ke-53 yang disebut berhasil dijatuhkan oleh pasukan Iran selama perang berlangsung.
IRGC juga menyatakan jumlah seluruh drone milik pihak lawan yang telah dihancurkan oleh angkatan bersenjata Iran mencapai beberapa ratus unit sejak konflik dimulai. Angka tersebut merupakan klaim pihak Iran dan belum disertai verifikasi independen dalam laporan yang menjadi sumber informasi ini.
Tiga drone MQ-1 Predator juga diklaim dicegat
Klaim terbaru Iran tersebut muncul hanya dua hari setelah IRGC mengumumkan keberhasilan mencegat dan menghancurkan tiga drone MQ-1 Predator Amerika Serikat dalam satu hari.
Ketiga drone itu disebut ditembak jatuh di kawasan Selat Hormuz.
Serangkaian klaim tersebut menyoroti penggunaan drone pengintai dan tempur Amerika Serikat dalam operasi militer di kawasan. MQ-9 Reaper sendiri merupakan salah satu pesawat tanpa awak utama yang digunakan militer AS untuk misi pengawasan dan operasi bersenjata.
Jumlah MQ-9 Operasional AS Disebut Menurun
Klaim Iran mengenai penghancuran puluhan MQ-9 juga muncul ketika jumlah armada MQ-9 operasional Amerika Serikat dilaporkan mengalami penurunan.
Bloomberg sebelumnya melaporkan kesaksian di Kongres AS pada 12 Mei menyebut jumlah MQ-9 yang masih beroperasi berada di kisaran 135 unit. Angka tersebut berada di bawah ambang minimum yang sebelumnya ditetapkan sebanyak 189 pesawat.
General Atomics Aeronautical Systems, produsen MQ-9 yang berbasis di San Diego, juga disebut mengonfirmasi bahwa kurang dari 10 unit airframe baru masih tersedia. Produksi drone Reaper tersebut telah dihentikan.
Sejumlah pakar militer menilai berkurangnya jumlah MQ-9 turut mendorong Angkatan Darat AS menggunakan kembali varian yang lebih tua, yakni MQ-1 Predator, dalam operasi berkelanjutan terhadap Iran.
Iran Soroti Performa Sistem Pertahanan AS
Di tengah laporan mengenai pertempuran udara tersebut, pejabat pertahanan Iran juga menyoroti kemampuan sistem persenjataan Amerika Serikat dalam menghadapi teknologi rudal dan drone Iran.
Penjabat Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Majid Ebn-e-Reza, menyampaikan pernyataan itu dalam pertemuan dengan perempuan yang bekerja di sektor industri pertahanan Iran pada Kamis.
Menurut Ebn-e-Reza, perang tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi sistem militer AS ketika berhadapan dengan kemampuan rudal dan drone Iran.
Ia secara khusus menyebut sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD serta rudal Tomahawk sebagai sejumlah persenjataan AS yang menurutnya menghadapi tantangan dalam konflik tersebut.
Namun, pernyataan itu merupakan penilaian dari pejabat pertahanan Iran dan tidak dengan sendirinya membuktikan tingkat efektivitas masing-masing sistem senjata di medan perang.
Iran Klaim Perkuat Teknologi Pertahanan Dalam Negeri
Ebn-e-Reza juga mengatakan kemampuan pertahanan Iran saat ini semakin banyak ditopang oleh ilmuwan, peneliti, dan insinyur muda dalam negeri.
Menurut dia, pengembangan sistem generasi baru menjadi bagian dari upaya Iran untuk meningkatkan kemampuan pertahanan sekaligus mempertahankan daya tangkal negara.
Ia mengatakan tantangan bagi lawan Iran bukan hanya kemampuan militer yang telah dimiliki saat ini, tetapi juga kecepatan perkembangan teknologi pertahanan Iran.
Dalam kesempatan tersebut, Ebn-e-Reza turut menyoroti kontribusi perempuan dalam industri pertahanan dan teknologi Iran. Ia menyebut sejumlah perempuan yang telah berperan dalam pengembangan industri pertahanan meskipun kontribusi mereka belum banyak dikenal publik.
“Jika kemarin, selama perang, tantangan kami adalah mempertahankan kemampuan pertahanan dan menjaga produksi, maka hari ini misi kami adalah membangun teknologi baru, mengembangkan kekuatan penangkalan, dan bergerak di garis depan ilmu pengetahuan,” kata Ebn-e-Reza.
Klaim mengenai jatuhnya MQ-9 Reaper ke-53 kini menambah daftar laporan mengenai kehilangan drone Amerika Serikat dalam konflik tersebut. Namun, jumlah kerugian sebenarnya dan kondisi armada drone AS masih memerlukan konfirmasi dari sumber independen maupun pihak Amerika Serikat.

Komentar