PROGRES.ID – Tutur Tinular I: Pedang Naga Puspa merupakan film laga klasik Indonesia yang dirilis pada 1989. Film ini diangkat dari kisah sandiwara radio Tutur Tinular karya S. Tidjab, yang pada masanya menjadi salah satu cerita silat populer di Indonesia.

Film garapan Nurhadi Irawan tersebut menghadirkan kisah tentang persaudaraan, cinta, pengkhianatan, ilmu kanuragan, serta perjalanan sebuah senjata pusaka yang kemudian dikenal sebagai Pedang Naga Puspa.

Tokoh utama dalam film ini adalah Arya Kamandanu, yang diperankan Benny G. Rahardja. Ia memiliki kakak bernama Arya Dwipangga, diperankan Baron Hermanto. Keduanya mempunyai karakter yang sangat berbeda. Kamandanu lebih tertarik pada ilmu bela diri, sedangkan Dwipangga dikenal sebagai sosok yang menguasai sastra dan pandai membuat syair.

Sinopsis Tutur Tinular I: Pedang Naga Puspa

Cerita bermula dari kehidupan Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga, dua bersaudara yang tumbuh dengan ketertarikan berbeda.

Kamandanu memiliki minat besar terhadap ilmu kanuragan dan bela diri. Sebaliknya, Dwipangga lebih memilih dunia sastra dan syair. Perbedaan karakter tersebut kemudian semakin memperuncing hubungan keduanya ketika mereka terlibat dalam persoalan asmara.

Kamandanu mencintai seorang gadis bernama Nari Ratih. Namun, hubungan tersebut mengalami masalah setelah Dwipangga juga mendekati perempuan yang dicintai adiknya. Perselisihan cinta tersebut menjadi salah satu konflik awal yang membuat kehidupan Kamandanu berubah.

Karena persoalan tersebut, Kamandanu kemudian semakin serius mendalami ilmu bela diri. Ia berguru kepada Mpu Ranubhaya, seorang ahli senjata sekaligus saudara seperguruan ayahnya, Mpu Hanggareksa.

Di bawah bimbingan Ranubhaya, Kamandanu perlahan berkembang menjadi seorang pendekar yang memiliki kemampuan silat tinggi.

Mpu Ranubhaya Dibawa ke Negeri Mongolia

Di tengah perjalanan Kamandanu mendalami ilmu kanuragan, muncul persoalan lain yang jauh lebih besar.

Kerajaan Singhasari kedatangan utusan dari Kubilai Khan, penguasa bangsa Mongol. Utusan tersebut datang membawa tuntutan agar Prabu Kertanagara mengakui kekuasaan bangsa Mongol. Namun, tuntutan tersebut ditolak oleh pihak Singhasari.

Dalam perjalanan kembali, terjadi perselisihan yang kemudian menyeret Mpu Ranubhaya. Keahlian Ranubhaya dalam membuat senjata membuat pihak Mongol tertarik kepadanya.

Ranubhaya akhirnya dibawa ke negeri Tiongkok dan dipaksa membuat sebuah senjata istimewa.

Senjata tersebut kemudian menjadi Pedang Naga Puspa.

Pedang pusaka itu bukan sekadar senjata biasa. Keberadaannya kemudian menjadi sumber perebutan kekuasaan dan mengundang banyak pihak untuk mendapatkannya.

Pedang Naga Puspa Dibawa ke Tanah Jawa

Setelah menyelesaikan pembuatan pedang tersebut, Ranubhaya menyerahkan Pedang Naga Puspa kepada sepasang pendekar, Lo Shi Shan dan Mei Shin.

Keduanya kemudian membawa pedang tersebut dalam perjalanan menuju Tanah Jawa.

Namun, perjalanan mereka tidak berjalan mudah. Lo Shi Shan dan Mei Shin harus menghadapi kejaran orang-orang yang mengincar Pedang Naga Puspa.

Sesampainya di Jawa, pasangan tersebut kembali berhadapan dengan para pendekar yang menginginkan senjata pusaka tersebut. Konflik pun semakin besar dan menyeret sejumlah tokoh dari lingkungan Kerajaan Kediri.

Dalam salah satu pertarungan, Lo Shi Shan mengalami luka parah setelah terkena ilmu milik lawannya. Kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Sementara itu, Mei Shin yang kehilangan suaminya kemudian mendapatkan pertolongan dari Arya Kamandanu.

Pertemuan Kamandanu dan Mei Shin menjadi salah satu bagian penting dalam cerita Tutur Tinular I: Pedang Naga Puspa.

Perebutan Pedang Naga Puspa

Kehadiran Pedang Naga Puspa di Tanah Jawa membuat banyak pihak memburunya.

Para pendekar yang mengetahui keberadaan pedang tersebut berusaha mendapatkannya. Bagi mereka, Pedang Naga Puspa bukan hanya benda pusaka, tetapi juga memiliki nilai strategis karena kekuatan dan keistimewaannya.

Kamandanu kemudian terseret ke dalam konflik tersebut setelah membantu Mei Shin.

Di sisi lain, masalah pribadi antara Kamandanu dan Dwipangga belum benar-benar selesai. Konflik antara dua saudara itu menjadi semakin rumit karena persoalan cinta, keluarga, dan berbagai kepentingan yang mengitari Pedang Naga Puspa.

Kisah tersebut akhirnya mempertemukan persoalan pribadi Arya Kamandanu dengan konflik besar yang melibatkan kerajaan dan para pendekar.

Daftar Pemain Tutur Tinular I: Pedang Naga Puspa

Beberapa pemeran utama film Tutur Tinular I: Pedang Naga Puspa antara lain:

  • Benny G. Rahardja sebagai Arya Kamandanu
  • Baron Hermanto sebagai Arya Dwipangga
  • Yoseph Hungan sebagai Mpu Ranubhaya
  • Elly Ermawati sebagai Mei Shin
  • Lamting sebagai Lo Shi Shan
  • Aspar Paturusi sebagai Prabu Kertanagara
  • Syarief Friant sebagai Kubilai Khan

Film ini diproduksi oleh PT Kanta Indah Film dan disutradarai Nurhadi Irawan.

Fakta Menarik Film Tutur Tinular 1989

Tutur Tinular I: Pedang Naga Puspa merupakan salah satu film yang lahir dari popularitas sandiwara radio Tutur Tinular karya S. Tidjab. Cerita tersebut sebelumnya dikenal luas melalui siaran radio sebelum kemudian diadaptasi ke layar lebar.

Film 1989 ini juga menjadi bagian pertama dari rangkaian film layar lebar Tutur Tinular. Setelahnya, muncul Tutur Tinular II: Naga Puspa Kresna pada 1991, kemudian film ketiga dan keempat pada 1992.

Kisah Tutur Tinular sendiri mengambil latar masa kerajaan di Jawa, termasuk periode Singhasari hingga Majapahit, dengan cerita fiksi para pendekar yang ditempatkan di tengah sejumlah peristiwa sejarah.