PROGRES.ID, DHAHRAN — Kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran, Arab Saudi, dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal pada 13 Oktober 2026. Serangan tersebut memicu kebakaran dan merusak sejumlah lantai gedung administrasi perusahaan minyak milik negara itu, di tengah meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.
Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan serangan terhadap gedung administrasi Aramco menyebabkan kebakaran terbatas. Pihak berwenang segera menangani insiden tersebut dan memastikan tidak ada korban meninggal maupun terluka di lokasi kejadian.
Namun, laporan Reuters yang mengutip sejumlah sumber dengan pengetahuan langsung mengenai insiden itu menyebutkan kerusakan gedung lebih luas daripada keterangan awal pemerintah. Api dilaporkan menjalar ke beberapa lantai menara kantor pusat yang berada di kawasan timur Arab Saudi tersebut.
Api Dilaporkan Menjalar ke Sejumlah Lantai
Reuters melaporkan pada 14 Oktober bahwa kebakaran menyebar di sejumlah lantai gedung kantor Aramco. Tiga sumber yang mengetahui langsung kondisi bangunan menyebutkan beberapa lantai mengalami kerusakan signifikan.
Menurut laporan tersebut, api bermula di lantai kesembilan sayap selatan gedung, kemudian menyebar dari lantai keenam hingga lantai kesepuluh. Bagian atas bangunan, termasuk area yang dilaporkan menampung kantor pimpinan perusahaan, mengalami kerusakan berat.
Associated Press (AP) juga melaporkan serangan tersebut merusak kantor sejumlah pejabat senior Aramco. Informasi itu diperoleh dari dua pejabat regional yang berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang menyampaikan keterangan kepada media.
Meski demikian, tingkat kerusakan secara keseluruhan belum dapat diverifikasi secara independen oleh seluruh media yang melaporkan kejadian tersebut. Keterangan resmi Kementerian Energi Arab Saudi tetap menyebut insiden itu sebagai kebakaran terbatas di gedung administrasi.
Staf Diminta Meninggalkan Kantor Pusat
Situasi keamanan di kawasan timur Arab Saudi kembali menjadi perhatian pada 22 Oktober. Reuters melaporkan Saudi Aramco memerintahkan karyawan yang masih berada di kantor pusat Dhahran untuk meninggalkan gedung dan bekerja dari jarak jauh.
Perintah tersebut disampaikan setelah meningkatnya serangan terhadap sejumlah fasilitas dan infrastruktur di Arab Saudi. Enam sumber yang mengetahui persoalan itu mengatakan kepada Reuters bahwa instruksi tersebut merupakan evakuasi kantor pusat pertama sejak perang Iran dimulai.
Sebelumnya, sebagian karyawan non-esensial telah bekerja dari rumah setelah serangan pada pertengahan Oktober. Namun, alasan spesifik di balik perintah evakuasi terbaru belum dijelaskan secara terbuka oleh perusahaan.
Saudi Aramco tidak segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters mengenai instruksi tersebut.
Houthi Dikaitkan dengan Serangan
Kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, menyatakan telah melakukan operasi militer yang menargetkan fasilitas Aramco di Dhahran dan kilang minyak di Riyadh.
Serangan tersebut berlangsung ketika konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi kembali meningkat. Dalam perkembangan terpisah, otoritas Arab Saudi juga melaporkan serangan terhadap sejumlah sasaran lain, termasuk bandara dan fasilitas energi.
Pada 22 Oktober, Reuters melaporkan dua orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam, sekitar 15 kilometer dari Dhahran. Pada hari yang sama, Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan dua orang tewas setelah pertahanan udara mencegat sebuah drone yang berusaha menyerang fasilitas di ladang minyak Shaybah.
Rangkaian insiden tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan transportasi Arab Saudi.
Pusat Operasi Penting bagi Industri Minyak
Kantor pusat Aramco di Dhahran bukan hanya kompleks perkantoran. Reuters menjelaskan bahwa fasilitas tersebut menampung pusat operasi yang membantu perusahaan memantau jaringan pengeboran minyak darat dan lepas pantai, kilang, terminal ekspor, serta ribuan kilometer jaringan pipa.
Karena itu, serangan terhadap kompleks tersebut menimbulkan perhatian terhadap keamanan operasional perusahaan. Meski demikian, Reuters sebelumnya melaporkan kegiatan operasional Aramco tetap berjalan normal setelah serangan awal, sementara sebagian fungsi perusahaan dialihkan ke kantor global dan sejumlah karyawan bekerja dari rumah.
Hingga laporan-laporan tersebut diterbitkan, belum ada konfirmasi bahwa serangan terhadap kantor pusat menghentikan produksi minyak atau ekspor Aramco secara keseluruhan.
Dampak terhadap produksi dan distribusi minyak perlu dibedakan dari kerusakan gedung administrasi. Gangguan pada fasilitas operasional atau infrastruktur produksi dapat memengaruhi pasokan, tetapi kerusakan kantor pusat saja tidak otomatis berarti produksi minyak berhenti.
Arab Saudi Tingkatkan Kewaspadaan
Serangan terhadap kompleks Aramco terjadi ketika Arab Saudi menghadapi ancaman terhadap sejumlah fasilitas strategisnya. Pemerintah kerajaan menyatakan telah melakukan serangan terhadap lokasi peluncuran rudal milik Houthi dan mencegat sejumlah rudal balistik yang ditembakkan ke wilayahnya.
Perkembangan ini juga menjadi perhatian pasar energi global karena Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Gangguan yang meluas pada fasilitas produksi, jaringan pipa, atau terminal ekspor berpotensi memengaruhi pasokan minyak internasional.
Namun, besarnya dampak terhadap pasar akan bergantung pada skala gangguan operasional dan durasinya. Belum ada bukti dalam laporan yang ditinjau bahwa serangan terhadap kantor pusat Dhahran dengan sendirinya menyebabkan penghentian ekspor minyak Saudi.
Foto Kebakaran yang Beredar Ternyata Foto Lama
Di tengah pemberitaan mengenai serangan tersebut, Agence France-Presse (AFP) pada 25 Oktober menerbitkan pemeriksaan fakta terhadap foto yang beredar di media sosial dan diklaim memperlihatkan kantor pusat Aramco terbakar.
AFP menemukan bahwa foto itu sebenarnya menggambarkan kebakaran di fasilitas penyimpanan minyak Aramco di Jeddah pada 25 Maret 2022, setelah serangan terpisah yang dikaitkan dengan Houthi.
Dengan demikian, foto kebakaran besar yang beredar tidak dapat digunakan sebagai bukti visual kondisi gedung kantor pusat di Dhahran pada Oktober 2026. AFP juga menyatakan belum memperoleh akses untuk memverifikasi sendiri tingkat kerusakan di lokasi serangan terbaru.
Perbedaan antara laporan resmi, kesaksian sumber anonim, dan gambar yang beredar di media sosial penting diperhatikan agar informasi mengenai insiden tersebut tidak tercampur dengan peristiwa lama.

Komentar