PROGRES.ID, WASHINGTON – Dua pekan sebelum pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026, tingkat persetujuan publik terhadap Presiden Donald Trump berada di titik terendah dalam sejumlah survei besar. Angka itu menyulitkan Partai Republik, yang bergantung pada loyalis Trump untuk menjaga kendali Kongres.

Rekor Terendah di Berbagai Survei

Survei terbaru Reuters/Ipsos mencatat tingkat persetujuan Trump sebesar 31 persen, terendah dalam dua masa jabatannya, dengan 66 persen responden tidak setuju. Survei itu dilakukan pada 16–19 Oktober terhadap 1.679 orang dewasa, dengan margin kesalahan 2,4 poin persentase.

Hasil serupa muncul dari lembaga lain. Survei Washington Post-ABC News-Ipsos, NBC News, dan Fox News masing-masing menempatkan persetujuan Trump di 33, 34, dan 36 persen, yang merupakan rekor atau titik terendah masa jabatan kedua di tiap survei. Dalam jajak ABC/Post, 52 persen warga menyatakan sangat tidak setuju, setara dengan level setelah serangan 6 Januari dan tertinggi di masa jabatan kedua.

Angka tidak seragam di semua lembaga. Survei Napolitan News Service pada Oktober menemukan persetujuan 41 persen dan ketidaksetujuan 58 persen, meski kelompok yang “sangat setuju” turun ke 19 persen, terendah dalam serinya. Perbedaan metodologi dan populasi responden, misalnya orang dewasa umum dibanding pemilih terdaftar, ikut memengaruhi selisih tersebut.

Ekonomi Jadi Titik Lemah

Isu yang dulu menjadi andalan Trump kini menjadi kerentanan terbesarnya. Dalam jajak ABC/Post/Ipsos, 28 persen menyetujui penanganan ekonomi oleh Trump dan 70 persen tidak setuju, rekor terendah dan tertinggi di kedua masa jabatannya. Untuk biaya hidup, persetujuan hanya 21 persen di survei Post dan 27 persen di survei NBC. Survei NBC juga mencatat persetujuan 29 persen untuk penanganan perang dengan Iran.

Imigrasi menjadi isu terbaik Trump, tetapi tetap hanya 38 persen yang setuju dan 61 persen tidak setuju.

Dukungan Basis Mulai Retak

Dukungan di kalangan Republikan masih dominan, tetapi menurun. Fox dan NBC menempatkan persetujuan di kalangan Republikan di 76 persen, sementara Post mencatat 79 persen. Menurut Post, angka itu turun signifikan dari 88 persen pada awal masa jabatan kedua.

Di antara pemilih independen, persetujuan hanya 21 persen dalam survei NBC. Kelompok yang bergeser ke Trump pada 2024 juga menjauh: persetujuan di kalangan pria di bawah 30 tahun 28 persen, dan di kalangan Latin 31 persen.

Ada pula tanda perpecahan internal. Survei Post menemukan 37 persen Republikan dan independen pro-Republikan ingin pimpinan partai membawa GOP ke arah berbeda dari Trump, level tertinggi sepanjang masa. Fox mencatat persetujuan 95 persen di kalangan Republikan yang mengaku MAGA, tetapi hanya 47 persen di kalangan non-MAGA.

Dampak pada Perebutan Kongres

Pemilu paruh waktu biasanya menjadi referendum terhadap presiden yang sedang menjabat. Demokrat unggul 8 hingga 10 poin atas Republikan di antara pemilih terdaftar dalam tiga survei besar tersebut. Dalam jajak NBC Decision Desk, 71 persen warga dewasa menilai AS berada di jalur yang salah, dan 55 persen pemilih terdaftar akan memilih kandidat Demokrat di distrik mereka.

Di medan Senat, Cook Political Report menempatkan Alaska, Iowa, Kansas, Maine, Michigan, Ohio, dan Texas sebagai pertarungan tipis, dan menurut Civiqs, persetujuan Trump negatif di ketujuh negara bagian itu. Di Maine, tempat Senator Susan Collins menjadi satu-satunya Republikan yang maju di negara bagian yang dimenangi Demokrat pada 2024, Civiqs mencatat 30 persen warga menyetujui Trump dan 63 persen tidak setuju.

Jurus Trump dan Sikap Gedung Putih

Di tengah tekanan itu, Trump menjanjikan pembayaran 5.000 dolar AS jika Republikan menang pada pemilu paruh waktu 2026. Gedung Putih, menurut analisis Newsweek, menekankan peran Trump sebagai pemimpin Partai Republik dan berargumen bahwa rekam jejaknya akan memotivasi koalisi partai. Trump sendiri pernah mengkritik survei-survei semacam ini.