PROGRES.ID, WASHINGTON — Perseteruan politik antara mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Presiden Donald Trump kembali memanas menjelang pemilu paruh waktu AS pada 3 November 2026. Obama melancarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Trump dalam kampanye di Ohio dan Michigan pada Sabtu (24/10), sebelum Trump membalas melalui media sosial dengan menyebut pendahulunya sebagai presiden yang tidak kompeten.

Pertukaran kritik tersebut menjadi bagian dari persaingan politik yang semakin intens menjelang pemilihan anggota Kongres. Partai Demokrat berusaha merebut kembali kendali Kongres, sedangkan Partai Republik berupaya mempertahankan posisinya di tengah perdebatan mengenai biaya hidup, perang dengan Iran, kebijakan tarif, dan kontroversi pemerintahan Trump.

Reuters, Associated Press (AP), The Washington Post, NBC News, dan ABC News menyoroti kembalinya Obama ke panggung kampanye sebagai salah satu perkembangan penting dalam persaingan politik menjelang pemilu.

Obama Sebut Pemerintahan Trump Penuh Kekacauan dan Korupsi

Dalam kampanye di Cleveland, Ohio, dan Detroit, Michigan, Obama mengkritik berbagai kebijakan pemerintahan Trump. Ia menyoroti kenaikan biaya hidup, perang dengan Iran, kebijakan tarif terhadap Kanada, serta renovasi sejumlah bagian Gedung Putih yang menjadi perhatian publik.

Menurut laporan Reuters pada 24 Oktober, Obama menggambarkan pemilu paruh waktu sebagai kesempatan bagi pemilih untuk menciptakan mekanisme pengawasan terhadap pemerintahan Trump.

Di Detroit, Obama menyerukan pertanggungjawaban pemerintah dan mengajak warga memberikan suara untuk membatasi kebijakan yang menurutnya merugikan masyarakat.

Mantan presiden dari Partai Demokrat itu juga menuding pemerintahan Trump terlalu sibuk dengan proyek renovasi dan penampilan Gedung Putih, sementara persoalan ekonomi serta kebijakan luar negeri membutuhkan perhatian lebih besar.

The Washington Post melaporkan bahwa Obama bahkan menyindir dekorasi bernuansa emas dan rencana pembangunan ruang pesta di Gedung Putih. Kritik tersebut menjadi bagian dari upayanya menggambarkan prioritas pemerintahan Trump sebagai sesuatu yang tidak sejalan dengan persoalan yang dihadapi warga.

Obama juga menyoroti perang dengan Iran. Ia berpendapat konflik tersebut justru memperbesar pengaruh Iran terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang penting bagi perdagangan minyak dunia.

Pernyataan mengenai perang dan dampaknya terhadap ekonomi itu merupakan penilaian politik Obama. Pemerintah Trump memiliki pandangan berbeda mengenai tujuan dan hasil kebijakan militernya.

Trump Membalas, Sebut Obama Tidak Kompeten

Trump tidak tinggal diam setelah pidato Obama. Dalam unggahan di media sosial, presiden dari Partai Republik itu menyebut Obama sebagai presiden yang sangat tidak kompeten dan kembali mengkritik kesepakatan nuklir Iran pada masa pemerintahan pendahulunya.

Trump juga menyerang Abdul El-Sayed, kandidat Demokrat untuk Senat dari Michigan yang mendapat dukungan Obama. Dalam unggahannya, Trump menggunakan sejumlah label negatif terhadap El-Sayed, termasuk tuduhan yang mengaitkannya dengan ekstremisme.

Tuduhan tersebut tidak disertai bukti yang mendukung label tersebut dalam pemberitaan ABC News. El-Sayed sendiri menjadi sasaran kritik dari kubu Republik karena pandangan progresif dan identitas agamanya.

ABC News melaporkan pada Senin (26/10) bahwa serangan Trump muncul sehari setelah Obama berkampanye untuk El-Sayed di Detroit. Trump juga menyoroti kebijakan Obama terhadap Iran, dengan mengulangi kritik lama mengenai kesepakatan nuklir yang dicapai pada 2015.

Perseteruan ini memperlihatkan bagaimana persaingan politik AS tidak hanya berpusat pada kebijakan saat ini, tetapi juga pada warisan pemerintahan sebelumnya. Trump kerap menjadikan kebijakan era Obama sebagai pembanding untuk membela pendekatan pemerintahannya sendiri.

Obama Turun Gunung untuk Membantu Demokrat

Keterlibatan Obama dalam kampanye kali ini bukan sekadar upaya mengkritik Trump. Demokrat berharap popularitas mantan presiden tersebut dapat meningkatkan antusiasme pemilih menjelang pemungutan suara.

Di Ohio, Obama berkampanye untuk kandidat gubernur Demokrat Amy Acton dan calon Senat Sherrod Brown. Di Michigan, ia tampil bersama El-Sayed, yang menghadapi kandidat Republik Mike Rogers dalam persaingan menuju Senat AS.

Menurut NBC News, Obama secara khusus mengkritik iklan kampanye Vivek Ramaswamy, kandidat gubernur Republik di Ohio, yang menampilkan ibu dari rivalnya, Amy Acton. Iklan itu memicu kontroversi karena mengangkat persoalan keluarga dan pengalaman traumatis masa lalu.

Kritik terhadap iklan tersebut tidak hanya datang dari Demokrat. Sejumlah tokoh Republik di Ohio juga menyampaikan keberatan terhadap penggunaan persoalan pribadi keluarga dalam kampanye.

Di Michigan, Obama berusaha membela El-Sayed dari serangan yang menyasar latar belakang agama dan pandangan politiknya. Ia membandingkan pengalaman kandidat tersebut dengan serangan terhadap dirinya pada masa lalu, ketika Trump mempertanyakan tempat kelahirannya.

Obama mengingatkan bahwa tuduhan mengenai identitas seseorang tidak seharusnya menggantikan perdebatan tentang kebijakan dan rekam jejak kandidat.

Pemilu 3 November Menjadi Ujian bagi Kedua Partai

Pemilu paruh waktu AS pada 3 November akan menentukan komposisi baru Kongres, termasuk persaingan untuk kursi DPR dan Senat. Hasilnya dapat memengaruhi kemampuan Trump menjalankan agenda pemerintahannya pada sisa masa jabatan.

Reuters melaporkan bahwa Demokrat berusaha memanfaatkan kekhawatiran pemilih terhadap biaya hidup dan kebijakan pemerintahan Trump. Sementara itu, Partai Republik berupaya mempertahankan dukungan dengan membela agenda presiden dan menyerang kebijakan Demokrat.

Sejumlah jajak pendapat yang dikutip media AS menunjukkan Demokrat memiliki peluang untuk merebut kembali DPR, tetapi persaingan di Senat diperkirakan lebih ketat. Hasil akhir tetap bergantung pada suara pemilih di setiap negara bagian dan distrik.

Karena itu, kemunculan Obama di Ohio dan Michigan memiliki nilai strategis. Ia merupakan salah satu tokoh Demokrat yang masih mampu menarik perhatian besar, terutama di kalangan pemilih partai tersebut.

Trump, di sisi lain, terus menempatkan dirinya sebagai pusat kampanye Republik. Ia meminta pemilih memandang pemilu paruh waktu sebagai penilaian terhadap kepemimpinannya, sehingga hasil pemilihan akan menjadi indikator penting bagi kekuatan politiknya.

Perseteruan Lama yang Kembali Menjadi Panggung Politik

Hubungan politik Obama dan Trump telah diwarnai pertentangan sejak Trump memasuki panggung politik nasional. Trump berulang kali mengkritik kebijakan Obama, terutama terkait imigrasi, Iran, dan proses penyelidikan terhadap kampanye Trump pada 2016.

Pada Mei 2026, The Washington Post melaporkan bahwa Trump membagikan unggahan media sosial yang menyerukan penangkapan Obama dan menuduhnya melakukan pengkhianatan tanpa memberikan bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

Perseteruan terbaru memperlihatkan bahwa konflik antara keduanya tetap menjadi bagian dari dinamika politik AS, bahkan ketika Obama tidak lagi memegang jabatan pemerintahan.

Namun, perbedaan keduanya bukan hanya persoalan pribadi. Kritik Obama berpusat pada kebijakan dan perilaku pemerintahan Trump, sedangkan Trump menggunakan serangan terhadap Obama untuk membela rekam jejaknya dan mempertanyakan kebijakan pemerintahan Demokrat sebelumnya.

Dengan pemilu yang tinggal beberapa hari, pertukaran serangan itu berpotensi terus mendominasi pemberitaan. Yang akan menentukan dampak politiknya bukan hanya kerasnya pernyataan kedua tokoh, melainkan apakah pesan mereka mampu memengaruhi keputusan pemilih pada 3 November.