Waspada Virus Nipah, Ini Urutan Gejala yang Bisa Muncul dari Hari ke Hari

favicon progres.id
ilustrasi virus
Ilustrasi virus (Unsplash.com)

PROGRES.ID – Kemunculan kembali virus Nipah di India, tepatnya di wilayah Benggala Barat, kembali memicu kekhawatiran global. Virus zoonosis ini diketahui menular dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai reservoir utama. Penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi—seperti getah kurma mentah—serta melalui kontak antarmanusia.

Yang membuat virus Nipah menjadi ancaman serius adalah kemampuannya menyebar cepat setelah terjadi penularan dari manusia ke manusia, disertai tingkat kematian yang sangat tinggi, dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen. Bahkan satu kasus saja kerap cukup untuk mendorong negara-negara meningkatkan status kewaspadaan.

Mengapa Virus Nipah Dianggap Sangat Mematikan?

Berbeda dengan banyak penyakit infeksi lain, hingga saat ini belum tersedia obat antivirus maupun vaksin khusus yang digunakan secara luas untuk menangani virus Nipah. Penanganan medis pun masih bersifat suportif, berfokus pada perawatan intensif dan pengendalian gejala.

“Virus Nipah tergolong sangat berbahaya karena tingkat fatalitasnya yang tinggi, yakni antara 40 hingga 75 persen. Selain itu, sejumlah penyintas juga melaporkan komplikasi neurologis jangka panjang,” ujar Dr Ashutosh Kumar Garg, ahli anestesi dan perawatan klinis di Rumah Sakit Kailash Deepak, India, dikutip dari Times of India.

Ia menambahkan, absennya terapi spesifik membuat deteksi dini dan kewaspadaan menjadi kunci utama dalam menekan dampak penyakit ini.

Masa Inkubasi yang Mengelabui

Virus Nipah tidak langsung menimbulkan gejala setelah seseorang terpapar. Masa inkubasi umumnya berlangsung 4–14 hari, namun dalam sejumlah kasus, virus dapat “bersembunyi” lebih lama.

“Dalam kondisi tertentu, virus Nipah bisa tetap tidak aktif hingga 45 hari. Ini menjadi fase diam yang berbahaya karena penderita merasa sehat, padahal virus sedang berkembang di dalam tubuh,” jelas konsultan neurologi dari Rumah Sakit Yashoda, Hyderabad.

Setelah fase inkubasi berakhir, penyakit ini biasanya berkembang melalui dua tahap utama, yakni fase awal yang menyerupai flu dan fase lanjutan yang jauh lebih serius.

Tahapan Gejala Infeksi Virus Nipah

Pada fase pertama, gejala infeksi virus Nipah sering kali tampak seperti penyakit umum sehingga mudah terlewatkan. Penderita dapat mengalami demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, nyeri otot, sakit tenggorokan, mual, hingga muntah.

“Pada tahap awal ini, infeksi Nipah kerap disalahartikan sebagai influenza atau bahkan COVID-19,” ungkap Dr Bharat, salah satu dokter yang menangani kasus serupa.

Namun kondisi dapat memburuk dengan cepat ketika memasuki fase kedua, yang menjadi tahap paling berbahaya. Di fase ini, virus mulai menyerang sistem saraf pusat.

“Virus Nipah memiliki kecenderungan kuat untuk menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak,” tegas Dr Bharat.

Pada tahap ini, pasien bisa mengalami pusing berat, rasa mengantuk berlebihan, penurunan kesadaran, serta kebingungan terhadap orang, waktu, dan tempat. Gangguan pernapasan, termasuk pneumonia, juga dapat muncul bersamaan.

Dalam kasus yang lebih parah, pasien dapat mengalami kejang yang tidak terkontrol. Bahkan, koma dapat terjadi hanya dalam 24 hingga 48 jam setelah gejala neurologis mulai terlihat. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *