PROGRES.ID – Klaim kemenangan Israel atas Iran tak lebih dari ilusi. Di berbagai lini, serangan terhadap Iran justru menjadi kekalahan paling pahit dalam sejarah militer Israel.
Serangan Israel ke Iran yang didukung Amerika Serikat—termasuk serangan ke fasilitas nuklir—berakhir dengan hasil sebaliknya: Iran justru keluar sebagai pihak yang bertahan kuat, bahkan makin solid secara internal.
Rencana Lama yang Gagal Total
Serangan terhadap Iran bukanlah keputusan mendadak. Operasi ini telah dirancang selama bertahun-tahun, dengan infiltrasi agen-agen Mossad dan penggunaan drone bersenjata. Banyak mata-mata yang direkrut dari pengungsi korban perang AS di Afghanistan yang memasuki Iran.
Target awal adalah para pemimpin militer dan ilmuwan nuklir Iran. Bahkan, upaya pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, gagal karena keberadaannya tidak terlacak. Alih-alih menimbulkan kekacauan internal, serangan tersebut justru membuat rakyat Iran bersatu membela pemerintah mereka.
Serangan Balasan Iran Menghantam Balik
Iran merespons dengan serangan drone dan rudal yang intens dan meningkat setiap harinya. Sistem pertahanan udara Israel gagal menahan gempuran ini. Pada hari ke-12, rudal Iran menghantam kota Beersheba (Bir al Saba’) di wilayah pendudukan Naqab secara besar-besaran, merusak ribuan bangunan, termasuk kementerian dan institusi riset strategis Israel.
Fakta bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendesak gencatan senjata menjadi bukti bahwa pihaknya tidak mampu mengendalikan keadaan. Gencatan ini bahkan tidak diformalkan secara resmi—hanya menjadi kesepakatan diam-diam bahwa Israel akan berhenti menyerang jika Iran juga berhenti.
Dampak yang Justru Menguatkan Iran
Alih-alih membuat Iran hancur, perang ini justru memperkuat posisinya. Serangan yang menewaskan lebih dari 600 warga sipil dan melukai hampir 5.000 orang, termasuk anak-anak, tidak menggoyahkan pemerintahan Iran. Penghancuran gedung-gedung apartemen mirip dengan kekejaman yang terjadi di Gaza dan Beirut.
Kekejaman tersebut juga menghantam kredibilitas faksi pro-Barat di Iran. Harapan tentang keruntuhan rezim dan kembalinya keluarga Shah ke tampuk kekuasaan ternyata hanya isapan jempol media.
Reaksi Dunia Internasional
Di luar lingkaran sekutu perang seperti AS, Inggris, Uni Eropa, Kanada, dan Australia, dunia melihat jelas ketidakadilan serangan ini. Bahkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) membuka pintu legitimasi bagi agresi tersebut melalui laporan pada 31 Mei yang menyebut Iran tidak lagi sepenuhnya patuh terhadap JCPOA, kesepakatan nuklir 2015.
Rafael Grossi, Direktur IAEA, mengakui bahwa lokasi pengayaan uranium Iran mungkin telah dipindahkan, tetapi tidak memiliki data konkret. Hal ini mengindikasikan bahwa Iran sudah lama kehilangan kepercayaan terhadap IAEA, yang dianggap lebih berpihak pada kepentingan negara-negara Barat dan Israel.
Standar Ganda Dunia Terhadap Israel
Sejak 1979, AS telah memberlakukan berbagai sanksi terhadap Iran, termasuk sanksi maksimal yang diluncurkan oleh Donald Trump setelah menarik AS keluar dari JCPOA pada 2018. Sementara itu, Israel yang diyakini memiliki ratusan senjata nuklir tetap lolos dari sanksi internasional meski berkali-kali melanggar hukum internasional, termasuk dalam isu Palestina.
Ironisnya, negara-negara Barat justru menuding Iran sebagai ancaman perdamaian Timur Tengah, padahal Iran belum pernah memulai perang sejak diserang Irak pada 1980. Bandingkan dengan Israel yang tak pernah berhenti berperang dan telah menewaskan puluhan ribu orang sejak berdirinya Republik Islam Iran.
Kegagalan Strategi dan Propaganda Trump
Meski awalnya mengaku tidak terlibat, Trump kemudian mengakui partisipasi AS dalam serangan terhadap Iran. Ia bahkan menyebut dirinya “menyelamatkan” Ayatollah Khamenei dari kematian. Klaim bahwa fasilitas nuklir Iran “dihancurkan total” ternyata hanya bualan. Iran mengakui adanya kerusakan serius, tetapi berhasil memperbaiki situs Fordow hanya dalam beberapa hari.
Dengan target utama yaitu kehancuran total fasilitas nuklir gagal tercapai, maka serangan AS dan Israel dinilai sebagai kegagalan strategis. Bahkan, posisi Trump sebagai presiden anti-perang dipertanyakan, karena justru menyeret AS ke konflik besar.
Dunia Mulai Membuka Mata
Genosida di Gaza dan agresi terhadap Iran semakin membuka mata dunia terhadap karakter kolonial dan brutal dari zionis Israel. Israel kini dianggap sebagai bangsa yang paling dibenci secara global karena kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya secara terang-terangan.
Serangan udara ke tenda pengungsi dan pembunuhan warga yang antre makanan di pusat bantuan yang dipalsukan menjadi bukti kebrutalan baru dalam sejarah genosida. Médecins Sans Frontières (MSF) menyebut tindakan ini sebagai “pembantaian yang disamarkan sebagai bantuan kemanusiaan.”
Pukulan Politik Terakhir: Kemenangan Zohran Mamdani

Sebagai pukulan simbolis terakhir bagi Israel, masyarakat New York memilih Zohran Mamdani—seorang Muslim keturunan India kelahiran Uganda—sebagai kandidat Wali Kota dari Partai Demokrat. Mamdani adalah pendukung gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) dan secara terbuka menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida.
Untuk seorang Muslim pro-Palestina bisa memenangkan nominasi di kota dengan populasi Yahudi terbesar di luar Tel Aviv, ini merupakan pertanda kuat bahwa opini publik global mulai bergeser drastis. Survei terbaru menunjukkan hanya 46% warga Amerika yang bersimpati pada Israel, terutama generasi muda yang semakin kritis terhadap kebijakan luar negeri AS.
Penutup
Dari segala sudut pandang, klaim kemenangan Israel atas Iran sangat tidak berdasar. Kekalahan ini adalah salah satu yang paling memalukan dalam sejarah militer Israel. Meski perang dihentikan, tak diragukan bahwa Israel tengah menyusun rencana baru untuk kembali menyerang Iran. Tapi kali ini, dunia telah melihat siapa sebenarnya yang menjadi agresor.












